Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
249 Dua Bocah


"Masuk," ucap Vean saat ruang kerjanya diketuk.


Dokter Petter dan Arya masuk ke ruangan itu.


"Loh, kalian?"


"Iya. Aku ke sini untuk melihat Faustin. Apa dia merepotkan?"


"Tidak sama sekali. Faustin bermain bersama Yuki dan sangat anteng. Sekarang mereka berdua masih tidur di dalam kamar. Pekerjaan kamu di rumah sakit, sudah selesai, Ar?"


"Sudah."


"Tunggu sebentar, sebentar lagi pekerjaan aku selesai."


"Cepat sekali."


"Ya, kalau ada Yuki, aku memang semangat, agar bisa bermain bersamanya. Dan ternyata kehadiran Faustin juga membuat Yuki sangat senang. Mereka berdua benar-benar anteng."


Tidak sampai sepuluh menit, pekerjaan Vean sudah selesai, padahal waktu masih menunjukkan pukul setengah tiga kurang. Vean menyuruh office boy untuk menyiapkan minuman dan cemilan.


Pintu terbuka ....


"Loh, kalian datang?"


"Iya, aku mengajak Stevie ke sini. Ternyata kalian juga datang, ya," ucap Dhea.


Mereka akhirnya mengobrol di dalam ruangan itu, menunggu Yuki dan Faustin bangun.


Di dalam kamarnya, Yuki terbangun dan mulai merengek. Faustin yang mendengarnya ikut terbangun dan memegang tangan Yuki lalu mengajaknya keluar.


Yuki yang matanya masih mengantuk, lari ke pelukan sang Daddy.


Tapi ....


Dia salah orang.


Yang dipeluknya ternyata dokter Petter.


Faustin yang melihat itu diam saja, tidak merasa iri sama sekali. Mereka terkekeh geli, karena Yuki merasa sangat anteng dan kembali tidur dalam pangkuan dokter Petter.


Faustin lalu duduk di atas pangkuan Vean.


"Bagaimana kalau kita ke tempat makan saja," ajak Dhea.


Dokter Petter menggendong Yuki, sedangkan Vean menggendong Faustin. Bukan hanya mereka saja. Arya, Erza dan Bagas pun diajak, karena memang sudah dekat waktunya pulang kerja. Pekerjaan sudah selesai semua, tidak akan ada yang dibawa pulang.


Mereka memiliki tempat yang ada permainan untuk anak-anak. Yuki langsung bangun begitu mendengar kata ayunan. Balita itu berlarian yang langsung dikejar oleh Faustin. Balita itu menangis saat terjatuh, dan mengeluarkan darah.


Faustin meniup-niup luka itu, lalu kembali mengajak Yuki main prosotan untuk balita.


"Faustin kalau punya adik, pasti adiknya dijaga setiap hari, ya."


"Belum kepikiran buat punya anak lagi."


Yang lain datang setelah sebelumnya dihubungi oleh dokter Petter. Meja itu sungguh berisik sekali.


Kafe yang didirikan oleh mereka ini, yang memang sengaja dibuat untuk tempat berkumpul mereka, menyediakan menu yang lengkap. Bukan hanya untuk remaja dan dewasa saja, tapi untuk balita dsn anak-anak.


Para remaja yang ada tidak jauh dari mereka, menatap kagum.


"Eh, semoga nanti kita juga bisa awet ya, pertemanannya seperti mereka."


"Mungkin mereka keluarga."


"Tapi gak semuanya mirip. Temanan itu, mah!"


Yuki mendekat saat pelayan datang mengantarkan minuman. Dia meminta jus mangga, entah punya siapa, dan duduk di atas pangkuan Felix.


Felix memberikan kentang goreng pada Yuki, dan balita itu memasukkannya ke dalam mulut Steve.


"Gemes banget, sih." Felix memeluk Yuki.


Kedua bocah itu kembali bermain. Kali ini bermain ayunan dengan tangan memegang kue.


Mereka menjadi pusat perhatian, karena adanya kedua bocah itu.


"Loh, ini bukannya anak-anak itu?" ucap salah satu pengunjung kafe.


"Mana, mana?"


"Itu, yang lagi bermain."


"Eh iya, itu mereka."


Banyak yang mulai mendekati mereka, membuat Vean dan yang lain merasa heran.