
Jani yang sedang menatap layar handphone nya,ia merasa di perhatikan oleh teman-temannya.
"Ngapain kalian liatin gw kayak gitu?" tanya Jani bingung.
Mereka yang di tanya hanya tersenyum dan kembali menatap Revin.
"Mantap Rev,pepet terus jangan kasih kendor." seru Aldi.
"Bener banget tuh,jangan lama-lama ntar keburu di tikung orang duluan." timpal Fero.
"Asalkan kalo udah jadian jangan lupa aja makan-makannya." kata Mia.
Revin merasa bahagia karena mendapat dukungan dari teman-temannya. Sedangkan Jani yang tidak tahu obrolan mereka,ia hanya mengabaikannya dan memainkan handphone nya.
"Eh Jan,ada yang suka tuh sama lo!" seru Fani. Jani masih diem tidak merespon ucapan sahabatnya itu.
"Gw sih cuma mau kasih tau lo Rev. Kuat-kuatin aja ya sama cewek dingin ini." ucap Vino. Jani masih fokus dengan handphone nya.
Revin hanya menganggukkan kepala dan tersenyum dengan ucapan temannya itu. Sedangkan Juna yang merasa kesal karena melihat kakaknya terlalu cuek. Tiba-tiba terlintas di benaknya untuk mengerjai kakaknya itu,sehingga membuat ia tersenyum licik.
"Kak awas ada kecowa!!" seru Juna seraya menunjuk ke arah kaki kakaknya.
"aaaaa... Manaa!!" teriak Jani histeris sambil mengangkat kakinya ke atas sofa dan dengan reflek ia memeluk Revin.
"Ciiieee... Yang udah berani peluk-pelukkan." sindir Fani
"Sepertinya akan ada pasangan baru nih!" cibir Vina.
Mendengar ucapan sahabatnya itu,Jani pun melepaskan pelukkannya. Ia menatap tajam ke arah adiknya yang tanpa berdosanya ketawa bahagia.
"Elo.. Dasar adik durhaka." ucap Jani marah sambil melempar bantal sofa ke muka adiknya dan lemparannya tepat sasaran.
"Lagian lo dari tadi handphone mulu yang di perhatiin kak." ucap Juna kesel.
"Lah terus gw harus memperhatikan lo gitu? Iih ogah banget." ucap Jani sinis.
"Ckk,,kalian itu ya dari dulu nggak bisa akur. Nggak bosen apa ribut mulu!" ucap Vino.
"Tau nih si kembar kagak ada akur-akurnya banget." timpal Vina.
"Dia duluan" ucap Jani seraya memanyunkan bibirnya.
Revin yang melihat ekspresi Jani berubah,ia hanya bisa tersenyum.
"Lah nih cewek lucu juga." -batin Revin seraya tersenyum.
Sedangkan teman-temannya yang lain masih memperhatikan kelakuan dari si kembar itu.
"Emangnya mereka berdua sering begitu Vin?" tanya Aldi pada Vino.
"Ya gitu deh" jawab Vino.
"Asal kalian tau ya,setiap mereka ribut begitu. Pasti selalu Vino dan gw yang jadi penengah mereka. Terkadang kita tuh mikir,apa jadinya jika mereka berdua selalu bareng begini!" ucap Vina.
"Bisa hancur nih kota sama mereka berdua." celetuk Mia tertawa dan mereka yang mendengar pun ikut tertawa. Sedangkan Jani hanya memutar mata males.
"Anjir gw baru tau. Selama ini yang gw tau si Jani ini cewek dingin di sekolah." ucap Fero.
"Iya. Dan yang lebih parahnya si cewek dingin ini takut sama kecowa." seru Aldi dan di akhiri dengan ketawa.
"Gw nggak takut." sarkas Jani.
"Lah terus tadi apa tuh? Sampe peluk-peluk Revin pula." ucap Mia.
"Tadi itu gw cu-cuma reflek." ucap Jani gugup.
"Reflek apa udah mulai ada perasaan?" goda Fani seraya menaik turunkan alisnya.
"Kalo suka bilang aja kak. Tenang gw pasti restuin hubungan kalian berdua kok." timpal Juna yang langsung mendapat tatapan tajam dari kakaknya.
"Udah-udah jangan pada godain dia terus. Liat tuh wajahnya si Jani udah merah gitu." ucap Vina seraya tersenyum.
"Yah,dia ngambek" ucap Fani.
Revin yang menatap punggung Jani yang mulai menjauh,ia hanya tersenyum miring.
"Secepatnya lo akan jadi milik gw selamanya." -batin Revin seraya tersenyum.
