
Hari ini hari dimana Revin yang menjadi ketua OSIS akan di gantikan oleh adik kelasnya. Salah satu siswa yang menurut Revin dan juga para Guru tepat menggantikannya.
Revin sudah menyerahkan jabatannya sebagai ketua OSIS dengan adik kelasnya. Begitu juga anggota OSIS lain yang memang sudah saatnya di gantikan.
"Pulang sekolah kita ngumpul di ruang OSIS dulu ya. Kabarin yang lain juga." kata Revin pada teman-temannya.
"Mau ngapain Rev.?" tanya Aldi.
"Kita akan bahas acara untuk kelulusan bersama dengan anggota OSIS baru." jawab Revin.
"Tugas kita sebagai anggota OSIS kan udah selesai. Acara untuk kelulusan nanti kita serahkan aja ke anggota OSIS baru." kata Mia.
"Betul banget tuh. Ngapain sih kita harus repot-repot ngurusin key gituan. Ini tuh udah waktunya kita untuk happy-happy sebelum perpisahan." tambah Fani.
"Kita emang udah jadi mantan anggota OSIS tapi nggak ada salahnya kan klo kita bantu adik kelas yang masih membutuhkan bantuan kita. Setidaknya sebelum kita meninggalkan sekolah ini. Kita mengajarkan hal-hal penting dalam menjadi anggota OSIS. Dan juga memberikan masukan untuk acara nanti agar berjalan sukses." jelas Revin.
"Oke lah klo begitu. Tapi untuk acara nanti gue nggak mau terlibat di atas panggung lagi ya." pinta Fero.
"Kenapa.?" tanya Vino.
"Lu tau sendiri lah. Gue nggak mau di perpisahan ini membuat mereka susah move on dari gue. Dengan wajah tampan dan suara merdu gue ini yang akan membuat mereka semakin jatuh cinta ke gue." jawab Fero begitu percaya diri.
Mia bergidik geli mendengar perkataan Fero. "Idih pede sangat lu. Yang ada juga mereka pada berharap lu nggak usah terlibat di atas panggung lagi. Karena itu akan merusak momen bahagia kita semua." sungut Mia.
"Sialan lu." umpat Fero. Dan di balas Mia dengan menjulurkan lidahnya.
"Untuk acara nanti gue juga belum tau siapa yang akan terlibat. Kita akan bahas dan meminta pendapat dari semua anggota OSIS. Termasuk anggota OSIS yang baru." kata Revin.
Seperti yang di ucapkan Revin. Pulang sekolah mantan anggota OSIS dan anggota OSIS baru berkumpul di ruang OSIS.
"Semua sudah berkumpul belum.?" tanya Revin.
"Sudah." jawab mereka serentak.
"Oke. Langsung aja ya biar cepat karena mengingat waktu kita sudah sangat mepet. Untuk acara nanti apa kah kalian mempunyai pendapat? Menurut kalian apa yang ingin kita persembahkan untuk acara kelulusan nanti.?" tanya Revin.
"Klo menurut gue sih. Seperti kemarin-marin aja. Dari anggota OSIS mempersembahkan sebuah lagu untuk menghibur mereka juga." jawab Doni.
"Klo itu mah udah pasti lah. Kalian ada solusi lain lagi gak. Supaya dapat suasana baru lagi gitu. Ketos baru punya masukan yang lain nggak.?" tanya Aldi.
"Gimana setelah bernyanyi kita adakan dance." usul Baim ketos baru.
"Boleh juga tuh. Di sekolah kitakan ada anggota dance. Gimana klo kita meminta mereka untuk bergabung di acara nanti." kata Fani.
"Emang waktunya cukup ka untuk mereka latihan.?" tanya Priska waketos.
"Kita suruh aja mereka pakai gerakan yang sudah mereka hafal. Jadi mereka nggak butuh waktu banyak untuk menghafal gerakannya." jawab Mia.
"Tumben Siti Jubaedah pikirannya jalan." ledek Fero.
