
Tante Rista dan Juna kaget melihat kepergiannya Jani ke dapur. Mereka khawatir akan ke adaannya Jani. Saat mereka ingin menyusul Jani ke dapur,tak lama kemudian Jani pun kembali ke meja makan.
"Kamu kenapa cantik? Apa kamu sakit?" tanya Tante Rista dengan wajah khawatir.
"Jani nggak papa Tante." jawab Jani lembut seraya tersenyum.
"Kalo lo nggak papa. Terus tadi lo ngapain tuh ke dapur. Sampe muntah-muntah pula?" tanya Revin yang tak puas dengan jawaban Jani.
"Mmm... Gw cuma nggak suka aja sama susu kedelai." jawab Jani canggung.
"Ya ampun. Maafin Tante ya sayang. Tante nggak tau kalo kamu itu nggak suka sama susu kedelai." ucap Tante Rista dengan wajah merasa bersalah.
"Iya,nggak papa kok Tante. Ini juga salah Jani asal minum aja." ucap Jani tidak enak hati.
Jani melirik jam tangan yang di pakainya. "Udah malam nih Tan. Jani pamit pulang ya." ucap Jani sopan berpamitan pada Tante Rista.
"Revin. Kamu anter Jani pulang ke rumahnya dulu sana." ucap Mamah Revin menyuruh anaknya.
"Nggak usah Tante. Jani bisa pulang sendiri,lagi pula Jani ke sini bawa mobil. Jadi nggak perlu di anter pulang." ucap Jani menolak keinginan Tante Rista menyuruh Revin untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumahnya.
"Tapi ini udah malam cantik. Nggak baik malam-malam seorang gadis di jalan sendiri." ucap Tante Rista.
"Revin," panggil Mamahnya dengan memberi kode mata agar anaknya mau mengantar pulang Jani ke rumahnya.
Revin yang sudah tau akan kode dari Mamahnya. Ia pun menggandeng lengan Jani.
"Ayo," ajak Revin karena ia malas harus mendengar ocehan Mamahnya itu.
"Terus mobil gw?" tanya Jani sambil menatap Revin dan menahan tangannya untuk tidak di bawa pergi oleh Revin.
"Besok gw suruh supir rumah gw untuk antar ke rumah lo." jawab Revin datar.
Jani pun menganggukkan kepalanya dan kembali melihat ke arah Tante Rista.
"Tante. Jani pamit pulang ya." ucap Jani sopan meminta izin pulang dan menyium punggung tangan Tante Rista.
"Iya sayang. Hati-hati di jalan ya." ucap Tante Rista seraya tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Jani lembut.
"Revin. Ingat jaga baik-baik calon mantu Mamah. Jangan sampe ada yang terluka sedikit pun. Awas aja kalo sampe dia lecet,Mamah coret kamu dari kartu keluarga." ucap Mamah Revin dengan nada mengancam anaknya. Mendengar ucapan Mamahnya Revin. Jani melirik ke arah Revin.
"Lah Mam. Anak Mamahkan Revin. Bukan dia,masa Mamah ngancem anaknya sendiri sih. Lagian siapa juga yang mau nikah muda." ucap Revin dengan wajah kesal.
"Udah jangan kebanyakan ngoceh. Cepat antar dia pulang,makin malam nih." ucap Mamah Revin sambil mendorong anaknya untuk segera menganter Jani pulang ke rumahnya.
"Dih,,dia yang dari tadi ngoceh nyalahin anaknya." cibir Revin sambil berlalu pergi.
Jani yang mendengar cibiran Revin untuk Mamahnya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Makasih," ucap Revin tulus yang memulai membuka suara di dalam keheningan.
"Untuk?" tanya Jani bingung sambil menatap ke arah Revin.
"Karena lo selalu nolongin nyokap gw." ucap Revin tulus sambil melihat ke arah Jani.
Jani menatap wajah Revin. "Iya,sama-sama." ucap Jani datar.
Ia pun memalingkan wajahnya ke arah luar jendela yang berada di sampingnya. Ia lebih tertarik dengan pemandangan lampu-lampu yang menyala di pinggir jalan. Yang terlihat begitu indah di pandang.
Di perjalanan sesekali Revin melirik ke arah Jani yang sedang fokus melihat pemandangan di luar sana.
"Bener-bener deh nih cewek. Tadi liatin handphonenya mulu sekarang dia liatin jalanan. Apa menariknya coba pemandangan di luar? Mendingan juga liatin wajah gw yang tampan ini." batin Revin membanggakan diri.
"Stop,stop,stop." seru Jani sambil menepuk-nepuk bahu Revin.
Revin yang mendengar suara Jani, dengan reflek ia pun langsung ngerem mendadak. Untung malam ini jalanan tidak terlalu banyak kendaraan. Jadi tidak ada yang marah saat mobil Revin berhenti secara mendadak.
"Apa-apain sih lo. Bikin gw kaget aja." ucap Revin dengan wajah kesal.
"Sorry," ucap Jani datar. "Rev kita ke sana sebentar ya!" pinta Jani sambil menunjuk ke arah luar. Revin melihat arah yang Jani tunjuk.
"Bakso?" tanya Revin dengan wajah bingung yang sudah menatap wajah Jani. Sedangkan Jani yang di tanya hanya menganggukkan kepalanya.
Ternyata yang di tunjuk Jani dan membuat Revin mengerem mendadak adalah tukang bakso yang mangkal di pinggir jalan.
Revin menatap wajah Jani. "Bener-bener aneh nih cewek. Dia minta gw berhenti tiba-tiba cuma untuk pengen makan bakso doang dan lebih anehnya lagi,dia mau makan bakso di pinggir jalan kayak gitu." batin Revin kesal juga bingung karena permintaan Jani.
"Lo turunin gw di situ aja. Ntar gw bisa pulang pake ojek online." ucap Jani menatap wajah Revin.
"Ngapain lo ke situ? Mau makan bakso?" tanya Revin memastikan.
"Lo bisa bacakan? Ya iyalah gw mau makan bakso. Lo pikir gw mau makan nasi padang." ucap Jani dengan wajah kesal.
"Keluarga lo lagi nggak jatuh miskinkan?" selidik Revin sambil menatap wajah Jani.
"Kenapa?" tanya Jani bingung dengan ucapan Revin.
"Lo yakin mau makan di tempat yang kayak gitu?" tanya Revin sambil menunjuk ke arah tukang bakso yang sedang mangkal di pinggir jalan dan meyakinkan keinginan Jani.
"Iya. Udah deh Rev,tinggal anterin gw ke situ aja. Setelah itu lo langsung balik pulang." ucap Jani kesal.
Mendengar ocehan Jani,Revin hanya diam dan menjalankan mobilnya. Ia memutar arah ke tempat tukang bakso itu mangkal. Setelah sampai ia pun memparkirkan mobilnya. Jani melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil Revin.