Mereka semua pun melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Sampai waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mereka pun pamit pulang dan kembali ke rumah mereka masing-masing.
\* \* \*
Sesuai dengn isi surat yang di kirimkan Revin pagi tadi. Jani sekarang tengah menuju ke gudang belakang sekolah. Meski awalnya sedikit ragu karena Revin memilih tempat yang sangat jarang di kunjungi siswa. Namun Jani berusaha mengilangi fikiran negatifnya sejauh mungkin.
Langkahnya semakin cepat mengingat kondisi belakang sekolah sangat sepi. Bahkan hampir tidak ada siapa pun di sekitar tempat tersebut.
Pandangan Jani menyapu ke sekitar dan menemukan gudang yang berada di ujung,dengan pintu yang terbuka. Jani pun segera masuk ke dalam gudang tersebut.
Satu hal yang ada di benak Jani saat ini. Mengerikan. Dan itu sudah buat ia mengingat kejadian waktu dulu,yang pernah ia alami.
Berkali-kali Jani menelan ludahnya demi menutupi ketakutan pada dirinya. Hanya ada kursi dan meja-meja tua yang tidak terpakai dan sedikit berdebu yang mungkin belum sempat di bersihkan.
"Rev..." panggil Jani,namun tak ada jawaban sama sekali.
"Revin... Lo dimana?" panggil Jani lebih keras lagi. Tapi hasilnya tetap sama,tak ada jawaban sama sekali.
Brak,,
Suara pintu di tutup dengan paksa membuat Jani menoleh. Namun seseorang berjalan ke arahnya.
"Rev..." ucapannya terhenti saat menyadari bahwa yang berada di hadapannya bukan Revin,melainkan orang lain.
"Kenapa? Kaget liat gw?" tanya Sarah sinis.
"Ngapain lo kesini?" tanya Jani balik.
Sarah hanya tersenyum miring di bibirnya. Membuat Jani berfikir lain.
"Buat lo jauhin Revin." ucap Sarah.
Jani semakin di buat bingung dengan apa yang Sarah katakan. Namun beberapa detik kemudian tubuhnya sudah di seret ke belakang dan di dudukkan secara paksa oleh teman-teman Sarah. Dengan cepat ke dua tangan dan kaki Jani di ikat dengan tali yang sudah Sarah persiapkan.
"Apa-apaan ini? Lepasin gw!" seru Jani yang tentu kaget dengan apa yang di lakukan Sarah and The Gank terhadapnya.
Tidak ada jawaban apa-apa dari Sarah,sampai akhirnya ke dua tangan dan kaki Jani terikat sangat kuat. Barulah Sarah berdiri di hadapan Jani dengan senyum puas.
"Setelah ini gw yakin,lo nggak akan pernah lagi deketin Revin." bentak Sarah kasar.
"Maksud lo apa?" tanya Jani tak mengerti.
"Nikmatin aja hari ini dan ucapkan selamat tinggal buat cinta busuk lo buat Revin." ucap Sarah sinis.
Sarah and The Gank kemudian pergi dari hadapan Jani dan kembali membanting pintu gudang.
"Jangan tinggalin gw sendiri di sini." seru Jani.
"Lepasin gw. Tolonggg..." teriak Jani sekeras mungkin.
Tubuh Jani semakin ketakutan. Ini adalah pengalaman ke dua seumur hidupnya yang ia alami,yang harus di sekap di tempat mengerikan seperti ini. Hanya saja yang pertama ia tidak setakut ini karena dulu sewaktu kecil ia berdua dengan seseorang dan orang itu bisa membuat ia tenang. Sedangkan saat ini ia di sekap sendiri di tempat mengerikan seperti ini.
"Tolonggg..." teriak Jani yang mulai histeris dan menangis.
"Mamah,,Papah,,tolong Jani. Jani takut di sini." ucap Jani tengah isakan tangisannya.
Jani semakin ketakutan "Revin,,tolong gw" ucap Jani lirih.
Entah kenapa harapannya hanya ada satu. Revin. Namun Sepertinya apa yang menjadi harapan Jani tak akan terwujud. Dengan tempat yang sangat sepi,akan sangat kecil kemungkinan ada siswa yang lewat. Ingin rasanya Jani berteriak,namun suaranya bahkan sudah tidak ada. Bahkan kesadarannya pun hampir hilang.
Brakk,,
Dobrakkan pintu yang sangat keras membuat ke sadaran Jani yang hampir hilang pun tersentak. Terdengar jelas langkah seseorang mendekat ke arahnya. Meski penglihatan Jani sedikit buram tapi ia tidak salah dengar.