Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
207 Lagi Anget-angetnya


Pagi-pagi sekali, Dhea mencoba testpack, dsn ternyata hasilnya negatif.


"Gak apa, kan kita juga baru menikah."


"Emang Kak Vean tidak kecewa?"


"Enggak, kenapa harus kecewa. Kita ini baru menikah, Dhea. Bukan yang sudah puluhan tahun. Masih banyak orang-orang yang belum punya anak meski telah lama menikah."


"Makasih, Kak."


"Aku yang terima kasih, karena kamu sudah mau menjadi istri aku." Mereka akhirnya keluar kamar dengan bergandengan tangan.


"Dhea, ayo sarapan, mama sudah membuatkan ini untuk kamu."


"Makasih Ma, seharusnya Dhea yang membuatkan sarapan."


"Kamu kan anak mama, gak masalah mama membuatkan sarapan untuk kamu."


Vean tersenyum melihat kedekatan Dhea dengan mamanya. Mamanya juga terlihat tulus pada istrinya itu.


"Hai semuanya." Kedua orang tua Juna dan Fio, berserta anak-anak mereka datang dengan membawa makanan yang sudah mereka masak.


"Ayo kita makan bersama."


"Wah, kalau ramai begini sih, enaknya makan di halaman depan, nih."


"Benar banget, ayo kita ke depan."


Friska dan Bianca mengajak sahabat-sahabat Dhea dan yang lain untuk ikut makan bersama, karena yang dimasak juga sangat banyak.


Bagas dan Erza menata tempat untuk makan. Sedangkan yang lain menyiapkan alat makan.


"Kita lesehan di taman saja, ya."


"Gas, ambil tikar di dalam. Di ruangan sebelah dapur," ucap Dhea.


"Iya, Kak."


Ibu panti juga datang dengan membawa banyak makanan.


"Mama jadi iri. Enak ya, tinggal berdekatan gini."


"Iya, benar Friska. Kenapa dulu kita tidak begini, ya?"


"Ayo kita makan dulu."


Dhea memakan sarapannya dengan nikmat. Ada banyak menu di sana. Sesekali Vean dan Dhea suap-suapan, bikin baper yang lain.


"Fio."


"Tuh, kucing lihatin kamu terus. Suapin sana!"


"Ck!"


"Bagaimana pekerjaan kalian?" tanya Candra pada pria pria muda.


"Baik, Pa. Kami berencana mau bikin usaha bersama."


Vean, Arya, Kina, Felix dan Steve memang ada rencana seperti itu, agar hubungan pertemanan mereka semakin erat.


Begitu juga dengan para perempuannya.


"Iya, sekalian membuka lapangan pekerjaan. Di perusahaan sudah penuh. Bagas ini rajin bekerja, dia punya potensi untuk jenjang karier."


Bagas yang sedang dibicarakan, terlihat malu-malu.


"Bagus itu. Kalian lakukanlah, kalau butuh bantuan, tinggal bilang pada papa."


Suasana kekeluargaan ini membuat mereka bahagia. Kalau dipikir-pikir, dan kenyataannya memang seperti itu, Dhea lah yang membuat semuanya seperti ini. Dhea seperti magnet yang membuat orang-orang mendekat.


Yang tadinya jarang berkumpul, sekarang sering. Bahkan setiap akhir pekan, Dhea dan sahabat-sahabatnya akan selalu berkumpul untuk makan bersama, atau jalan-jalan.


Dhea memangku balita laki-laki yang memegang botol susu, sedangkan Vena duduk di sebelahnya. Melihat itu, mereka tersenyum.


Semoga kalian juga bisa segera memiliki anak. Semoga Dhea lancar dalam kehamilan dan melahirkan.


"Kamu mau makan apa lagi?" tanya Vean.


"Kenyang, Kak."


"Makan buah, ya?"


"Iya."


"Tadi katanya kenyang!" ucap Juna, yang langsung mendapatkan pelototan dari orang-orang.


"Dede Dhea, makan yang banyak ya, kan lagi masa pertumbuhan." Juna semakin dipelototi membuat dia cengar-cengir saja.


"Jangan dengarkan dokter abal-abal ini, Dhea."


"Papa, mentang-mentang sudah punya dua anak tambahan, aku jadi disingkirkan. Biarin, yang lagi anget-angetnya mah, suka lupa sama yang lain." Juna memasang mimik sedih, seolah dilupakan oleh Bram.


Dhea tersedak buah karena tertawa.


"Juna!"


"Iya, iya, maaf."