
"Akal-akalan si Jani aja kali itu mah. Biar bisa lanjut diet." ledek Mia untuk memanas-manasin Revin.
"Biar bisa lanjut diet. Apa biar bisa satu sendok berdua sama Revin." timpal Vina.
"Mana ada. Lu pada cobain aja nih klo nggak percaya." elak Jani tidak terima.
"Iih ogah.. Sendoknya bekas lu sama Revin. Nanti yang ada gue ketularan." gidik Mia.
"Lu kata gue penyakitan. Emang siapa yang suruh lu pake sendok gue. Makannya pake sendok lu lah." sungut Jani. "Dasar ogeb." umpat Jani.
"Ngomongnya ya.. Sekali lagi ngumpat seperti itu gue cium." ancam Revin.
"Ishh,,dasar cowok mesum." ketus Jani.
Dan hal itu membuat teman-temannya menahan tawa.
"Udah makan.. Itu nggak pedas." kata Revin.
"Nggak mau... Itu pedas Rev." tolak Jani dengan nada memohon.
"Makan." paksa Revin dengan tatapan mematikan.
Jika Revin sudah mengeluarkan tatapan itu memang tidak ada yang berani membantah. Jani pun pasrah dan memaksakan makan nasi goreng itu walau sesekali ia tersedak. Karena harus makan nasi goreng sepedas itu. Jani memang suka pedas tapi kalau untuk nasi goreng Jani tidak bisa pedas. Walau kata mereka itu tidak pedas tapi menurut Jani itu pedas.
Jani ingin menolak untuk memakannya. Tapi melihat tatapan tajam Revin pada dirinya. Entah mengapa ia mengingat momen di masa lalunya. Sehingga tubuhnya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
"Lu makan apaan ka sampe keringetan gitu.??" tanya Juna yang baru datang.
Juna melihat piring yang ada di hadapan Kakaknya. 'NASGOR' Lalu ia pun berganti melihat Kakaknya yang sudah di penuhi dengan keringat di wajahnya. Serta dengan tubuhnya yang bergetar.
"Jangan di makan." seru Juna mencegah Jani untuk memakannya dan ia jauhkan nasi goreng itu dari Jani.
Hal itu membuat mereka terperanjak kaget dan bengong melihat reaksi Juna yang wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Ikut gue." ajak Juna yang langsung menarik tangan Jani dan pergi dari restauran itu. Tanpa permisi dengan teman-teman Kakaknya.
"Eh,,Kalian mau kemana.??" seru Mia.
"Si Juna kenapa tuh. Sampe segitunya.??" tanya Aldi yang merasa aneh dengan perilaku Juna pada Kakaknya.
Revin hanya diam melihat kepergian Juna dan Jani. Sebenarnya ia masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia merasa ada yang tidak beres. Tapi apa???
"Lu bawa obatnya.??" tanya Juna setelah masuk mobil dan langsung mengendarai mobilnya.
Jani hanya membalas dengan menggelengkan kepalanya lemah. Seluruh badannya sudah di penuhi dengan keringat.
"Shiit.." umpat Juna seraya memukul setir mobil.
"Udah tau nggak bisa makan nasi goreng pedas. Kenapa lu masih makan sih ka." kata Juna marah dengan nada tinggi.
Jani terperanjak kaget mendengar Juna berbicara pada dirinya dengan nada tinggi. Karena baru kali ini Juna berbicara nada tinggi dengan dirinya. Sebenarnya Juna tidak marah tapi ia hanya khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan Kakaknya.
"Kita ke rumah sakit sekarang." ajak Juna.
"Jangan." cegah Jani cepat dengan nada lemah dan menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak mau lu kenapa-napa ka... Klo sampai Mamah dan Papah tahu pasti mereka akan sangat marah." jelas Juna yang semakin khawatir dengan keadaan Kakaknya sekarang.
Jani memegang lengan Juna yang sedang menyetir. "Mamah sama Papah nggak akan marah klo nggak ada yang kasih tahu mereka. Kita pulang ke rumah aja ya.. Gue nggak papa kok... Pliiiss.!!" mohon Jani.
