Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
241 Meeting


Yuki menangis kencang saat ada semut merah yang mengigit tangannya. Balita itu tadi merengek meminta ikut membersihkan rumput-rumput liar di pinggir jalan. Tapi diajak pergi dari sana, dia juga tidak mau. Jadilah Bagas harus menggendong anak kakaknya itu untuk menjadi mandor.


"Tu, tu, beyum tu, Una," ucap Yuki dengan suara serak dan sedikit sesenggukan.


"Enak banget ya, kamu. Cuma memantau yang lagi kerja. Bantuin, dong!" ucap Juna.


"Wewewet."


"Apaan, tuh?"


"Cerewet, maksudnya. Begitu aja, gak ngerti," ucap Arya.


"Hilih, gak sadar diri," ucap Juna sambil mendelik pada Yuki.


"Yuki, kamu kok pintar banget sih, bicaranya? Mau jadi komentator, ya?"


"Tototor ...."


"Komen ... tator."


"Men men tor tor."


"Iya, deh, iya. Papa Juna masih mau waras."


Para warga menahan tawa, mendengar Juna yang gemas dengan balita cantik itu. Anak itu memang menggemaskan, membuat siapa saja ingin mencubit pipinya yang tembem dan putih.


Banyak anak kecil—anak dari para warga—yang bermain di sana.


"Bikin taman bermain saja, di tanah kosong ini," ucap Vean.


"Ini bukannya tanah milik Mbak Dhea?"


"Iya, tapi bisa dijadikan tempat bermain untuk anak-anak."


"Tadi kak Dhea minta dibuatin gazebo, Bang. Sama kolam ikan mini," ucap Bagas memberi tahu.


"Ya sudah, bikin saja. Sekalian bikin tempat bermain di sini, Gas."


"Mau yang seperti apa?"


"Hm, nanti kita bicarakan. Selesaikan ini dulu."


Selagi istirahat dan menikmati makanan dan minuman, mereka membicarakan taman yang akan dibuat. Vean mengajak warga lainnya.


"Ayo, Pak. Kita meeting dulu."


"Meeting?"


"Iya, meeting membicarakan akan bermain untuk anak-anak."


Para warga itu membusungkan dada mereka. Istilah yang biasa mereka pakai adalah rapat warga, berembuk, berdiskusi. Sekarang menjadi lebih elite, yaitu meeting. Mereka jadi merasa seperti orang penting berjas hitam yang selalu meeting di restoran-restoran mahal.


"Kalian mau yang bagaimana?" tanya Vean pada Bagas dan anak-anak panti. Mereka pasti pernah memiliki taman impian untuk bermain.


Anak-anak panti jadi merasa senang, karena dilibatkan dalam meeting ini.


"Bagian sebelah sini, untuk para pedagang, biar tertata rapih. Harus nyaman juga untuk para lansia."


"Bisa dibuatkan jalanan terapi."


"Nah, itu."


Makanan dan minuman terus berdatangan. Dhea yang sudah kelelahan membuatnya, dibantu oleh para perempuan lain, memilih untuk memesan saja.


"Nah, dari tadi, kek," ucap Aila.


"Kita bikin rujak aja, yuk."


"Ayo, ayo."


Kembali ke meeting


"Tanam bunga dan buah juga."


"Tanaman herbal juga, Bang. Kali saja nanti warga yang butuh."


"Wah wah wah."


"Yuki mau nanam buah? Buah apa?"


"Yan yan."


"Durian? Nanti buahnya jatuh, kena kepala."


"Pa pa."


"Enak aja enggak apa," ucap Juna.


"Ye, bukannya enggak apa, tapi maksudnya kelapa."


Yuki bertepuk tangan.


"Aap ada yang lebih ekstrim lagi, Yuki?"


"Kim Kim, mau kim kim."


"Bukan es krim, tapi ekstrim."


"Kim kim, mau kim kim."


"Kamu sih, Juna."


"Lah, kok aku. Dia aja yang salah paham."


Tidak lama kemudian, makanan dan minuman yang dipesan Dhea datang.


"Ayo, Pak, Bu, dimakan dulu."


Apra warga hanya cengo melihat makanan dan minuman itu.


"Silahkan, jangan sungkan."


"Mam, mam."


Juna mengambil salah satu steak, memotongnya kecil-kecil dan disuapin ke Yuki. Arya pun sama, dia mengambil pizza dan memberikannya pada Yuki.


Wah, kalau kaya begini, kami juga mau kerja bakti tiap Minggu.