
Keempat orang itu lalu memeluk Dhea, mengusap kepala gadis itu dengan sayang.
"Maafkan kami, yang baru bisa mengunjungi kamu."
"Tidak apa, Dhea senang Bapak dan Ibu ada di sini. Terima kasih sudah mau datang."
Keempat orang itu adalah kepala sekolah saat Dhea SMA, beserta guru yang selalu membantu Dhea saat SMA dulu, yang suka memberikan Dhea buku-buku kedokteran. Mereka berdua yang selalu membimbing Dhea, membantu gadis itu untuk mencarikan beasiswa ke Amerika. Kini mereka datang bersama istri mereka, yang tentunya juga sangat mengenal gadis itu.
Gadis yang menjadi murid andalan suami mereka.
Murid perempuan yang selalu diceritakan oleh suami mereka seperti anak kandung sendiri.
Murid perempuan yang menarik perhatian mereka.
Murid perempuan yang selalu ceria dan penuh semangat dalam belajar.
Murid perempuan yang selalu dekat dengan semau guru, bahkan kepada OB dan satpam sekolah.
Murid perempuan yang selalu senang saat dikasih buku-buku bacaan. Terutama buku kedokteran dan buku design.
Murid perempuan yang bahkan sejak masih SMP, tapi sudah dikenal oleh kepala sekolah dan guru-guru di SMA itu, bahkan oleh beberapa murid SMA di sana.
Bukan hanya tiga tahun, tapi enam tahun. Enam tahun mereka membimbing Dhea.
Jadi, bisa dipastikan bagaimana dekatnya mereka. Bagaimana kasih sayang itu hadir untuk murid yang sudah seperti anak kandung sendiri.
Mereka lalu mendekati Vean dan Juna, memeluk mereka. Namun hanya memberikan senyuman pada Fio.
Dhea menekan hidungnya, agar isak tangisnya berhenti. Dia merasa terharu.
Dia semakin sadar, kalau ... ah, sudahlah. Rasanya sulit untuk dideskripsikan.
Suasana menjadi hangat dan menyenangkan. Berkali-kali gadis itu menyeka sudut matanya, tapi senyuman di bibir gadis itu juga tidak pernah menghilang.
Melihat itu, jantung Vean berdebar kencang. Bagaimana melihat wajah sendu namun tersenyum. Ya, seperti itulah Dhea. Rasanya Vean sangat ingin memeluk gadis itu.
Bukankah lebih baik nantinya mereka bekerja di tempat yang sama. Jadi Juna juga bisa menjaga gadis itu.
"Benar. Kamu nanti praktek di rumah sakit kami saja, ya." Bianca juga menyetujui perkataan Juna.
Dhea sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Rasa sayangnya untuk gadis itu benar-benar besar. Dia sendiri juga tidak mengerti, kenapa bisa seperti itu.
Dhea dan Arya, akan dia jadikan anaknya, dan tidak ada yang boleh melarangnya.
Dhea langsung memalingkan wajahnya. Merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
Tapi benar juga, dia sudah meningkatkan pekerjaan selama ini.
"Jangan cemas, aku sudah mengurus semuanya," bisik Clara.
"Makasih," balas Dhea yang juga berbisik.
Vean terus memperhatikan Dhea. Dia juga ingin tahu, bagaimana Dhea menjalani kuliahnya saat itu, di rumah sakit mana dia bekerja, di mana dia tinggal, dan semuanya.
"Coba kamu bilang rumah sakit mana, biar aku telepon kepala rumah sakit kamu."
"Aku ... aku bukan seorang dokter, Kak."
Deg
"Apa?" sebagain besar dari mereka, menatap gadis itu dengan pandangan terkejut.
"Aku, tidak pernah kuliah kedokteran." Dhea memalingkan wajahnya. Mengusap sudut matanya yang kembali berair.
Bukannya dia tidak ikhlas dengan semua ini. Tapi dia kembali teringat saat itu, saat di mana hari pertunangan Fio dengan Vean.
Saat itu ....