
Setiap hari, Vean akan menyempatkan diri ke kosan Dhea. Berdiam diri selama berjam-jam di kamar itu.
Seperti hari ini ....
Sejak pagi sekali Vean sudah datang. Masuk ke dalam kamar Dhea. Memeluk bantal guling itu, bahkan tidur di atas kasur lantai Dhea. Ibu kos membiarkan saja, dia tahu siapa Vean, pria yang pernah mengantar Dhea saat gadis itu masih kelas satu SMP. Pria yang menjadi sumber senyum dan tangis anak kosnya, yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri.
Bahkan kadang Vean akan bermalam di kamar itu, tidak kekar dari kamar, dan langsung pergi jika sudah waktunya untuk bekerja.
Hanya datang sendiri, tanpa ada yang tahu. Berharap kalau si pemilik kamar akan pulang dan mereka akan bertemu di sini.
Vean melihat meja kayu Dhea, tempat biasa gadis itu meletakan buku-bukunya.
Kak Vean, i love you
Tulis gadis itu.
I love you too
Balas Vean di meja itu, yang sudah dia tulis sejak pertama dia kembali ke kamar ini setelah sakit.
Di dalam kamar kosan ini, Vean semakin merasakan bagaimana kehidupan Dhea dulu. Berbaring di atas kasur lantai. Vean bahkan membawa beberapa bajunya ke kosan ini.
Kamar ini memang ada di paling pojok, menyendiri dari kamar kosan yang lain.
Vean merasa nyaman tidur di sini. Jauh lebih nyaman daripada kamar di rumah kedua orang tuanya. Jauh lebih tenang daripada kamar di kondominium miliknya.
Vean akan makan di dalam kamar ini. Kadang hanya makan mie, kadang makan roti dan segelas air putih, atau teh hangat. Persis seperti yang biasa Dhea lakukan.
Bahkan, Vean anak berbicara sendiri di dalam kamar ini, seolah dia sedang menceritakan banyak hal pada gadis itu. Gadis yang dia lihat hanya dalam bayangannya saja.
Hanya berada di kamar ini, Vean bisa menghilangkan sedikit rasa hampanya.
Sedikit, hanya sedikit saja, karena tetap saja tidak ada Dhea di sisinya.
"Kamu lagi apa? Sudah makan? Apa kamu sedang makan coklat saat ini?"
Sejak coklat terakhir pemberian Dhea habis, Vean tidak pernah makan coklat lagi.
...💦💦💦...
Sayang, aku datang.
Hari ini Vean dan Arya ke Amerika.
Di sini, Vean tiba-tiba saja merasa bimbang. Timbul ketakutan tak jelas dalam dirinya. Dia ingin mencari Dhea, tapi dia juga takut. Takut Dhea akan menolaknya.
Dalam hati kecilnya, dia merasa bersalah sudah menerima donor ginjal itu.
Dalam hati kecilnya, dia merasa tetap saja tak sesempurna dulu.
"Tuan ingin melihat para mahasiswa dari Indonesia?"
"Tidak," ucapnya dengan ragu, tapi wajahnya terus menoleh ke mana-mana, mencoba melihat apakah ada Dhea.
Vean gelisah, entah kenapa, dia sendiri tidak terlalu yakin kalau Dhea ada di kampus ini.
Ada di negara yang sama, tapi Vean tetap merasa hampa.
Vean menatap langit.
Dhea, langit tak seindah dulu. Apa kamu juga merasakan hal yang sama?
Beberapa hari di negara ini, Vean sama sekali tidak merasa bahagia. Dia merasa ada di tempat yang kosong.
Aku ingin pulang ....
Pulang ke tempatnya, pulang ke kosan yang ada aroma Dhea di sana. Bahkan, Vean menyemprotkan sedikit minyak wangi yang dia beli di minimarket dekat kosan Dhea. Minyak wangi yang sama dengan milik Dhea, yang dia semprotkan ke tangannya.
Sebagai aroma penawar rindu ....