
"Ada apa, Dhea?"
"Kak, itu kata tukang kosan sama konveksi mau dibikin empat lantai? Uangku belum cukup, Kak."
"Aku yang nyuruh bikin empat lantai," ucap Vean.
"Aku yang bayar."
"M ...."
"Enggak usah bilang makasih, kan sama calon suami sendiri."
Vean langsung pergi, wajahnya memerah dan dia mengibas-ngibaskan tangannya sendiri di depan wajahnya, merasa panas di pipi.
"Dia yang ngomong, dia yang malu," ucap Juna.
"Bubar sana bubar. Jangan ada yang menggosip!"
"Biarin, Dhea. Dia ini yang bayar. Woi Vean, sekalian rumahku bikin empat lantai!" teriak Juna.
"Jangan bawel, beli sayur sana. Masak yang enak!" ucap Arya.
Segala tukang dagangan yang sering lewat di sana, merasa heran. Lingkungan yang tadinya sepi, mendadak ramai. Belum lagi para penghuninya yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng.
Kalau Dhea membuka kosan dan konveksi, maka tidak jauh dari situ—cukup berjalan kaki saja—Vean membuka membuat minimarket.
"Sekalian lah, buat taman dan fasilitas lainnya," ucap Felix.
"Nanti aku bikin klinik." Ini tentu saja ide dari Juna, gak jauh-jauh dari kesehatan.
...💦💦💦...
Pagi-pagi sekali, pintu rumah Dhea diketuk.
"Dhea, aku ada rapat pagi ini."
"Ya sudah, Kak. Sana pergi, nanti kesiangan."
"Pasangin dasi."
"Hah?"
Vean langsung menyerahkan dasi ke tangan Dhea.
"Sini aku saja. Aku pintar masangin dasi," ucap Juna.
"Ck, jangan ganggu!"
Dhea lalu memaksakan dasi di leher Vean. Di sana, Fio hanya memandang sambil berdecak kesal.
Dasar Vean!
Dhea membuat banyak rancangan di rumahnya. Dia memang tidak setiap hari pergi ke butik, lebih suka bekerja di rumah. Rumah yang tidak besar, tapi sangat nyaman.
...💦💦💦...
Dhea menatap langit malam dari jendela kamarnya. Gadis itu menghela nafas berkali-kali.
Kenapa kakak bersikap seolah aku ini kekasih kakak. Apa kakak tidak takut Fio marah?
Tepat di sebelah rumahnya, Vean juga sedang menatap langit dari jendela kamarnya.
Aku akan memperjuangkan kamu, Dhea. Kalau di masa lalu aku menjadi penyebab gagalnya impian kamu, maka mulai sekarang dan di masa mendatang, aku akan membantu kamu mewujudkan impian kamu.
Di rumah tetangga yang lain.
Fio merasa gelisah. Di rumah ini sangat sepi, dan dia tidak betah.
Ke rumah Dhea saja.
"Dhea!" teriak Fio memanggil Dhea.
"Kenapa, Fi?"
"Temani aku, aku takut di rumah sendirian. Kemarin masih ada mama dan papa, tapi sekarang mereka sudah pulang."
"Dasar manja! Kalau takut, enggak usah tinggal sendiri. Nyusahin tetangga!" ucap Arya.
"Ya sudah, ayo aku temani."
Lingkungan yang tadinya biasa saja, kini menjadi ramai dengan kehadiran mereka. Apalagi mereka semua masih muda, sering nongkrong bareng dan jajan makanan yang lewat di depan rumah.
Bagas dan adik-adik yang lain, sibuk main gitar. Pembangunan untuk kosan dan konveksi juga sudah mau selesai.
Vean menutupi tubuh Dhea dengan sweater miliknya.
"Bang, wedang jahe."
"Kopi, dong."
"Enggak ada cemilannya, ini?"
"Ra, besok jangan lupa pesan mesin jahit dan kebutuhan lainnya. Buat kebutuhan kosan, aku saja yang pesan."
"Oke."
"Jangan capek-capek, Dhea," ucap Juna.
"Besok biar kami yang berkebun, Kak," ucap Bagas.
Dhea menguap beberapa kali. Dia mulai terpejam dengan bersandar di kursi kayu depan rumah Fio.
Vean yang melihat itu, menyadarkan kepala Dhea di pundaknya.
Jadikan aku sandaran kamu, untuk selamanya!