Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
198 Foto


Orang-orang yang mendapat undangan, bersorak gembira.


"Vean dan Dhea menikah. Mereka menikah!"


Grup juga langsung heboh membicarakan undangan itu.


Undangan berwarna biru putih abu-abu.


[Jadi juga woy, mereka menikah!]


[Jir, gak nyangka, ya!]


[Udah berapa tahun, ternyata masih bersama. Terharu!]


[Ck ck ck, awet juga mereka, ya.]


[Kok aku pengen nangisss. Terharu, ngiri juga.]


[Pengen juga kaya mereka.]


Seharian, grup sekolah itu hanya membicarakan soal Dhea dan Vean saja. Benar-benar tidak ada yang mengira, si gadis SMP dengan si cowok SMA itu benar-benar bersama sekarang.


Bukan hanya sekedar cinta monyet, bukan hanya cinta remaja atau cinta pertama.


Semua ikut merasakan kebahagiaan itu, dan mendoakan kebahagiaan mereka.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Dhea melakukan perawatan, dengan didampingi oleh calon ibu mertuanya, juga Bianca. Friska sudah mengurus semuanya, agar orang-orang dari salon kecantikan mengosongkan salon dan fokus pada mereka saja dan memberikan perawatan untuk menantunya itu secara maksimal.


"Setelah ini kita langsung pulang saja, ya."


"Iya, Ma."


Malam harinya, para pria berkumpul di rumah Vean, sedangkan para perempuan berkumpul di rumah Dhea. Semua keluarga juga ada di sana.


Candra memberikan nasihat pada anak laki-lakinya itu, yang sebentar lagi akan akan menjadi seorang suami. Rasanya baru kemarin dia mengusap perut Friska yang sedang hamil muda, tapi kini anaknya sudah akan menikah dengan perempuan pilihannya.


"Berikan papa banyak cucu, Vean. Papa dan mama akan kesepian."


Dhea dan Vean sama-sama melihat langit dari depan jendela kamar masing-masing. Malam yang cerah, secerah hati mereka.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Malam ini mereka semua berkumpul di hotel. Makan malam bersama dan membicarakan tentang masa-masa para orang tua itu masih muda.


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Vean sejak tadi tidak berhenti tersenyum, tapi juga sudut matanya selalu basah.


"Ayo, yang lain sudah menunggu."


Teman-teman Dhea dan Vean yang datang tertawa melihat foto prewedding mereka.


Dhea yang memakai baju SMP memegang coklat, sedangkan Vean memakai baju SMA memegang surat cinta.


Penampilan mereka di foto itu, persis seperti dulu.


"Gemes, ya."


"Ho'oh, jadi pengen nyubit mereka berdua."


Mereka melihat foto-foto yang ada di setiap sudut, seperti galeri foto saja.


"Kita kaya lagi nostalgia, ya."


Vean menuju taman yang dijadikan tempat pesta pernikahan outdoor. Vean duduk di depan penghulu, lalu Dhea diantar untuk duduk di sebelahnya.


Vean memasang kagum pada gadis di sebelahnya, yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, ibu dari anak-anaknya.


Para tamu yang hadir, sebagian besar merasa heran. Bukankah seharusnya Vean menikah dengan Fio, karena dulu mereka bertunangan.


Tapi tidak bagi teman-teman Dhea dan Vean yang sudah tahu sejak masa sekolah. Mereka justru sangat senang dan merasa bangga pada keduanya yang bisa bertahan sampai saat ini. Bahkan ada di antara mereka yang sudah menikah, tapi sudah bercerai juga.


Ada yang berpacaran pada masa sekolah, tapi menikahnya dengan orang lain. Ya seperti itulah jodoh, tidak ada yang pernah tahu.


Vean kembali mengusap sudut matanya yang basah, sebelum mengucapkan ijab qobul.