
Seketika ia mengingat sesuatu di masa lalunya.
🌷 Flashback On 🌷
"Makan." pria dewasa itu memberikan makanan pada si gadis kecil.
"Nggak mau." tolak gadis kecil dengan nada sesenggukan karena telah menangis cukup lama.
"DIAM.!!" bentak si pria.
Si gadis kecil itu semakin menangis dan ketakutan.
"Kamu fikir dengan melihat kamu menangis saya akan kasihan? Tidak."
"Saya bilang stop jangan menangis lagi karena saya tidak suka anak kecil cengeng seperti kamu." seru si pria semakin marah kala melihat si gadis kecil yang tidak berhenti menangis.
"Mamah... Papah..." lirih gadis kecil yang semakin ketakutan.
"Saya bilang stop dan makan ini." paksa si pria dewasa dengan memaksakan memasuka makanan ke dalam mulut si gadis kecil itu.
Uhuukk...uhuukk...uhuukk...
"Om jangan sakiti dia." seru anak laki-laki yang ada di ruangan itu juga.
"Kamu anak kecil nggak usah ikut campur." bentak pria dewasa pada anak laki-laki itu.
Si pria dewasa itu memaksakan lagi memberi makan pada gadis kecil.
"Nggak mau. Pedas om." kata si gadis kecil dengan menutup rapat mulutnya.
"Jangan om." cegah anak laki-laki dengan memegangi tangan si pria dewasa itu.
"Kamu menyingkirlah." seru si pria dewasa dengan menghempaskan tubuh si anak laki-laki hingga terdorong ke belakang dan terjatuh.
"Kakak.!!!" seru si gadis kecil yang langsung berlari ke arah anak laki-laki itu.
*Praanngg...*
Si pria dewasa itu membanting piring makanan itu hingga pecahan piringnya dan nasi gorengnya berserakan ke bawah. Kedua anak kecil itu pun berpelukan erat dan si gadis kecil itu semakin ketakutan.
"Kalian berdua memang merepotkan. Terserah jika kalian tidak ingin makan. Tapi jangan berharap kalian bisa keluar dari sini." kata si pria dewasa dan langsung mengunci pintu kamar itu.
"Kamu nggak papakan.??" tanya anak laki-laki.
Dan hanya di balas dengan gelengan kepala dari si gadis kecil.
"Jangan takut... Di sini ada kakak yang menemani kamu." kata anak laki-laki untuk menenangkan gadis kecil itu.
"Nisya mau Papah,Mamah... Nisya nggak mau di sini ka." ucap si gadis kecil di tengah tangisannya.
"Sabar ya.. Nanti kita akan keluar dari sini. Kamu jangan menangis lagi." kata si anak laki-laki seraya mengusap air mata yang mengalir di ke dua pipi si gadis kecil itu.
"Kalau kamu menangis cantiknya jadi hilang." goda si anak laki-laki.
"Iih,,kakak nyebelin." dengan mengkerucutkan bibirnya.
"Makanya senyum kamunya."
Si gadis kecil itu pun tersenyum manis.
"Nah gitu dong. Kalau beginikan Nisya tambah cantik." kata si anak laki-laki seraya mencolek hidung si gadis kecil itu.
🌷 Flashback Off 🌷
Revin menggenggam tangan Jani. "Maafin gue Jan." lirih Revin. "Seharusnya gue nggak memaksa lu untuk makan nasi goreng itu. Mungkin hal ini tidak akan terjadi lagi." lanjut Revin dengan menatap lekat wajah Jani.
Entah mengapa Revin semakin yakin bahwa wanita yang ada di hadapannya sekarang adalah gadis kecil yang ada bersamanya waktu penculikan di masa lalu.
Dulu Revin memang masih kecil jadi kemungkinan ingatan dia pada seseorang di masa kecilnya sangat minim. Tapi saat ia melihat foto Jani waktu kecil. Ia masih sangat mengingat wajah gadis kecil di masa lalunya.
Karena menurut dia. Hanya wajah gadis kecil itulah yang cantik dan ia menamainya 'Peri Kecil' dengan berjalannya waktu si 'Peri Kecil' itu tumbuh menjadi wanita cantik bahkan ia menamainya 'Bidadari' yang akan mewarnai setiap langkah perjalanan hidupnya di dunia ini.
