
Brak,,
Jani memejamkan matanya karena Sarah menggebrak meja di hadapannya. Alasannya masih sama,yaitu menyalahkan Jani karena mencari perhatian pada Revin. Padahal Jani sama sekali tidak memiliki niat seperti itu.
"Udah gw peringatin berkali-kali,jauhin Revin!!" bentak Sarah.
"Lo nggak berhak ngatur-ngatur gw." ucap Jani datar.
"Apa lo bilang? Nggak berhak? Gw berhak karena gw yang pantes buat Revin. Bukan lo!" ucap Sarah emosi seraya menunjuk-nunjuk Jani.
"Revin nggak suka sama lo,jadi lo..."
*P**lakk*,,
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Jani. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengeluh.
"Kenapa? Sakit?" tanya Sarah dingin.
Jani hanya diem,enggan untuk menjawab pertanyaan Sarah. Toh juga semua yang ia katakan selalu salah.
Wajah Sarah semakin geram melihat Jani yang tidak menjawab pertanyaannya. Ia mendekatkan dirinya ke arah Jani. Kemudian ia menjambak rambut panjang milik Jani.
"Arrgghh,," rintih Jani saat Sarah menarik kuat rambutnya.
"Sakit? Lo bisa rasain sakit? Jawab gw!" bentak Sarah.
Mulut Jani masih tertutup. Ia berusaha menahan rasa pening di kepalanya.
"Jauhin Revin,jangan pernah deketin dia lagi! Revin itu buat gw,bukan buat cewek murahan kayak lo!" bentak Sarah dengan nada tinggi.
Saat ini memang mereka sedang berada di gudang sekolah. Jadi tidak akan ada orang yang mengetahuinya.
"Jangan pernah deketin ataupun cari muka sama Revin lagi!" setelah itu Sarah keluar dari gudang dan membanting pintu gudang dengan sangat keras.
Runtuh sudah pertahanan Jani,ia tak lagi dapat membendung air matanya.
Jani melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah dua puluh menit dari bel pulang sekolah.
Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Sebelum keluar ke tempat parkiran sekolah,Jani menyempatkan diri untuk membersihkan wajahnya.
Tampak jelas rona merah di pipinya. Perlahan ia mulai merapihkan rambutnya kembali. Selesai dengan acara bersih-bersih,Jani segera menuju area parkiran mobil.
Langkahnya ia buat senormal mungkin. Ia sangat benci jika ada orang yang mengatakannya lemah apa lagi cengeng. Seterpuruknya apa pun kondisi Jani,ia akan sebisa mungkin menutupinya.
Sebelum balik ke rumah,Jani memutuskan untuk mampir ke minimarket dulu. Ia belanja camilan-camilan untuk ia makan di rumah.
Saat ia sedang berjalan menuju parkiran mobil,tiba-tiba ada seseorang yang menabrak dirinya dari samping.
"Aduh maaf ya nak. Tante nggak sengaja!" ucap wanita itu.
"Iya nggak papa Tante." ucap Jani sopan seraya tersenyum.
Jani memperhatikan wanita itu,ia melihat wanita itu terus memegangi keningnya.
"Tante nggak papa?" tanya Jani khawatir.
"Nggak papa nak. Kepala Tante hanya pusing sedikit." jawab wanita itu.
"Tante ke sininya sama siapa?" tanya Jani.
"Sendiri nak" jawab wanita itu.
"Tante saya anter pulang yah!" ajak Jani lembut.
"Nggak usah nak. Tante nggak mau ngerepotin kamu!" tolak wanita itu.
"Nggak ngerepotin kok Tan. Lagi pulakan saya yang menawarkan diri,untuk mengantar Tante pulang. Tante mau ya?" ajak Jani lembut seraya tersenyum manis.
"Ya udah deh kalo kamu mau mengantarkan Tante pulang." ucap wanita itu.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit,mobil mewahnya Jani sampai di satu rumah megah yang hampir sama seperti rumahnya. Hanya saja rumah itu lebih megah dari rumahnya.
