Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
147 Tropi (Karena Baginya, Tidak Ada Yang Sia-sia)


Hari Sabtu di minggu berikutnya


Hari ini diadakan acara selamatan pindahan pasukan tetangga rasa saudara itu. Anak-anak panti semuanya datang.


Dhea mengendong bayi kecil yang ditinggalkan di depan pintu panti satu minggu yang lalu.


"Teman saya ingin punya cucu, tapi anaknya belum juga mau menikah," ucap Ronald pada Candra dan Bram.


"Tega sekali mereka membuang bayi kecil ini."


Anak-anak panti dari segala usia berkumpul di halaman depan. Sudah tidak ada lagi tembok pembatas di sebelah rumah. Ada yang rumahnya bersebelahan, ada juga yang berhadapan.


Fio juga sudah membeli rumah yang diinginkannya, meski belum dia tempati.


"Hebat juga kalian, ya. Bisa kepikiran jadi tetangga begini," ucap Bram.


Mereka tertawa. Di sana tentu saja ada keluarga Clara, Aila, Sheila, Felix dan Steve, semakin membuat suasana ramai.


"Ck, jadi pengen punya cucu juga," ucap Bianca. Juna pura-pura tidak mendengar.


...💦💦💦...


"Kak, aku sudah ada nih uangnya buat bayar tanah itu. Kak Arya yang urusin, ya."


"Ya."


"Tanah buat apa, sih?" tanya Juna.


"Buat bikin kos-kosan, sama tempat buat konveksi."


"Biar aku yang urus." Untuk masalah seperti ini, Vean sudah sangat mahir.


Keesokan harinya


Dhea datang ke butiknya. Ruko yang terdiri dari tiga lantai di tempat yang strategis. Gadis itu memeriksa hasil penjualan dan pemesanan gaun.


Di mejanya, ada undangan untuk penghargaan bagi para designer.


Malam penghargaan


Tamu-tamu memenuhi ballroom hotel tempat diadakannya acara. Banyak artis dan kaum sosialita yang datang.


Mereka sangat antusias dengan acara ini. Bisa bertemu dengan para designer favorit mereka. Dhea dan sahabat-sahabatnya sudah tampil cantik. Vean dan yang lain juga ikut diundang oleh penyelenggara.


Aku harus lebih banyak belajar lagi.


Acara di mulai, mereka duduk di tempat yang telah ditentukan. Wajah Dhea selalu berbinar di acara ini.


"Kita panggilkan, penerima penghargaan untuk designer muda berbakat kita. Designer ini sering mendapatkan banyak penghargaan di luar negeri, dan ini adalah salah satu dari hasil rancangannya."


Seorang model keluar dengan menggunakan gaun yang sangat indah.


"Bagus sekali." Bisik-bisik dari para tamu.


"Pemilik dari Vedea, Nona Dheara ...."


Dhea?


Hanya Clara, Aila, Sheila, Felix dan Steve saja yang tahu. Kelimanya bertepuk tangan dengan kencang, memberikan semangat dan dukungan pada Dhea.


Dhea maju ke panggung penghargaan dengan wajah berbinar.


"Terima kasih, untuk semua yang sudah mendukung dan mendoakan. Tanpa kalian semua, saya bukan apa-apa."


Ya, tanpa mereka, dia tentu saja tidak akan berdiri di sana saat ini. Dhea tersenyum pada mereka yang mengenal dirinya. Meskipun sebagian besar dari mereka tidak tahu, tapi tetap saja bagi Dhea, mereka ikut andil dalam kesuksesannya saat ini.


Ada ibu panti dan ibu kos.


Ada pemilik kampus tempatnya direkomendasikan oleh kepala sekolah.


Ada rektor dan dosen-dosen tempat dia kuliah di Jogja.


Tidak ada yang terlewat satu pun.


Saat dia memutuskan untuk pindah jurusan, itu menjadi titik balik bagi kehidupannya.


Gagal menjadi dokter, bukan berarti gagal meraih masa depan. Masih banyak jalan menuju masa depan.


Mungkin keputusan dia mengganti jurusan, disesali oleh beberapa orang. Seperti Vean dan Fio, Arya, ibu panti, anak-anak panti, dan ibu kos, Juna dan dokter Bram, kepala sekolah dan guru, pemilik kampus dan rektor, juga dosen-dosen di fakultas kedokteran.


Tapi lihat sekarang hasilnya ....


Dia bisa berdiri dengan tegap memegang tropi penghargaan ini.


Bagi Dhea, tidak ada yang sia-sia ....