Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
123 Meskipun Aku Harus Mati


Saat ini Vean sedang berada di depan sekolah Dhea. Dia menatap pintu gerbang, berharap bisa melihat gadis itu saat pulang sekolah.


"Vean, kamu ngapain di sini? Mau jemput aku, ya?" tanya Fio.


Dih, PD banget. Aku mau melihat Dhea.


Vean memalingkan wajahnya melihat Dhea. Setiap kali dia bersama Fio, pasti ada Dhea. Sebenarnya dia senang ada Dhea bersamanya, tapi dia juga tidak mampu melihat wajah sedih gadis itu.


Wajah yang sekarang selalu menunduk saat bertatap muka dengannya.


Bukan hanya kamu yang merasakan sakit itu, Dhea, tapi aku juga. Kau akan mencari cara agar perjodohan ini bisa berakhir.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


"Dhea tahu, kalau kita ini hanya dijodohkan?"


"Enggak."


"Kamu enggak cerita?"


"Enggak."


Vean menghela nafas. Tiga tahun ini, dia merasa waktu bisa berlalu begitu cepat.


Tapi kini apa?


Satu hari saja, rasanya terlalu lama, terlalu berat, dan terlalu membosankan.


Sekarang adalah hari ulang tahun Fio, dan sebagai anak orang kaya, tentu saja ulang tahunnya dirayakan di hotel berbintang.


"Kak, aku mencintaimu, masih mencintaimu."


"Apa?"


Vean dan Dhea menoleh, di sana, ada Fio dan yang lainnya, yang ternyata mendengar perkataan Dhea.


"Fi ... Fio ... aku ...."


"Kamu mencintai Vean? Sejak kapan?"


"Fio, maafkan aku. Aku Sidah menyukai Kak Vana sejak kelas satu SMP."


"Apa?" Fio menggelengkan kepalanya, gadis itu menangis lalu pergi meninggalkan Dhea dan Vean.


"Fio, tunggu." Dhea menatap Vean.


"Maafkan aku, Kak." Gadis mengejar Fio, meninggalkan Vean sendiri.


Vean menghela nafas, lega. Setidaknya, Fio tahu kalau sebelum ada dirinya, Sidah ada Dhea lebih dulu. Bukan Dhea yang menjadi pihak ketiga, tapi Fio. Mungkin dengan begini, Fio akan mengalah pada Dhea, mengikhlaskan Vean bersama Dhea, meski mungkin hubungan Dhea dan Fio akan menjauh.


Mereka tetap akrab, bahkan ....


Setiap kali mereka bersama, Fio akan selalu mengajak Dhea.


Tidakkah Fio mengerti perasaan Dhea?


Apa dia sengaja memanas-manasi Dhea?


Satu tahun, berlalu dengan kehampaan pada diri Vean.


Hubungannya dengan kedua orang tuanya semakin merenggang.


Orang-orang menatap Dhea seolah Dhea adalah duri dalam daging.


Vean semakin dingin


Dhea semakin pendiam


Tidak ada lagi godaan dari gadis itu.


"Kenapa kamu tidak pernah pulang, Vean?"


"Paling-paling juga mama sama papa membicarakan soal perjodohan itu. Kapan mau dibatalin?"


"Apa yang kurang dari Fio?"


"Di mataku, semua yang ada di dirinya adalah kekurangan."


"Dia cantik, baik, kaya, dari keluarga terpandang. Bahkan, saat dia tahu sahabatnya sendiri mencintai calon suaminya, dia tidak marah dan berlapang dada. Dia masih mau bersahabat dengan Dhea."


"Sidah tahu Dhea suka sama aku, tapi ke mana-mana malah ngajak ikut. Maksudnya apa coba? Mau pamer? Mau memanas-manasi? Coba deh, kalau mama jadi Dhea, gimana perasaan mama? Kalau mama jadi Fio, apa tega sama sahabat sendiri begitu? Gimana bagusnya tuh cewek!"


Candra menatap lekat anak laki-lakinya itu. Matanya menerawang ke beberapa tahun lalu. Sebagai seorang ayah, dia sangat tahu bagaimana Vean.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


"Kau mau ngejodohin Dhea sama Juna. Siapa tahu saja kan, dia bisa melupakan kamu dan mendapatkan pria yang lebih baik."


Cewek sialan. Kalau bukan karena mama, mana Sudi aku bertemu dengan kamu!


"Juna kan ganteng, calon dokter, kaya, pintar. Gak ada yang kurang dari dia. Mana ramah dan perhatian lagi. Kayaknya dia juga suka sama Dhea."


Vean mengepalkan tangannya.


Meskipun aku harus mati, aku akan membatalkan perjodohan ini ....