"Terimakasih ya nak udah mau nganterin Tante! Mampir dulu yuk ke dalam?" tawar wanita itu.
"Iya sama-sama Tante. Lain kali ya saya mampir,sekarang saya harus balik ke rumah. Saya pamit ya Tante!" ucap Jani sopan sambil mencium punggung tangan wanita itu.
"Ya udah,kamu hati-hati di jalan ya nak!" ucap wanita itu seraya tersenyum hangat.
Jani pun masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Setelah sepuluh menit,mobil mewahnya sampai di depan rumahnya.
Jani langsung memarkirkan mobilnya di garasi. Sebelum ia turun,ia mengambil beberapa camilan yang tadi ia beli di minimarket. Jani berjalan memasuki rumahnya dengan satu kantong plastik di tangan kanannya.
Saat baru memasuki rumah,Jani mendengar suara perbincangan dari dalam. Ia yakin suara itu suara cowok.
Tanpa berfikir panjang,Jani tetap melangkah masuk. Ia fikir suara itu adalah suara teman sekelasnya. Mungkin saja Juna mengajak mereka ke rumah.
Tanpa menoleh ke ruang tengah,Jani langsung melangkah mendekati tangga. Namun langkahnya terhenti saat mendengar namanya di sebut.
"Habis dari mana Jan?" tanya seseorang.
Jani sedikit terkejut,karena ia hafal dengan suara itu. Saat ia menoleh,ternyata benar. Yang memanggilnya tadi adalah Vina dan di ruangan itu bukan hanya ada Vina. Tapi juga ada teman-teman kelasnya terutama Revin.
"Kenapa lo baru sampe rumah?" tanya Vino.
"Tadi gw mampir ke minimarket dulu." jawab Jani.
Jani pun duduk di sebelah Revin,karena tempat yang kosong hanya ada di sebelah Revin. Mau tidak mau ia duduk bersebelahan dengan Revin.
"Nih camilan,tadi gw baru beli." ucap Jani sambil menyerahkan sekantong plastik camilan pada teman-temannya.
"Thank's Jan" ucap Fero dan Aldi bersamaan.
"Jangan sering-sering Jan. Ntar mereka makin pada betah maen ke rumah lo." ucap Fani.
"Sirik aja lo. Yang punya rumahnya aja woles." kata Fero.
"Udah nggak usah pada ribut. Lagian juga gw seneng kok,kalo kalian sering maen ke rumah gw." ucap Juna.
"Tuh dengerin yang punya rumah ngomong." seru Aldi. Fani pun hanya memutar bola mata males.
"Kak,tadi lo di cariin bang Devan!" ucap Juna. Jani hanya diem tidak menanggapi ucapan adiknya itu.
"Devan siapa Jan?" tanya Mia kepo.
"Yang waktu itu di perpus." jawab Jani males tanpa menoleh ke temannya. Ia masih menatap layar handphone nya.
"What? Jadi cowok keren yang nemuin lo waktu itu,namanya Devan?" tanya Fani heboh dan di bales dengan anggukkan oleh Jani.
"Kira-kira dia mau ngapain ya cariin lo?" tanya Vina. Jani hanya mengedikkan bahunya.
"Mau nembak si Jani kali." celetuk Aldi yang sedang memainkan games PS nya tanpa menoleh.
Revin yang sedang memakan camilannya pun tersedak. Karena mendengar ucapan temannya itu.
"Pelan-pelan bang kalo makan." ucap Juna yang baru saja memberikan air minum untuk Revin.
"Tau lo Rev. Lagian nggak ada yang mau ngambil makanan lo." timpal Fero.
"Revin itu bukannya takut makanannya di ambil. Tapi dia itu takut gebetannya di ambil orang." cibir Vino.
"Lo punya gebetan Rev? Siapa ceweknya? Kok lo nggak cerita-cerita ke kita sih!" ucap Fero.
"Tuh di sampingnya." kata Vino seraya melirik ke seseorang yang di samping Revin.
Mereka yang melihat tatapan Vino,ikut melirik ke arah seseorang yang berada di samping Revin.