Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
82 Jalan Cerita


"Vean, tolong bujuk Arya untuk mencabut laporannya. Vean? Vean!"


"Ya?" Vean tersentak dari lamunannya, saat Fio mengguncang pundaknya.


"Tolong bujuk Arya untuk mencabut laporannya."


Vean menghela nafas. Di satu sisi, Mila adalah calon mertuanya. Di sisi lain, ada Dhea.


"Apa kamu lebih memilih calon mertua kamu dibandingkan orang yang telah mengorbankan ginjalnya hingga kamu masih bisa hidup sampai sekarang?"


Arya menyeringai.


"Lihat, seperti ini kan, yang mama kamu ucapkan? Dhea akan menyuruh aku memanfaatkan ginjal itu untuk mempengaruhi Vean? Maka akan aku kabulkan pikiran jahatnya itu."


Kedua orang tua Vean, Fio dan Ronald terdiam. Mereka tentu saja mendengar apa yang ada di video itu.


"Sekali lagi aku bilang, aku bukan Dhea yang bisa kalian manfaatkan kebaikannya. Aku, tidak akan pernah mencabut laporan itu!"


"Lihatlah, bagaimana sekarang nyonya besar yang katanya terpelajar itu mendekam di penjara karena kekerasan terhadap seorang gadis yatim piatu."


"Vean, tolong mama."


Vean memijat keningnya. Doa semakin pusing karena Arya dan Fio yang terus saja bicara.


Dia sakit kepala.


Sakit kepala karena tidak kuat menerima kenyataan ini, kurang tidur, ditambah berada di antara dua kubu.


Membela Arya, akan memperkeruh keadaan. Dia tidak mau nanti Arya dan Dhea semakin Disalahkan karena sudah memanfaatkan keadaan.


Membela Fio, juga akan memperkeruh keadaan. Dia juga tidak bisa mengabaikan apa yang telah terjadi dan menutup mata.


Dia sadar kalau Mila memang salah.


Begitu takutnya Mila kalau Dhea akan merebut dia dari Fio.


Tapi wajar saja dia takut.


Dhea cantik dan berhati lembut. Dan semakin cantik juga mempesona.


Dhea punya daya tarik sendiri yang jujur saja ... tidak dimiliki oleh Fio.


Pintu kembali terbuka, kali ini Juna yang masuk.


"Jangan libatkan aku, aku tidak mau ikut campur. Dan jangan bikin Vean pusing, kalian membuat dia serba salah saja! Om sama Tante juga jangan ikut campur!" katanya kepada Candra dan Friska.


Candra dan Friska juga sebenarnya serba salah. Di satu sisi, Mila adalah istri dari sahabat mereka, juga calon besan mereka.


"Vean, tolong mama. Aku mohon!"


Vean menatap mata Fio. Dia tahu bagaimana perasaan Fio saat ini. Gadis yang menjadi tunangannya itu pasti sangat cemas sekarang.


Vean lalu menatap mata Arya. Dia pun tahu ada kesedihan, kekecewaan dan kemarahan di mata itu.


Sahabat atau pacar?


"Vean!"


Sahabat atau orang yang dicintai?


Pernyataan itu menghentak hati Vean.


Bukankah dulu Dhea juga seperti ini. Dilema di antara dua orang yang harus dia pilih.


Mempertahankan sahabat dan mengorbankan perasaan sendiri. Dia jadi teringat beberapa waktu yang lalu ....


Flashback On


Saat Dhea belum dipindahkan ke ruang ICU.


"Kalau aku menjadi Dhea, aku juga akan bingung memilih yang mana," ucap Aila, antara berkata pada dirinya sendiri, juga pada orang-orang.


"Kalau aku, aku akan memilih sahabat daripada orang yang aku suka," sahut Clara sambil menatap Fio. Entah itu sindiran buat Fio atau bukan.


"Belum tentu juga aku berjodoh dengan orang yang aku suka. Tapi kalau sahabat yang setia, itu sangat susah dicari. Saat ada masalah sama pacar, sahabat yang dicari." Clara menatap Aila dan Sheila, dan keduanya mengangguk.


Mereka tentu saja ingat, bagaimana selama ini Aila dan Sheila yang suka curhat saat bertengkar dengan kekasih mereka.


Sahabat duluan yang dicari, curhat semalam suntuk sambil menangis.


Ya, tentu beda lagi kalau kalau sudah menikah, tentu pasangan yang lebih dulu harus diutamakan.


"Kamu sangat beruntung Fio, bisa menjadi sahabat Dhea," ucap Clara.


"Benar, kalau itu orang lain, mungkin beda lagi jalan ceritanya."