
"Dia pergi begitu saja tanpa pamit. Aku tidak tahu apakah gadis itu akan kontrol ke rumah sakit atau tidak. Apa dia minum obatnya dengan teratur atau tidak. Apa dia menjalankan pola hidup yang sehat atau tidak. Lalu aku mengutus Arya untuk segera mencarinya. Arya mencari Dhea ke Amerika, tapi tidak ada."
"Dia ... dia ada di Jogja."
"Apa?"
"Aku dan Dhea di Jogja," ucap Clara dengan tersendat.
Vean mengepalkan tangannya. Dia tidak ingin percaya, tapi inilah yang dia dengar.
Bisakah dia meminta pada Tuhan untuk menulikan saja dirinya saat ini? Agar dia tidak perlu mendengar kenyataan pahit ini. Kenyataan yang membuat hatinya sakit.
Kak, ayo kita kencan
Kak, jadilah pacarku
Kak, aku suka Kakak
Kak, aku cinta kakak
Kak Vean ....
Kak Vean ....
Hancur, itulah yang Vean rasakan saat ini. Dunianya dijungkir balikan karena fakta ini.
Vean ingin marah, tapi marah pada siapa?
Pada dirinya sendiri yang menjadi penyebab semua ini?
Pada Juna yang sudah berpura-pura demi Dhea dan dokter Bram?
Pada dokter Bram yang membohongi dirinya?
Pada Dhea yang mendonorkan ginjalnya?
Atau pada Tuhan yang memberikan takdir ini pada mereka?
"Aaarrggghh ... arrgghg!"
Tidak peduli ini di rumah sakit, karena Vean memang merasakan sakit saat ini. Hatinya begitu sakit mengetahui ini.
"Kenapa? Kenapa?" tanya Vean dengan penuh rasa sesak.
Kenapa setelah bertahun-tahun, dia baru tahu semua ini?
Arya menatap Mila dengan tatapan benci.
"Kenapa Anda diam saja Nyonya? Apa Anda ingin menghina Dhea lagi? Kenapa sekarang membisu?"
Mila menunduk, sifat angkuhnya entah menghilang ke mana, tertelan oleh fakta yang yang selama bertahun-tahun ditutup rapat-rapat oleh orang-orang yang mengetahuinya.
"Kalau saja aku bisa mencegahnya, maka aku akan mencegah Dhea mendonorkan darahnya untuk perempuan ini. Lebih baik dia saja yang mati!"
Mila dan Ronald menatap Arya, merasa tidak suka dengan perkataan Arya itu.
"Apa? Sakit kan, saat anak kalian diharapkan mati seperti itu? Kamu menghina Dhea tanpa tahu bahwa karena Dhea lah putri manja kesayangan kamu itu bisa bertahan hidup." Suara Arya terdengar sangat membenci.
"Seharusnya Dhea tidak perlu memberikan darahnya. Kalau memang dia mau merebut Vean, seharusnya dia biarkan saja sahabat yang menyebalkan itu mati kekurangan darah."
Deg
Jantung Mila berpacu dengan cepat. Ada rasa sesak tersendiri yang dia rasakan. Doa yang selama ini menghakimi Dhea dan menuduhnya macam-macam. Iri doa lakukan sebagai bentuk perlindungan kepada putrinya.
"Saya ... saya hanya takut Dhea merebut Vean."
Arya dan dokter Bram mendengus bersamaan.
Kini Aila, Sheila, Felix dan Steve tahu apa yang menjadi penyebab ketidak sukaan Mila pada Dhea.
Cinta segitiga
Dan Dhea sudah mengorbankan segalanya demi mereka.
Bahkan mereka ikut merasakan sesak.
Vean terlihat sangat kacau. Friska mendekati Vean dan memeluk anaknya itu, yang terduduk di lantai, masih menjambak rambutnya sendiri.
"Kenapa? Kenapa?" lirihnya.
Nafasnya terasa sesak.
"Kenapa harus Dhea yang mendonorkan ginjal itu? Kenapa tidak biarkan saja aku?"
Fio menggigit bibirnya kuat-kuat. Gadis itu menepuk-nepuk dadanya. Sahabat yang dia pikir pergi begitu saja, ternyata sangat peduli padanya. Fio memeluk papanya, menangis sesenggukan di dada ayahnya.
Dia sudah memberikan banyak hal padaku, lalu apa yang aku berikan padanya selain barang-barang yang aku pikir bisa menyenangkan hatinya?