"Anjirr. Nama gue cantik-cantik pengen lu ganti aja. Dasar Maryono nggak ada akhlak." sungut Mia kesal sambil memukul pundak Fero.
Yang lainnya hanya geleng-geleng kepala dan menahan tawa melihat kelakuan dari kedua manusia itu.
Vina memutar kedua matanya malas. "Kalian berdua,bisa nggak ribut dulu? Kita lagi serius ini." kata Vina yang bosan melihat kedua temannya yang selalu saja cekcok.
"Sorry." kata Fero dan Mia bersamaan.
"Yang pasti bukan gue." kata Ragil.
"Emang klo lu kenapa Gil.?" tanya Fani.
"Beehhh. Klo si Ragil yang nyanyi di atas panggung. Yang ada nanti tuh panggung bisa roboh karena mendengar suaranya si Ragil yang super fals." ledek Doni sambil tertawa.
"Anjir lu tuh ya klo ngomong." kata Ragil kesal. "Suka benar hahaha." lanjut Ragil tergelak tawa. Mereka semua pun ikut tertawa.
"Dasar setres." celetuk Aldi.
Revin hanya menggelengkan kepala. "Jadi sekarang gimana? Nggak ada yang mau kasih masukan lagi gitu.?" tanya Revin memastikan mereka semua.
Mereka hanya mengedikan pundaknya tanda tidak tahu. Seketika mereka menatap ke arah Jani yang sedari tadi hanya diam mendengarkan saja.
Jani menaikkan alisnya. "Apa? Ko kalian jadi lihat ke gue.?" tanya Jani yang aneh dengan tatapan mereka.
"Dari tadi lu diam aja. Kasih masukan dong." kata Fani.
"Tau lu Jan. Jangan diam aja sebagai waketos. Gue tau lu punya konsep untuk acara nanti kan.?" tanya Vino.
"Nggak usah sotoy lu." jawab Jani ketus.
"Yaudah sih Jan. Nggak ada salahnya juga kan lu kasih masukan untuk acara nanti. Emangnya lu nggak kasihan tuh sama adik kelas kita. Mereka tuh masih membutuhkan solusi dari kita para seniornya." jelas Vina.
Jani hanya memutar kedua matanya malas. "Huffttt.. Sebenarnya gue ada masukan sih. Tapi gue ragu kalian akan setuju. Dan gue sendiri pun nggak yakin." kata Jani.
"Lu yang punya ide. Lu juga yang nggak yakin. Minta gue timpuk nih anak." kata Mia yang gemas dengan perkataan Jani.
π§ββοΈ Author : Yang sabar ya untuk Mia. Sahabat mu yang satu kan memang seperti itu kelakuannya susah di tebak πβ
Vina memutar kedua matanya malas. "Gimana kita mau setuju lu aja belum cerita. Emang rencana lu apa.?" tanya Vina.
"Apa mungkin lu pengen gue nyanyi di atas panggung berdua sama Fani ya.!" tebak Ragil.
"Dih. Males banget gue duet sama lu." ketus Fani.
"Jangan ketus key gitu Fan. Nanti endingnya lu bucin sama si Ragil baru tau rasa." goda Mia.
"Udah pernah liat sepatu melayang belum.?" tanya Fani.
"Hehehe canda Fan galak amat si lu." kata Mia.
"Kenapa perasaan gue key gini sih. Nggak mungkin kan gue cemburu sama dia." kata Fero dalam hati.
"Udah-udah kenapa kalian jadi pada ribut sih." kata Revin menengahi.
Mereka pun terdiam tidak melanjutkan perdebatannya.
"Jadi rencana lu apa Jan.?" tanya Vina.
Jani pun menceritakan rencananya yang akan di persembahkan untuk acara nanti.
"Jadi gitu." kata Jani di akhir cerita. "Terserah kalian sih mau terima masukan gue silakan. Kalian nggak terima masukan gue juga nggak apa-apa." lanjut Jani dengan wajah dingin.
π§ββοΈ Author : Ternyata benar apa kata Mia. Si Jani emang minta di timpuk π€ Tapi aku atut ama babang Revin πππ