"Huuffttt.. Oke... Gue akan memanggil dokter untuk datang ke rumah dan lu harus mau di periksa." kata Juna dan di anggukan oleh Jani.
Setelah mereka sampai rumah. Tidak lama kemudian Dokter pun datang dan langsung periksa keadaan Jani. Setelah selesai periksa dan memberikan obat yang harus di minum oleh Jani. Juna mengantarkan Dokter ke depan rumahnya.
"Dokter." gumam Revin yang baru tiba di halaman rumah Jani.
Revin keluar dari dalam mobil dan berpapasan dengan Dokter yang juga tersenyum pada dirinya. Ia pun membalas tersenyum Dokter itu.
"Bang Revin ada apa ke sini?? Sorry banget ya tadi gue langsung pergi saja tanpa berpamitan ke kalian semua." kata Juna yang merasa tidak enak.
"Kenapa ada Dokter? Siapa yang sakit.??" tanya Revin tanpa menghiraukan perkataan Juna.
"Hmmm... Itu--"
"Jawab gue Jun siapa yang sakit.??" potong Revin cepat.
"Ka Jani." jawab Juna.
*Deg*
Jantung Revin berdetak kencang kala mendengar nama Jani yang sakit. Ia pun langsung berlari masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar Jani. Juna mengikuti Revin dari belakang.
*Deg*
Lagi-lagi jantungnya berdetak kencang kala ia melihat Jani yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Di dalam fikiran Revin bertanya-tanya. Kenapa bisa seperti ini? Baru saja wanita ini makan bersama mereka dan sekarang apa? Ia melihat Jani yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
Revin masih terpaku di tempat ia berdiri di depan pintu kamar Jani. Ia menatap tanpa berkedip ke arah Jani yang sedang terbaring dan memejamkan matanya.
"Ka Jani nggak bisa makan nasi goreng pedas." kata Juna yang sudah berada di belakang Revin.
"Tapi di sekolah dia makan bakso pedas." kata Revin mengingat Jani yang makan bakso pedas di kantin sekolah.
"Untuk makanan yang lain dia memang bisa makan pedas. Tapi jika untuk nasi goreng pedas dia akan jadi seperti ini." jelas Juna.
"Kok bisa.??" tanya Revin menatap Juna.
"Entahlah.. Padahal sebelum kejadian waktu itu. Ka Jani suka banget makan nasi goreng,,apa lagi yang pedas."
"Maksud sebelum kejadian itu apa.??"
"Huuufffttt... Sorry gue nggak bisa jelaskan. Karena yang lebih pantas untuk menjelaskan adalah dia." kata Juna seraya melirik ke arah Jani. "Nanti bang Revin tanyakan langsung saja ke ka Jani." lanjut Juna.
"Tolong tinggalkan kami berdua." pinta Revin tanpa melihat ke arah Juna. Pandangannya terfokus ke arah Jani.
Dan di anggukan oleh Juna. Setelah Juna meninggalkannya. Perlahan Revin mendekati tempat tidur Jani dan ia pun duduk di sebelah tempat tidur. Revin menatap lekat wajah Jani yang terlelap dan wajahnya memang terlihat pucat. Bahkan masih ada tersisa keringat di wajah Jani.
"Kenapa jadi seperti ini? Baru saja kita bersama dan sekarang gue lihat lu terbaring lemah seperti ini." gumam Revin yang masih menatap wajah Jani lekat.
Seketika ia mengingat kejadian di masa lalunya.
π§ββοΈ Author : Masa lalu,,biarlah masa lalu. Jangan kau ungkit,,jangan ingatkan aku πβ
Revin : Nggak usah nyanyi lu thor. Suara key curut aja nyanyi π
π§ββοΈ Author : Eh buset dah. Si Revin klo ngomong... Suka benar π€£π€
Revin : Sudah jangan berisik,,ganggu aja. Sekarang tugas lu bangunin si Jani. Gue nggak mau melihat dia terkulai lemah seperti ini.
π§ββοΈ Author : Cih... Tadi ngatain gue. Sekarang minta bantuan ke gue... DALAM MIMPIMU π KABUUURRR π€£π€£