Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
90 Janji Kelingking (Jangan Ambil Dia)


Dhea membuka matanya, samar-samar dia melihat mereka yang berkumpul di dalam kamar rawatnya. Gadis itu tersenyum.


Dulu ....


Dulu sekali saat dia masih sangat kecil ....


Dia pernah membayangkan—bahkan berharap—bagaimana rasanya menjadi seorang putri kerajaan yang dijaga oleh para pengawal dan banyak dayang.


Pasti akan sangat menyenangkan, pikirnya saat itu. Dia memimpikan memakai baju dengan banyak rumbai lebar, dan menunggu di taman bunga, menunggu pangeran menjemput dengan kuda putih.


Tapi ....


Dayang itu tidak pernah ada.


Pengawal itu tidak pernah nyata.


Dan pangeran berkuda putih itu tidak pernah datang.


Yang ada satu ini hanyalah orang-orang yang menunggunya dengan penuh rasa kasihan.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Arya.


"Tidak ada, aku hanya teringat dengan masa kecil kita. Tentang mimpi-mimpi kita. Kak, berjanjilah padaku!"


"Apa?" tanya Arya. Perasaan tidak enak, tapi dia berusaha untuk tegar mendengar perkataan Dhea.


"Kakak akan tetap mencari kedua orang tua Kakak."


"Kita akan mencari keluarga kita bersama, Dhea."


"Tidak, aku sudah lelah, dan aku sudah menyerah."


"Jangan bicara seperti itu, Dhe."


"Kalau nanti Kakak bertemu dengan mereka, jangan membenci mereka."


"Kita akan mencari keluarga kita bersama."


"Aku ... aku sudah menerima kalau keluarga aku sudah tidak ada."


"Hei, jangan berkata seperti itu." Suara Arya tercekat. Dia tidak mau mendengar perkataan pesimis dari gadis itu.


"Begini saja, kalau aku yang lebih dulu menemukan kedua orang tua aku, maka kedua orang tua aku juga akan menjadi kedua orang tua kamu. Begitu juga sebaliknya, kalau kamu yang lebih dulu bertemu dengan kedua orang tua kamu, maka kedua orang tua kamu akan menjadi kedua orang tua aku. Bagaimana?"


"Ya, baiklah."


"Janji?"


"Janji!"


"Jadi kita akan tetap menjadi saudara. Kamu adik kesayanganku, sampai kapan pun, kamu adikku." Arya merapihkan anak rambut yang ada di kening Dhea.


Pria itu mengatur nafas berkali-kali, menghembuskan nafasnya perlahan dan pelan-pelan.


Mereka hanya bisa diam mendengarkan pembicaraan Arya dan Dhea. Nafas mereka terasa sesak, dengan tenggorokan yang tercekat.


"Sekarang kamu makan dulu." Arya lalu menyuapi Dhea, mengusap bibir gadis itu, sama seperti mereka masih kecil dulu. Di mana Arya yang selalu menjaga Dhea dan adik-adiknya yang lain. Meskipun begitu, Arya memang lebih dekat dengan Dhea daripada dengan anak panti yang lain.


Dengan telaten dan sabar, Arya menyuapi Dhea.


"Gantian, aku juga mau suapi Dhea," ucap Juna.


Dokter muda itu merasa iri dengan kedekatan mereka berdua. Kalau adiknya ada, apa mungkin hubungan keduanya akan seakrab ini?


Juna berusaha tersenyum, meski matanya sudah berembun. Sedangkan Vean hanya bisa menatap, ingin ada di antara mereka, tapi atas dasar apa?


Dia seperti orang asing.


Dhea sudah tidak lagi melanjutkan makannya, meski makanan di piring itu masih banyak.


Tes


Setetes darah keluar dari hidung mancung itu. Dhea langsung mengusapnya dengan tangan bergetar, menyebabakan darah itu malah mengotori area hidungnya semakin besar.


Juna mengambil tisu, membersihkan darah dari wajah Dhea dan tangannya. Yang lain langsung memalingkan muka.


Ingin berteriak, ingin marah pada keadaan.


Ingin bertanya, kenapa harus seperti ini?


Tidakkah cukup penderitaannya selama ini?


Tidakkah cukup air matanya keluar?


Tolong hilangkan semua rasa sakitnya.


Bukan hanya sakit di fisik, tapi juga di hati.


Dhea menginginkan orang tua?


Maka mereka akan menjadi orang tua baginya. Sahabat-sahabatnya akan rela menjadikan dia saudara.


Masalahnya, hidup hanya Tuhan yang menentukan ....


Clara segera berlari keluar, dia sudah tidak sanggup lagi melihat semua itu. Di luar kamar Dhea, gadis itu terisak. Membekap wajahnya dengan kedua tangan.


Tuhan, tolong sembuhkan dia. Jangan Kau ambil dia sebelum dia merasakan kebahagiaan sejati.