
Vean tiba di loby, dan melihat keramaian di jalanan utama depan perusahaan. Mobil banyak yang berhenti, begitu juga dengan orang-orang yang berkerumun.
"Ada apa, Pak?" tanya Vean pada salah satu sekuriti perusahaannya.
"Ada tabrak lari, Pak."
Vean menghela nafas, mungkin ini yang menyebabkan Dhea terlambat.
Aku susul saja deh, ke depan.
Vean berjalan dengan cepat, melihat jalanan yang padat dan suara klakson yang membuat bising.
Vean melihat mobil Dhea terparkir tidak jauh dari situ.
Itu dia.
Vean tersenyum, lalu mendekati mobil itu dan mengetuk kaca jendelanya.
Tidak ada yang membuka pintu mobil itu. Dicobanya lagi, tetap saja tidak ada yang membuka.
"Dhea?" panggil Vean.
Dia jadi teringat, dulu juga Dhea menolong dia dan Fio saat kecelakaan, mungkin saja kali ini Dhea juga sedang membantu korban kecelakaan itu.
Vean mencoba menghubungi Dhea, karena cukup sulit mencari di tengah keramaian seberang jalan itu. Vean mendengar suara ponsel Dhea yang berbunyi di dalam mobilnya, meski terdengar samar. Tidak ada pilihan lain, dia harus menerobos kerumunan itu untuk mencari calon istrinya.
Deg
Jantung Vean berdetak kencang saat melihat sosok yang dia cari telah tergeletak bersimbah darah.
"Sayang? Dhea Sayang, bangun! Bangun!" Vean memeluk tubuh Dhea dengan erat.
Rasanya seperti dejavu.
"Sayang, bangun! Jangan tinggalkan aku!"
Beberapa karyawan Vean yang melihat itu, langsung berlari ke perusahaan.
Candra yang tiba di loby, tidak melihat Vean ada di sana.
Apa sudah kembali ke atas bersama Dhea?
"Kamu lihat anak saya?" tanya Candra pada sekuriti.
"Tadi tuan Vean ke depan, Tuan."
"Itu ada apa ramai-ramai?"
"Ada tabrak lari, Tuan."
Candra menghela nafas. Mendengar berita tentang tabrakan, membuat dia jadi teringat akan kecelakaan Vean, dan itu membuatnya takut.
"Kalau anak saya kembali, katakan saya tunggu di atas."
"Baik, Tuan."
"Tuan, Tuan Candra!"
"Ya, ada apa?"
"Itu, Tuan. Tuan Vean ada di sana!"
Pria itu menunjukkan arah kecelakaan.
"Apa maksud kamu? Bukan anak saya yang kecelakaan, kan?"
"Bukan, Tuan. Tapi orang yang tuan Vean kenal. Seorang perempuan bernama ... Lea, Gea apa Dhea, ya?"
"Apa?"
Candra langsung berlari ke lokasi kecelakaan. Mereka mengikuti bos mereka, siapa tahu saja nanti dibutuhkan.
"Vean? Dhea?" teriak Candra.
Tidak lama kemudian ambulans datang, dsn langsung membawa Dhea. Vean ikut masuk ke dalam ambulans tanpa mempedulikan siapa pun.
"Cepat ambil mobil. Antar saya ke rumah sakit sekarang!"
Candra juga langsung menghubungi dokter Bram.
"Ya?"
"Kamu stand by di rumah sakit sekarang! Dhea kecelakaan lalulintas. Vean ikut bersama ambulans."
"Apa? Baiklah."
Bram segera menghubungi Juna dan Arya.
"Bersiap di loby UGD! Dhea kecelakaan lalulintas!"
"Apa? Baiklah."
Mereka bertiga menunggu di loby. UGD sudah disiapkan oleh perawat yang diutus.
Sirene mobil ambulans mulai terdengar, ketiganya terlihat gelisah. Vean yang turun lebih dulu, dengan baju bernoda darah.
"Cepat!"
Arya dan Vean hanya bisa menunggu di depan UGD. Sepuluh menit kemudian, yang lain datang.
"Bagaimana bisa Dhea kecelakaan?"
Vean tidak menjawab. Dia sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa Dhea kecelakaan, padahal mobilnya ada di seberang jalan.
Setengah jam sudah berlalu, tapi pintu belum juga terbuka.
"Dhea tidak akan kenapa-kenapa, kan?"