
Dhea menatap rumah itu. Menoleh kiri kanan untuk membandingkan dengan rumah lainnya.
"I ... ibuku ... tinggal di sini?"
Lalu suara isak tangisnya itu mulai terdengar. Benar langsung memeluk Dhea dengan mata berkaca-kaca. Vean, Arya dan Juna melihat ke sekeliling mereka, lalu menghela nafas berat.
"Kamu ... mau masuk?" tanya Vean.
Dia sendiri sekarang menjadi ragu, apakah mereka harus masuk atau tidak, terutama untuk Dhea.
"Ba ... bagaimana ini? Aku takut!"
Takut!
Jujur saja, dalam hati Dhea, dia merasa menyesal datang ke sini. Ternyata dia belum siap. Belum siap menerima kenyataan. Dia sudah membayangkan yang tidak-tidak.
Jarak yang ditempuh begitu jauh. Lingkungan yang ... ah, entahlah.
"Ayo ... kita kembali saja!" ucap Arya.
Dhea masih diam di tempat. Tidak mudah menempuh perjalanan ini, apa akan berakhir sia-sia? Tidak tahu lagi kapan dia bisa ke sini, dan apa dia masih mau ke sini?
"Kita masuk saja."
Dhea mulai melangkahkan kakinya, meski terasa berat.
Nafasnya terasa sesak. Melihat beberapa yang ada di depannya.
"Dia Wati, ibu kamu."
Dhea lalu melihat pada seseorang yang ditunjuk oleh omnya itu.
Seorang perempuan berbaring di atas ... bale bambu. Keadaan tempat ini ... entahlah, Dhea sendiri bingung harus menyebut tempat ini apa.
Lantai tanah, dinding dari anyaman bambu, atap dari bambu dan ... mungkin daun kelapa atau apa, Dhea juga tidak tahu.
Banyak sarang laba-laba, dan terasa panas. Jangan mengharapkan ada barang-barang mewah di sini. Bantal gulingnya saja Sidah sangat lusuh.
Jika dulu Vean pernah merasa kasihan dengan keadaan kamar kosan Dhea atau rumah Dhea yang seperti itu, maka dia tidak bisa berkata apa-apa untuk mendeskripsikan rumah ini.
Sangat miris!
Hanya ada meja kecil, yang sedikit berjamur, mungkin karena lembab.
Wati menoleh pada mereka yang datang.
Dhea memperhatikan perempuan itu.
Mata cekung, pipi tirus, dan ... kepalanya botak.
Juna menelisik perempuan itu. Sebagai seorang dokter, dia tahu kalau perempuan di hadapannya itu sedang sakit keras.
Untung ada Juna.
Untung aku ikut.
Juna memeriksa tensi, denyut jantung dan nadinya. Memeriksa mata dan membuka mulut bu Wati. Memeriksa keadaan kaki dan tangan.
"Apa sudah periksa ke dokter?"
"Belum."
"Kenapa. Cepat angkat dia ke mobil, kita harus segera membawanya ke rumah sakit!"
Bu Wati menggeleng pelan. Dia tidak mau dibawa ke mana-mana.
"Bu, Ibu harus segera diperiksa dan diobati."
Kembali ibu Wati menggeleng. Juna ingin memastikan penyakit apa yang diderita oleh Bu Wati, dan itu harus dilakukan di rumah sakit.
Dhea melihat ke sekeliling. Dia berjalan, diikuti oleh Vean yang tidak mau melepaskan genggamannya. Mungkin takut tiba-tiba Dhea pingsan.
"Kamu nyari apa?" bisik Vean.
"Dapur."
Mereka lalu ke bagian belakang tempat itu. Keduanya saling pandang.
"Ini, dapur?" Bukan pemberi tahuan, tapi pertanyaan.
Ada tumpukan kayu dengan sisa pembakaran. Alat masak yang sudah sangat usang.
Lalu mereka kembali melihat-lihat.
Ada sumur. Benar-benar sumur yang harus ditimba dulu airnya dengan tali dan ember.
Vean mencoba melihat ke dalam, seberapa dalam sumur itu.
"Jangan dekat-dekat sini, Dhea. Nanti kamu nyemplung."
Arya dan Juna juga ikut melihat ke dalam sumur.
"Kamar mandinya gimana ini?"
"Mana ada kamar mandi seperti yang kamu harapkan, Jun. Tuh, lihat!"
Mereka melihat ke satu bilik kecil. Sepertinya untuk buang air. Tanpa atap dan hanya dari bambu saja.
Mereka tidak bisa membayangkan, bagaimana Dhea kalau tinggal di sini sejak bayi.