
Saat ini Vean, Arya dan Juna sedang berkumpul di apartemen Vean, karena memang mereka tinggal bertiga.
"Ar, aku mau menikahi Dhea."
"Terus?"
"Ck, kenapa kamu dan Vean itu sama saja? Maksudnya Vean, dia mau menikahi Dhea setelah kembali ke Jakarta."
"Kalau begitu kamu harus langsung bertemu dengan ibu panti. Beliau adalah wali kami. Dsn aku sebagai kakaknya, jadi kamu juga harus meminta doa restu dariku. Kalau aku enggak setuju, kalian tidak boleh menikah!"
Juna menahan senyumannya, melihat wajah Vean yang kesal.
"Aku juga kakaknya, kalau ...."
"Cih, kakak ketemu gede. Belum tentu juga diakui."
Kali ini Juna yang cemberut.
"Aku kan sama Dhea mirip, jangan-jangan jodoh!"
"Kamu sama Arya mirip, jangan-jangan jodoh!" balas Vean.
"Berarti kami bertiga mirip, jangan-jangan jodoh?"
Terserah, lah!
...π¦π¦π¦...
Dhea melihat beberapa bahan yang ada di dalam butiknya. Ada beberapa bahan yang cocok dengan model gaun yang ingin dia buat.
"Gimana gaun yang akan diluncurkan Minggu depan?" tanya Dhea pada asistennya yang bekerja di negara ini.
"Tidak ada masalah, Nona. Tapi sepertinya permintaan pelanggan akan meningkat. Terutama untuk pakaian musim dingin."
"Setiap musim pasti permintaan akan berubah. Apa kita membutuhkan karyawan baru?"
"Kalau bisa, nona menambah tiga karyawan lagi untuk ditempatkan di bagian pelayanan."
"Kalau begitu kamu buka lowongannya."
...π¦π¦π¦...
Ibu panti sedang membuka-buka data anak-anak panti bertahun-tahun yang lalu. Ibu panti cukup hapal siapa saja anak-anak yang masuk di tahun berapa, tapi tentu saja dia juga harus memastikan lagi.
Di antara anak-anak itu, ada yang masih berada di panti asuhan, ada yang sudah keluar beberapa tahun yang lalu, ada yang sudah diadopsi sejak kecil, bahkan ada juga yang sudah meninggal. Ada yang sudah menikah, ada yang masih lajang.
Banyak, dan ibu panti tidak mau sampai salah data.
...π¦π¦π¦...
"Apa? Apa kamu menghamili Dhea?"
"Makasih Pa, idenya. Akan aku lakukan secepatnya."
"Ngawur!"
"Papa lebih ngawur lagi."
"Kamu sudah bicarakan ini dengan Dhea?"
"Belum. Apa aku kasih kejutan saja, ya, Pa? Pulang-pulang langsung nikah, kaya lamaran waktu itu?"
"Iya, terus dia kabur gara-gara gak siap. Bisa-bisa empedu kamu keluar dari tempatnya."
"Papa! Lama-lama Papa kaya Juna. Jangan-jangan kami anak yang tertukar."
"Hahaha. Kenapa kamu dadakan gini mau menikah dengan Dhea?"
"Aku takut, Pa. Nanti Dhea dibawa pergi oleh keluarganya."
"Keluarga? Memangnya mereka sudah bertemu?"
"Belum."
"Terus, kenapa tiba-tiba bicara begitu? Dhea itu calon mantu kesayangan papa sama Mama. Tidak ada yang boleh membawa dia pergi!"
"Calon mantu kesayangan! Dulu aja, ngebet banget nikahin aku sama Fio. Jangan bilang, 'Sudah lupa, tuh!'"
"Hahaha, mama kamu sama mamanya Fio, tuh."
"Papa bilang sama Mama. Oya, bilang juga tuh sama teman-temannya Mama, jangan rempong jadi orang."
"Kenapa?"
"Dhea dihina, katanya anak pelacur dan segala macam."
"Hah? Kurang ajar. Biar nanti papa yang urus mereka. Biar papa bikin pesta meriah sekalian. Paling-paling nanti mereka tambah iri."
"Sekalian, Pa, kasih hadiah buat Dhea sebagai menantu pilihan."
"Iya. Kamu tenang saja."
"Ya sudah, pokoknya aku cuma mau bilang, kalau aku mau menikah Dhea secepatnya. Aku enggak mau kehilangan Deja lagi."
"Kamu tenang saja, tidak akan ada orang yang boleh memisahkan kalian lagi."