
Yuki dan Faustin punya akun sosial media sendiri, yang begitu baru dibuat, langsung mendapatkan banyak pengikut.
"Bagaimana bisa, aku kalah dari para bocah ini," keluh Juna.
Apalagi Faustin dan Yuki sangat fashionable berkat Dhea yang seorang designer. Banyak komentar para fans yang kebanyakan juga para ibu-ibu, yang berkhayal memiliki menantu seperti keduanya.
"Kamu jangan terlalu lelah, Yang. Kan ada manager dsn asisten pribadi."
Faustin dan Yuki tentu saja memiliki manager dan asisten pribadi, yang dipilih langsung oleh Vean. Dokter Petter dan dokter Stevie bahkan terima beres.
Dhea memang terlihat sangat lemas. Selain mengurus butik, dia juga selalu mendampingi kedua bocah itu.
Dhea bersandar di pundak Vean, matanya terpejam dan tidak lama kemudian tertidur. Berkat Faustin dan Yuki, mereka semua jadi semakin sibuk. Banyak yang menginginkan kerja sama dengan perusahaan Vean. Banyak yang ingin menjadi langganan VVIP Dhea. Bahkan, banyak pasien yang meminta dokter Juna, dokter Petter dan dokter Stevie menjadi dokter mereka. Bahkan Aila, Clara, Sheila, Fio, Felix, Steve dan Arya ikut kecipratan.
Tentu saja orang-orang yang kepo itu mencari tahu banyak tentang artis cilik itu. Vean bahkan harus menyiapkan beberapa bodyguard diam-diam untuk menjaga Yuki dan Faustin. Para bodyguard itu bertanggung jawab langsung kepada Arya yang merekrut mereka. Arya sendiri yang memilih mereka secara langsung.
Vean mengusap kening Dhea yang ternyata hangat. Pria itu langsung menggendong Dhea ke kamar. Setelah itu dia ke dapur, memeriksa stok bahan makanan. Meminta salah satu adik panti pergi ke swalayan untuk membeli bahan-bahan makanan. Dia memberikan kartu kepada adik panti.
"Beli yang banyak, sekalian buat di panti."
"Sekalian, dong," ucap Juna sambil nyengir. Dia terlalu malas untuk pergi ke luar. Banyak pasien yang harus dia tangani.
Arya sendiri sedang tidur-tiduran di sofa.
Para orang tua sedang berbincang di ruang tamu.
💦💦💦
Hujan yang terus mengguyur membuat orang-orang malas untuk beraktivitas. Para perempuan sedang membuat rujak sambil nonton drama Korea.
Para pria membicarakan pekerjaan, sambil memperhatikan Yuki dan Faustin yang bermain.
"Calon mantu perhatian banget, sih," ucap Juna.
Mereka terkekeh geli. Kedua bocah itu masih saja makan coklat dan minum jus buah naga tanpa gula.
Yuki menggambar, dan ternyata gambarnya sangat bagus.
"Wah, dia berbakat," ucap Felix.
"Harus diasah. Belikan alat lukis, Ve."
Gambarnya memang masih berantakan, tapi mereka tahu itu gambar yang bagus. Ternyata bakat Dhea menurun pada Yuki. Ternyata Yuki melihat foto keluarga, dan mencoba menggambarnya. Gambar ala anak-anak dengan warna cerah.
"Nanti daddy belikan alat gambar, ya."
Yuki langsung masuk ke salah satu ruangan, dan mengambil alat gambar Dhea yang biasa dipakai untuk merancang.
"Ni, lili nini."
"Itu punya mommy, nanti Yuki punya sendiri. Jangan dimasukkan ke dalam mulut, ya."
"Mamam."
Vean menyuapkan puding mangga, yang rasa manisnya juga tidak berlebihan.
Hujan bukannya berhenti, malah semakin deras. Di beberapa tempat, pasti sudah banjir. Untung saja Vean sudah membuat saluran pembuangan air yang bagus. Jadi saat musim hujan seperti ini, daerah tempat tinggal mereka tidak banjir.
Suara petir yang begitu kencang membuat Yuki ketakutan. Bocah itu langsung naik ke atas pangkuan Vean dan ingin menangis.