Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
239 Bahasa Baru


Pagi-pagi sekali Vean sudah bangun, dan dia langsung membuat rusuh di tempatnya.


"Bangun woy, bangun!" Setiap rumah dia gedor. Hanya Dhea dan Yuki saja yang dia biarkan tidur, karena waktu masih menunjukkan pukul empat pagi.


Satu demi satu pintu tetangganya itu dibuka oleh sang pemilik rumah, yang masih menggunakan baju tidur dan mata merem melek karena mengantuk.


"Apa, sih? Ada maling, ya?" tanya Felix.


"Apa ada kebanjiran?"


"Bangun semuanya, ayo kita budayakan hidup sehat jiwa raga. Yuk olahraga!"


"Ini masih jam empat pagi. Bukannya sehat malah masuk angin!"


"Dhea mana, Dhea?"


"Dhea masih bobo cantik, dong," ucap Vean sumringah.


"Sialan, anak istri disayang-sayang. Tetangga malah dianiaya!"


"Jangan manja, ayo olahraga. Juna, pimpin senam!" ucap Vean seenaknya.


Para pria dan wanita itu mau tidak mau berbaris, meski tidak jelas bentuk barisannya seperti apa.


"Pagi, Mas, Mbak. Mau olahraga, ya?" tanya sekuriti yang sedang berkeliling komplek.


"Iya, Pak. Ayo sini ikutan, biar sehat."


Vean mulai menyalakan lagu di ponselnya untuk mengiringi senam mereka.


Cit cit cit cit cuit


cit cit cuit


Ayam bertelur


"Lagu apa itu, woy!"


"Hehehe, ini lagunya Yuki. Dia girang banget kalau diputarkan lagu ini. Wek Wek Wek Wek kowek ... wek wek kowek ... bebek berenang ...." Vean malah mengikuti lagu itu sambil berjoget-joget seolah ada Yuki di depannya.


"Sapi merendam, kambing pun ikut senang ...," ucap Vean dan Juna bersamaan.


Arya menepuk jidatnya, dia mau pura-pura tidak mengenal kedua pria itu, tapi pada siapa dia harus berpura-pura? Orang-orang di daerah sini sudah terlanjur tahu kalau dia mengenal mereka.


Dhea yang ada di teras depan kamarnya, menahan tawa. Dia sudah merekam semuanya, nanti akan dia sebarkan di grup.


"Lagi, lagi, lagi," teriak Fio, dokter Petter dan dokter Stevie.


Clara mencubit Aila dan Sheila, membuat keduanya meringis. Mau marah, tapi juga mau ketawa.


"Yuki, lihat Daddy kamu." Dhea bicara pada Yuki, karena tadi Yuki bangun meminta susu. Balita itu bertepuk tangan dan meloncat-loncat dalam gendongan Dhea.


"Dy nyi nyi."


"Iya, Daddy nyanyi. Bagus gak suara Daddy?"


"Uyun."


"Turun? Jangan, di sini saja."


"Yun. Nyi ma Dydy."


"Kalau Yuki turun, nanti Daddy malu mau nyanyi."


Seperti memahami perkataan sang mommy, Yuki tidak lagi meminta turun. Matanya menatap sang Daddy yang sedang ber-cosplay menjadi badut.


Di bawah


"Lagi, lagi, lagi." Fio, dokter Petter dan dokter Stevie masih bertepuk tangan, meminta mereka menyanyi lagi.


"Kalian kira aku laki-laki penghibur?"


"Ayo senam."


Semua lagu yang diputar adalah lagu anak-anak. Tabrak sana, tabrak sini, entah olahraga gaya apa mereka lakukan, yang penting gerak, agar ketua gang itu senang.


Tiba-tiba saja suasana menjadi hening saat mereka mendengar suara cekikikan. Mereka saling merapatkan barisan, dan mendelik kesal pada Vean yang membuat mereka jadi seperti ini.


Suara tawa itu terdengar lebih keras lagi, lalu mereka menoleh dan melihat Yuki yang meloncat-loncat kegirangan dan menepuk-nepuk tangannya yang kecil.


"Gi, gi. Nyinyi gigi. Yiyi gigi Una."


"Vean, coba translate bahasa planet itu!"


"Lagi, lagi. Nyanyi lagi. Nyanyi lagi, Juna."


"Hilih, kicil-kicil kik ngisilin. Simi kiyi bipikmi!"


"Aku baru dengar bahasa Indonesia yang seperti ini? Apa artinya dalam bahasa Inggris?" tanya dokter Petter dengan wajah bingung.


"Sepertinya kami harus lebih banyak belajar lagi," sambung dokter Stevie.


Lagi-lagi Arya hanya bisa menepuk jidatnya. Sedangkan para perempuan sudah kabur ke rumah Dhea. Menyelamatkan diri sendiri itu lebih baik, daripada harus mules-mules menahan tawa.