
Kebahagiaan benar-benar terasa dalam pernikahan Vean. Hari-hari mereka sejak kepulangan Yuki terasa lebih menyenangkan lagi. Pagi dan sore harinya, Dhea akan menjemur baby Yuki di depan rumah, yang tentu saja menjadi pusat perhatian para tetangga rempong mereka.
Kamar Yuki dipenuhi dengan mainan. Untung saja Yuki masih tidur dengan orang tuanya.
"Kalian berdoa kapan menyusul? Lihat tuh, Dhea sudah punya anak. Pasti akan lebih ramai lagi kalau kalian juga segera menikah dan memberikan mama cucu-cucu yang lucu," ucap Bianca dengan mata berbinar-binar.
Arya dan Juna menghela nafas. Mereka belum berpikir untuk menikah.
"Calon mertua, ini calon menantu bawakan kue," ucap Fio.
Arya dan Juna memutar mata mereka.
Ibu mertua? Memangnya siapa yang akan menjadi suaminya?
"Tenang saja ibu, Fio akan segera memberikan cucu untuk ibu. Ibu mau berapa? Dua, tiga, empat?"
Arya dan Juna yang sudah merasa pening dengan perkataan Fio, langsung minggat dari sana.
...💦💦💦...
Vean sedang memandikan Yuki. Pertama kali memandikan anaknya itu, dia takut. Bagaimana kalau tanpa sengaja, dia membuat patah tulang rapuh Yuki? Bagaimana kalau ada sabun atau sampo yang masuk ke dalam mata anaknya?
Atau, bagaimana kalau tangannya tergelincir dan menyebabkan anaknya tenggelam di dalam bak bayi?
Vean pelan-pelan mengangkat Yuki dan langsung menyelimuti tubuh mungil itu dengan handuk tebal yang sangat lembut. Daddy Mida itu juga memberikan minyak telon, dan bedak, dan memilihkan baju untuk anaknya itu.
Dhea?
Dilarang melakukan apa pun, seperti yang pernah Vean katakan dulu. Cukup duduk manis menunggu dia mengurus anak mereka.
"Anak Daddy wangi banget." Vean mencium pipi Yuki.
"Mommy juga wangi." Pria itu juga mengecup pipi Dhea.
"Wangi apaan, aku kan belum mandi, Kak ... Hubby."
"Hubby?"
"Iya, Kak Hubby."
"Ayo, kita duduk di taman depan. Pasti nanti para uncle dan aunty ngasih mainan lagi buat Yuki."
Ya, setia hari, Alstom ada saja yang tetangga mereka—yang tak lain adalah sahabat mereka—berikan untuk Yuki atau Dhea.
Keluarga Vean dan Dhea juga akhirnya tinggal di sana. Mereka tidak mau jauh dari cucu mereka, apalagi suasana di lingkungan ini sangat menyenangkan, sangat kekeluargaan.
Kedua orang tua Vean tinggal di rumah yang dulu Dhea tempati. Sedangkan orang tua Juna tinggal bersama Juna, kadang di rumah Arya yang hanya bersebelahan saja.
"Dhea, kapan mau nambah anak lagi?" tanya Fio.
"Jangan macam-macam, Fio! Cukup satu saja, harus disyukuri!"
Vean benar-benar sensi kalau ada yang membahas soal Dhea yang hamil lagi.
Cukup satu, yang penting sehat dan bahagia
Vean tidak mau selalu ketakutan saat Dhea mengandung, ditambah proses melahirkan yang menegangkan.
"Biar gak sepi, kan gak enak jadi anak tunggal. Banyak tuntutan. Harus ini harus itu, belajar bisnis, dan melepaskan impian," ucap Fio, membuat suasana menjadi hening.
Tentu saja itu keluhan dan curhatan sekaligus.
Vean, Juna dan Fio yang merasakan semua itu.
"Apa pun yang Yuki impikan, aku akan mendukungnya. Dia harus mewujudkan impiannya," ucap Vean dengan lirih.
Ini bukan soal Vean.
Tapi ini soal Dhea.
Dhea yang gagal mewujudkan impian menjadi seorang dokter karena dirinya.
Meski Dhea mengatakan ini sudah keputusannya dan dia tidak pernah menyesal, tapi lain bagi Vean.
Tetap saja di lubuk hatinya, dia merasa bersalah.
Jadi, Daddy janji akan membantu Yuki mewujudkan impian Yuki.