Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 59


Malam hari Revin sedang berdiri di balkon kamarnya. Menikmati suasana dan udara segar di malam hari.


"Sebenarnya foto siapa yang tadi mereka lihat." gumam Revin.


"NISY."


Revin memang tidak sempat melihat foto itu. Tapi ia sempat melihat nama yang ada di belakang foto itu. Dan itu sudah membuat pikirannya penuh dengan hanya memikirkan nama itu.


"Njiirr.. Kenapa tiba-tiba gue mikirin nama yang ada di foto itu sih. Pokoknya gue harus cari tahu. Pasti ada yang mereka sembunyikan." kata Revin. "Tapi gimana caranya? Arrgghhh... Bego banget sih gue. Kenapa tadi gue nggak langsung ambil tuh foto. Klo seperti ini gimana caranya gue bisa tahu siapa yang ada di foto itu." lanjut Revin kesal pada dirinya.


🌺  Di Rumah Jani  🌺


"Juna.!!" panggil Jani.


"Apaan ka." jawab Juna.


"Lu jadi ke Minimarket.?"


"Ini gue mau berangkat. Kenapa emang ka.?"


"Gue nitip camilan dong."


"Uang."


"Ckk.. Sama Kakak sendiri juga perhitungan banget sih. Pake duit lu dulu lah." kata Jani dengan mengkerucutkan bibirnya.


Juna memutar kedua matanya malas. "Mau titip camilan apa.?" tanya Juna.


"Terserah lu aja." jawab Jani tersenyum.


"Yaudah gue berangkat dulu. Kakak hati-hati di rumah. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Juna pun pergi dengan menggunakan motor. Tidak butuh waktu lama Juna sampai di Minimarket. Ia parkir motornya di area parkir Minimarket. Setelah itu dia masuk ke dalam dan langsung memilih belanjaan yang mau ia beli dan pesanan Kakaknya.


Setelah selesai dengan belanjaannya ia pun membayar belanjaannya. Juna bergegas pulang ke rumah. Saat sampai depan Minimarket Juna melihat wanita yang sepertinya tidak asing.


"Put." panggil Juna ragu-ragu takut salah orang.


"Eh,Juna." kata Puput yang kaget bertemu Juna.


"Lu ngapain di sini dan sama siapa.?"


"Hmm... Sendiri aja. Puput duluan ya.!"


Saat Puput ingin pergi. Tangannya lebih dulu di cekal oleh Juna.


"Tunggu Put."


Langkah Puput terhenti dan melihat tangannya yang di genggam Juna.


"Ada apa.?" tanya Puput melepaskan tangannya dari genggaman Juna.


Juna melihat genggamannya di lepas oleh Puput. Ada perasaan yang tidak biasa tapi entah itu apa. Juna pun tidak tahu.


"Soal kejadian waktu itu di Mall. Gue benar-benar minta maaf. Gue nggak ada maksud un--"


"Juna nggak salah jadi nggak perlu minta maaf. Seharusnya Puput yang minta maaf karena sudah salah faham atas semua kebaikan Juna ke Puput." potong Puput cepat.


"Maaf karena selama ini Puput mengira Juna punya perasaan yang sama seperti Puput. Tapi ternyata Puput salah. Seharusnya dari awal Puput sadar diri. Bahwa seorang Arjuna Syavino tidak akan pernah mempunyai rasa ke Puput yang seperti ini. Sekali lagi Puput minta maaf." lanjut Puput tanpa menatap wajah Juna.


"Bukan seperti itu maksud gue Put. Di sini yang salah memang gue. Seharusnya dari dulu gue jelaskan sama lu soal kedekatan kita yang hanya sebatas teman."


"Iya,,Puput mengerti. Titip salam juga ke pacar Juna. Puput benar-benar minta maaf dan janji nggak akan pernah ganggu Juna lagi." lirih Puput dengan menundukkan kepalanya.


*Deg*


Entah mengapa mendengar ucapan Puput di akhir kata. Jantung Juna berdetak kencang. Juna sendiri tidak tahu apa sebabnya.


"Puput duluan." pamit Puput.


Puput meninggalkan Juna yang masih terdiam dengan pikirannya. Beberapa detik kemudian Juna tersadar dari lamunannya. Tapi di saat itu pun Juna melihat Puput yang sudah masuk dan mengendarai mobilnya.


Juna pun berjalan ke motornya dan mengendarai motornya kembali pulang. Tidak membutuhkan waktu lama sampai rumah. Juna memarkirkan motornya di dalam garasi dan setelah itu ia berjalan ke dalam rumahnya.


"Assalamu'alaikum." salam Juna saat masuk ke rumahnya.


"Wa'alaikumsalam. Lu belanja camilan apa shoping ke Mall sih lama banget." dengus Jani yang bete menunggu lama kedatangan Adiknya.


"Hehehe sorry ka. Nih pesanan lu." kata Juna sambil memberikan satu kantong plastik ke Kakaknya.


"Thank you my boy." kata Jani sambil menerima pesanannya.


"Hmm.." jawab Juna dengan wajah murung.


"Lu kenapa mukanya kusut gitu. Abis ketemu rentenir lu di jalan." goda Jani.


Setelah sampai di dalam kamarnya. Juna berdiri di balkon kamar.


"Kenapa sama diri gue sih. Kenapa juga gue merasa nggak rela untuk dia menjauh dari gue? Seharusnya gue senang dong karena nggak harus berurusan sama cewek aneh itu lagi." kata Juna dalam hati.


