Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
202 Tips


"Vean, ini sudah malam."


"Terus?"


"Kamu gak masuk? Malam pertama loh, Vean."


Vean memasang wajah datar, padahal dia sudah deg-degan.


"Nih, aku kasih tips." Salah seorang temannya yang sudah menikah, memberikan banyak tips pada Vean. Masalahnya, yang mendengar bukan hanya Vean saja, tapi juga para jomblo lainnya.


Malah mereka yang pengen!


"Sialan, aku yang tegang ini, mah!"


Mereka tertawa, dan melanjutkan obrolan lagi. Ada yang sudah menikah, ada juga yang masih jomblo, ada yang sudah jadi duda.


Tidak jauh berbeda dari teman-teman Dhea. Di sana ada yang sudah menikah dan memberikan tips untuk pengantin perempuan itu.


"Kamu sudah pernah nonton film, belum?"


"Film? Sering dulu, sama Fio."


"Film produksi anak?"


"Bukan, keseringan nonton Drakor."


"Ck, Dhea mana mungkin ada waktu. Dia mah belajar terus, kan."


"Iya juga, ya. Nih, aku kasih tips."


Kerumunan perempuan itu bisik-bisik. Masalahnya, ada juga yang masih jomblo.


Dhea mengusap wajah Fio.


"Jangan dibayangin, Fio!"


Fio cengar-cengir saja, dan mereka tertawa. Obrolan kembali di lanjutkan dengan pembicaraan yang membuat wajah sebagian perempuan merah.


"Ck, kami ini masih polos. Belum menikah."


"Tapi masih perawan, gak?"


Belum menikah, tapi masih perawan atau tidak, cukup diri masing-masing yang tahu. Tidak ada juga yang tersinggung, karena itu hanya candaan saja.


"Kamu ngerti, Dhea?"


"Teori sama praktek beda, loh," ucap teman lainnya, yang juga sudah menikah.


"Pernikahan Dhea ini lebih meriah ternyata, ya."


"Iya juga, ya."


Saat teman-temannya yang lain menikah, tidak seramai ini. Bukan hanya karena pestanya yang memang besar. Tapi juga karena semuanya datang. Bahkan yang ada di luar negeri, bela-belain datang untuk menjadi saksi acara sakral ini. Mungkin karena kisah mereka yang bagi mereka luar biasa.


Di acara teman yang lain, ada yang tidak datang karena melahirkan, ada di luar kota atau luar negeri.


"Nanti kalau aku menikah, semoga yang lain juga datang."


"Iya, kapan lagi kita bisa berkumpul kaya begini. Malah sekarang ada yang mendapatkan jodoh, semoga lanjut sampai ke pelaminan, ya."


"Aamiin," jawab mereka semua.


...💦💦💦...


Dhea dan Vean masuk ke dalam kamar mereka, dengan perasaan yang campur aduk. Begitu pintu ditutup, keduanya malah merasa aneh.


"Sepi, ya?"


"Ho'oh. Biasanya kita dikintilin terus sama mereka."


"Main congklak yuk, Kak."


Vean tertawa sambil mengacak gemas rambut Dhea.


Begitu pintu kamar mandi ditutup, Vean langsung menghela nafas, dia merasa gugup. Bagaimana pun juga, dia dan Dhea belum pernah ada di dalam kamar berdua saja. Kalau berdua saja di rumah, itu pernah. Itu juga pintu selalu terbuka lebar dan mereka duduk di ruang tamu.


"Kak, jangan lama-lama, nanti keriput."


Hampir saja Vean tersedak pasta gigi yang ada di dalam mulutnya. Memang selalu ada saja yang diucapkan oleh istrinya itu.


Lima menit kemudian Vean keluar kamar.


"Apa yang kamu pegang itu?" tanya Vean.


Dhea langsung menyembunyikan apa yang dia pegang di belakangnya.


"Bukan apa-apa."


"Kita sudah menikah. Tidak boleh main rahasia-rahasiaan. Ayo jujur!"


"Nih, Kak." Dhea langsung menunjukkan apa yang dia pegang.


Ada selusin lingerie, yang memang sudah ada di sana.


"Ada di atas kasur, di dalam kotak ini. Aku pakai yang mana, Kak? Ini yang ngasih siapa ya, Kak?"


Vean berdehem.


"Buruan mandi, sudah malam."


Begitu Dhea selesai mandi, Vean langsung sok sibuk.


"Kak, aku lagi datang bulan. Jadi tips dari teman-teman Kak Vean, belum bisa direalisasikan."


Wajah Vean semakin merah.


"Kamu nguping, ya?"


"Dih, aku kan juga punya teman, Kak. Masa tadi mereka cerita ...."


Vean langsung membekap mulut Dhea.


"Ya ya ya, stop! Bobo, bocil enggak boleh bergadang."


Mereka akhirnya tertawa. Dhea memang bisa mencairkan suasana. Gadis itu lalu memeluk Vean dan mereka akhirnya tidur.


Pagi harinya, Vean tersenyum saat membuka mata dan melihat ada Dhea dalam pelukannya. Dia lalu memeluk Dhea semakin erat.


Saat sarapan di restoran hotel.


"Vean, bagaimana?"


"Ya ampun kalian ini. Masih di sini semua?"


"Gimana, sudah malam pertamanya?"


"Dih, kepo."


"Sebisa mungkin memiliki anak secepatnya, Vean. Biar hubungan kalian semakin erat."


Ya, Vean ingin memiliki banyak anak, laki-laki dan perempuan.


"Dhea, gimana, gimana?"


Sama saja, teman-teman sekolah Dhea itu juga ternyata ikut menginap di sini.


"Kalian menginap di sini semuanya?"


"Kami baru pada bubar menjelang subuh. Ya anggap saja hiburan. Kan tidak setiap hari bisa seperti ini. Kita juga kadang jenuh dengan pekerjaan dan kurang liburan."


Dhea mengangguk paham. Mereka memang anak-anak orang kaya yang dituntut untuk melakukan pekerjaan dengan lebih lagi.


"Iya, anggap saja kita piknik. Besok sudah harus bekerja lagi. Mikirin saham dan sebagainya."