Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
243 Gang CEO


Hari ini suasana perumahan yang bernama perumahan CEO itu sangat ramai sejak pagi tadi. Bukan hanya di satu titik saja, tapi dari gerbang depan sampai ke gang buntu paling belakang.


Nama perumahan itu tentu saja aslinya bukan bernama CEO, tapi diganti oleh para pedagang dan penghuni di sana, karena ada satu gang yang isinya rata-rata para CEO.


Para petugas keamanan sudah siap siaga, para pedagang juga sudah sibuk dengan banyak gerobak. Hari ini akan diadakan pembukaan taman bermain.


"Ini kenapa jadi ramai begini, sih? Kan cuma taman bermain kecil doang? Kenapa pejabat setempat malah ikutan datang?" tanya Dhea.


"Emang mau ngadain pembukaan seperti apa? Pemotongan pita?" tanya Aila.


Vean hanya meringis saja.


"Bukan aku, Yang. Aku juga mana tahu kalau ramai begini."


"Gas, kamu sudah cari tahu?"


"Jadi gini, Bang. Usut punya usut, ini berawal dari seseorang yang bilang di kompleks ini dibikin taman bermain. Nah, lama-lama ramai deh, tuh. Katanya ini disponsori oleh seorang CEO."


"Terus?"


"Ya makin lama, makin ramai. Dari tingkat RT sampai kelurahan kecamatan, jadi heboh."


"Tapi kenapa kami gak pernah dengar? Gak ada yang konfirmasi juga, ada yang mau datang. Seharusnya kan, kalau ada apa-apa, pasti ada tuh yang kepo."


"Hm, gimana ya ngejelasinnya. Agak ribet, ini."


"Apa?"


"Katanya, ini tuh dibikin buat kejutan sang pemilik untuk istri tercinta yang lagi hamil. Gak ada yang boleh sesumbar, jadinya mereka gak berani datang."


"Haduuh, gosip dari mana itu?"


"Kayak-kayaknya sih, salah satu pedagang ada yang bikin hoaks, biar dagangannya ramai."


"Terus gimana? Ya kali mau kita bilang gak ada acara apa-apa. Kita kan cuma mau nonton acara layar tancap doang nanti malam."


"Dah, biarkan saja," ucap Juna.


"Jadi bikin acara benaran?"


"Ya mau gimana lagi."


Vean dan yang lain berpikir, lalu mereka mengambil ponsel masing-masing. Ada yang memesan makanan dalam jumlah besar. Ada yang memesan tenda, ada lagi yang memesan alat bermain untuk taman.


Mereka repot?


Ada lagi yang lebih repot, yaitu restoran hotel milik Vean. Yang tadinya sift malam dan libur, dipanggil untuk lembur.


EO milik Aila juga jadi kelabakan, tidak punya perencanaan sama sekali.


"Bagas, baru yang lain bikin panggung."


"Siap, Bang."


"Erza, siapkan tim keamanan."


"Baik, Tuan."


"Yuki mana, Yuki?"


"Micell, tolong cariin Yuki dan Faustin. Duh itu anak dua ngumpet di mana, sih?"


Jalanan di luar sana macet total. Para pedagang itu sih, asik-asik saja. Girang malahan, tanpa tahu akibat yang sudah mereka lakukan, membuat kehebohan dan repot orang-orang.


Felix dan Steve juga sudah menghubungi orang-orangnya untuk membantu. Ini benar-benar acara dadakan tanpa perencanaan sama sekali.


"Seharusnya ada yang konfirmasi dulu ke kita. Malah langsung percaya begitu aja."


"Taman kecil begini, pembukaannya heboh banget. Apa gak malu, ya?"


"Nanti digedein," ucap Felix asal.


"Lama-lama kita bisa bikin mall di sini."


Mereka tertawa saja.


"Tenang saja, masih banyak tanah kosong di sini."


"Siapa yang sangka, perumahan sepi begini malah jadi ramai dan berubah elit."


"Malah katanya dulu ini perumahan gak laku, makanya sepi. Pihak pengembangnya mau rugi."


Vean diam saja mendengar pembicaraan mereka, karena memang dia sudah membeli perumahan ini. Dia memang berencana untuk mengembangkan tempat ini. Bahkan masih banyak tanah kosong yang memang menjadi bagian dari wilayah perumahan, yang tentu saja sekarang sudah menjadi miliknya.