"Arrgghhh... Kenapa gue jadi mikirin lu sih." kata Juna kesal pada dirinya sendiri.


"Karena di hati lu udah ada dia."


"Kakak." Juna di kejutkan oleh kedatangan Jani.


"Sejak kapan lu masuk ke kamar gue.?" tanya Juna saat melihat Kakaknya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Sejak lu teriak nggak jelas." jawab Jani sambil melangkah mendekat dan berdiri di samping Juna.


"Huuffttt.. Gue bingung banget ka." kata Juna yang menatap lurus ke depan.


"Sama perasaan lu." tebak Jani sambil melirik ke Juna dan mendapatkan anggukan oleh Juna.


"Lu nggak perlu bingung. Seperti yang lu bilang ke gue. Ikuti apa kata hati lu jangan terlalu egois dengan diri lu."


"Tapi lu tau sendiri kan ka. Klo gue nggak mungkin suka sama dia."


"Nggak ada yang nggak mungkin. Tanpa lu sadari di hati lu sudah ada dia. Nggak ada salahnya lu mencoba untuk memberi ruang di hati lu untuk dia."


"Terus gimana sama lu? Emang lu restui gue sama dia.?" tanya Juna.


"Ckk.. Kenapa lu baru bertanya gue restui lu apa nggak. Selama ini lu nggak pernah bertanya persetujuan gue. Terlebih dulu saat lu sama DIA." kata Jani dengan sengaja menekankan kata 'DIA'.


Ya,dulu saat mereka sekolah di Paris. Juna pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Jani pernah melarangnya tapi Juna tidak ingin mendengar apa kata Kakaknya. Ia lebih percaya dengan pacarnya itu.


Hingga suatu hari Jani mendengar Adiknya yang sudah putus dengan pacarnya. Tapi Jani enggan untuk menanyakan apa sebabnya hubungan mereka berakhir. Sejak kejadian itu. Juna tidak pernah mengenalkan pacarnya lagi ke Jani.


Entah Juna yang tidak ingin mengenalkan pacarnya ke Jani atau Juna yang enggan untuk berpacaran lagi. Karena selama ini Jani hanya mendengar Adiknya memang dekat dengan beberapa wanita di sekolahnya. Bahkan dengan terang-terangan mereka mengaku bahwa mereka pacarnya Juna. Tapi Juna tidak mengakuinya karena Juna hanya menganggap mereka semua teman.


"Maafin gue ka. Seharusnya dulu gue mendengarkan apa kata lu." kata Juna menyesal.


"Lu masih ingatkan Jun. Dulu gue sangat melarang lu pacaran sama dia tapi lu abaikan gue. Gue melakukan itu karena gue mempunyai alasan. Dan sejak saat itu pun gue nggak mau ikut campur lagi. Bukan karena gue nggak perduli lagi sama lu. Tapi karena gue yakin sejak kejadian itu lu bisa menilai seseorang tulus sama lu atau nggak." Jani menjeda ucapannya.


"Dari dulu gue nggak pernah ingin memiliki musuh. Itu karena mereka aja yang menganggap gue musuh mereka. Gue seperti ini karena lu juga tau apa sebabnya. Sekarang lu udah dewasa Jun. Jadi gue nggak mau ikut campur karena gue yakin lu bisa mendapatkan yang terbaik untuk lu. Gue akan selalu merestui siapa pun wanita pilihan lu nanti. Selama itu bisa buat lu bahagia."


"Ikuti apa kata hati lu jangan ego yang akan membuat lu menyesal. Gue perhatiin dia gadis yang baik. Jadi nggak ada salahnya lu kasih kesempatan untuk dia." lanjut Jani dengan menatap Juna.


Juna menaikan alisnya. "Kenapa lu bisa bilang dia gadis yang baik. Emangnya lu tau siapa gadis yang gue maksud itu.?" tanya Juna.


Jani memutar kedua matanya malas. "Lu lupa? Kita kan anak kembar. Jadi tanpa lu kasih tau gadis itu pun gue tau lu sedang memikirkan siapa." jawab Jani santai.


"Siittt.. Yaudah sana lu kembali ke kamar." usir Juna.


"Lu ngusir gue."


"Yaps. Hal yang sama seperti yang lu lakukan ke gue dulu." sindir Juna.


"Njiirrr.. Dasar Ade nggak ada akhlak lu." sungut Jani sambil memukul lengan Juna.


"Udah sana gue mau bogan." kata Juna berjalan ke arah pintu kamarnya.


"Apa tuh bogan.?" tanya Jani.


"Bobo ganteng." jawab Juna sok ganteng. Memang pada dasarnya dia ganteng.


"Idih pedean lu."


"Bukan pede tapi fakta ka."


"Bodo amat lu ngomong situ--"


"Sama tembok." potong Juna cepat.


"Nah itu lu tau hahaha." kata Jani sambil tertawa.


"Udah sana-sana keluar." kata Juna mengusir sambil membuka pintu kamarnya agar Kakaknya cepat keluar dari dalam kamarnya.


"Dih jahat banget lu kakak sendiri di usir." kata Jani sambil cemberut tapi tetap berjalan ke arah pintu.


"Sekali-kali ka. Gue kan pengen konsultasi sama tembok. Bay kakaku yang super cantik. Selamat istirahat." kata Juna yang langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya.


"Dasar setres." seru Jani.


"Jangan gitu ka. Gue kan kembaran lu." teriak Juna dari dalam kamarnya.


"Bodoo.!!" balas Jani.


Jani pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.