"Jangan seperti ini Jan... Karena gue nggak bisa melihat lu terbaring lemah seperti ini." gumam Revin.
Tanpa ia sadari sedari tadi Juna mendengarkan semua ucapan Revin.
"Semoga Allah selalu memberikan kebahagia untuk kalian berdua." batin Juna seraya tersenyum. Ia pun kembali ke dalam kamarnya.
🌹
🌹
🌹
Setelah menempuh perjalanan cukup lama. Mobil Revin pun memasuki area parkiran sekolah. Revin dan Jani keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju kelasnya.
"OMG... Jani lu kenapa masuk sekolah? Seharusnya lu di rumah aja. Supaya bisa istirahat. Kondisi lu kan lagi sakit." kata Mia heboh saat melihat kedatangan Jani.
"Gue nggak papa." kata Jani datar. Lalu ia duduk di kursinya. "Lagian kalian tahu dari mana sih klo gue sakit.??" tanya Jani menatap mereka.
"Dari kembaran lu." jawab Vina. "Sorry ya. Karena kejadian kemarin membuat lu seperti ini." lanjut Vina dengan nada bersalah.
"Gue juga minta maaf karena gw.. Lu jadi sakit." tambah Mia.
"Kalian nggak usah pada lebay deh. Gue udah nggak papa kok. Jadi kalian nggak usah merasa bersalah." jelas Jani.
"Kantin yuk.!!" ajak Aldi.
"Kuylah." kata Fero. Mereka pun meninggalkan kelas.
"Lu tunggu di sini aja. Nanti gue yang bawain makanan lu ke sini." cegah Revin menahan lengan Jani.
Jani menghempaskan lengannya dari genggaman Revin. "Apa sih. Gue mau makan di kantin aja. Jadi lu nggak usah larang gue." tolak Jani yang langsung pergi duluan.
Revin menggelengkan kepalanya. "Dasar keras kepala." gumam Revin. Ia pun menyusul mereka.
🌺 Di Kantin Sekolah 🌺
"BTW si Fani kemana nih. Tumben banget dia belum datang.??" tanya Mia.
"Tadi dia chat gue. Klo hari ini dia izin nggak masuk sekolah dulu." jawab Vina.
"Kalian mau pada pesan apa.??" tanya Vino.
"Asiik.. Ada yang mau traktir nih." kata Aldi.
"Mana ada. Gue cuma tanya,,nggak traktir ya." kata Vino.
"Yah.. Baru juga gue senang." kata Aldi lesu.
"Lagian pikiran lu gratisan terus. Heran gue." cibir Fero.
"Yeehhh... Key lu nggak aja." ledek Mia.
"Lah gue mah orangnya simple. Ada yang traktir hayu. Nggak ada yang traktir,,ya gue paksa hahaha." kata Fero tertawa.
"Setres." celetuk Jani jengah.
"Gue mie ayam sama jus jeruk." ucap Mia.
"Gue samain aja." ucap Aldi.
"Siomay sama teh manis." ucap Vina.
"Lu apaan Jan.??" tanya Vino.
"Gue es teh manis sama bakso yang super pedas." jawab Jani.
"Nggak boleh." larang Revin tegas. "Teh manis dua sama nasi gorengnya dua. Yang satu nggak usah pakai sambal." kata Revin.
"Ish.. Lu apaan sih." kata Jani kesal.
"Lu yang apaan.. Lu belum sembuh dan sekarang lu mau makan pedas lagi.??"
"Gue udah nggak papa Rev. Lu nggak usah lebay deh. Biasanya juga gue makan bakso pedas."
"Dan lu mau kejadian kemarin terulang lagi gitu.??"
"Ckk... Gue seperti itu cuma karena klo gue makan nasi goreng pedas doang." jelas Jani yang masih tidak terima.
"Nggak ada penolakan." kata Revin tegas tidak mau di bantah.
"Dasar Revin nyebelin." ketus Jani kesal.
"Gue batagor sam---." ucapan Fero di sela duluan oleh Vino.
"Lu langsung pesan aja ke abangnya. Lu ikut gue." kata Vino yang langsung menarik tangan Fero.
"Sialan lu." umpat Fero sambil memukul pundak Vino.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menitan. Akhirnya pesanan mereka datang dan mereka pun menikmati makanannya masing-masing.