
"Fio, tolong ambilkan tasku."
Fio dengan cepat mencari tas Dhea, tapi dia tidak tahu ada di mana. Clara lalu mengabulkan tas itu dari dalam laci di samping brankar Dhea.
"Ini."
Tangan Dhea gemetaran mengambil tas itu. Clara lalu membantu Dhea membuka tasnya.
"Kamu mau ambil apa?"
"Buku, warna putih."
Clara mengambil buku itu dan memberikannya pada Dhea. Dhea membuka lembar demi lembar, sedikit susah karena tangannya sangat lemah. Akhirnya dia sampai di lembaran terakhir.
"Fi ...."
"Ya?"
"Ini ... design gaun pernikahan untuk kamu, aku sudah membuatnya. Cepatlah menikah dengan Kak Vean, dan berikan aku keponakan yang lucu."
Fio menggigit bibir dalamnya kuat-kuat. Kenapa sampai saat ini, di saat seperti ini, Dhea masih saja memikirkan dirinya dan Vean?
Vean memalingkan wajahnya.
Perlahan Dhea memejam matanya, dengan posisi masih bersandar.
"Dhe, Dhea!"
"Dia tertidur," ucap Dokter Bram.
Mereka menghela nafas. Jantung mereka rasanya mau copot saja. Perlahan terdengar isak tangis. Clara menangis di lengan Arya. Dia tidak sanggup melihat sahabatnya seperti ini. Dulu Dhea orang yang paling kuat menahan kantuk. Sekarang, jangankan menahan kantuk, bicara saja sangat susah.
Begitu juga dengan Aila dan Sheila yang menangis dalam pelukan kekasih mereka.
Rasa sesak itu ternyata tidak cukup sampai Dhea membuka mata saja. Ternyata masih berlanjut, lebih menakutkan karena mereka khawatir kalau Dhea benar-benar tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Dokter Bram sendiri sudah mengatakan kalau kondisi Dhea sudah semakin parah. Hanya keajaiban saja yang akan membantu dia tetap bertahan di tengah kondisi ini.
Vean merasakan sesak. Mungkin do antara yang lainnya, dialah yang paling merasa ada di lubang gelap. Ingin keluar, tapi begitu sulit. Bagaimana caranya doa kekar dari lubang gelap yang menganga lebar seperti ini.
Memang, hidup ada di tangan Tuhan, tapi orang yang menjadi perantara hidupnya bisa bertahan sampai saat ini, malah ada di ujung persimpangan.
Hari Vean tersentak, saat sadar kalau dialah salah satu, dan tentunya yang paling besar dan sering, menyakiti hati gadis itu.
Vean bahkan tidak memberikan keinginan terakhir Dhea saat mereka berdua masih baik-baik saja.
Kencan terakhir seharian penuh!
Bukan, bukan kencan terakhir. Tapi kencan pertama dan satu-satunya. Saat mereka masih sehat. Saat Dhea belum pergi, saat Vena Bekim kecelakaan, dan saat Dhea belum mendonorkan ginjal itu.
Hanya permintaan kecil. Permintaan yang bagi Vean mengada-ada. Permintaan yang bagi Vean kalau dia menurutinya, maka akan menambah luka bagi gadis itu Tidak mau mengkhianati Fio dan memberikan harapan palsu pada Dhea.
Permintaan terakhir, yang bagi Dhea akan memaksa satu-satunya kenangan indah saat bersama Vean. Kenangan terakhir yang membuat dia merasa bahagia.
Nyatanya, Vean tidak mau memberikannya. Membiarkan gadis itu menunggu seharian penuh. Menunggu dengan harapan yamg dihancurkan dengan cara paling menyedihkan.
Andai waktu bisa diulang.
Tapi siapa yang menginginkan waktu dapat diulang?
Apakah Dhea?
Aap mungkin dia berharap tak usah bertemu dengan Vean dan Fio saja?
Atau Fio?
Berharap dia tidak perlu bersahabat dan tidak bersaing conga dengan Dhea? Atau berharap kalau doa tidak perlu mengenal Vean?
Atau Vean?
Berharap kalau dia tidak perlu berada di tengah-tengah dua sahabat itu. Menyakiti salah satunya demi yang lainnya.
Atau Arya?
Melarang Dhea untuk terus berkorban dan menjaga gadis itu lebih baik lagi.
Atau mungkin juga dokter Bram.
Karena dirinya lah yang juga ikut menyetujui Dhea mendonorkan ginjal itu. Posisi yang serba salah. Menolak ginjal Dhea—meskipun gadis itu memohon—berarti akan mengorbankan Vean—anak dari sepupunya.