
Hari ini Vean menghadiri acara reuni dengan teman-teman kampusnya. Dia mengajak serta anak dan putri kecilnya. Dhea dan Yuki memakai gaun putih.
Yuki seperti peri kecil dengan pipi tembem, bulu mata lentik dan mata yang bulat. Tidak henti-hentinya Vean menggigit gemas pipi chubby itu.
"Kaya bakpao."
Yuki berceloteh, menepuk-nepuk mulut Vean yang terus saja menciumnya.
"Ayo, Yang."
Hampir satu jam kemudian mereka tiba di tempat acara. Acara yang diadakan di salah satu hotel ternama. Vean menggendong Yuki, dan sebelah tangannya menggenggam tangan Dhea.
Penampilan keluarga kecil itu menarik perhatian orang-orang. Bagaimana tidak, ketiganya terlihat serasi dengan pakaian kembar mereka, yang didesign secara khusus oleh Dhea. Yuki juga terlihat nyaman dengan gaun bayinya.
"Kita kaya raja, ratu dan putri mahkota yang sedang disambut oleh rakyat jelata ya, Kak?"
Vean tertawa mendengar perkataan Dhea. Tawa renyah Vean itu membuat teman-teman kampusnya takjub. Vean—sang ketua BEM, yang pendiam, kini tertawa. Di belakang Vean dan Dhea, tentu saja ada Juna, karena mereka juga masih satu kampus meski beda jurusan.
"Yuki biar aku yang gendong," ucap Juna.
"Malu ya, gak punya gandengan?" tanya Dhea.
"Ck, belagu!"
"Lagian bukannya ngajak Fio."
"Dih, yang ada aku kaya jadi baby sitter dia, lagi."
"Nanti bucin loh, sama Fio."
Juna mendengkus, lalu merebut Yuki dari gendongan Vean.
"Sini Sayang, sama ayah. Panggil ayah, ya. Ayah!"
Kali ini, Vean yang mendengus. Anaknya diaku-akui orang lain.
Kenapa tidak bikin aja sendiri.
Sama siapa?
"Ayo Yang, biarin aja dia ngurus Yuki. Kita pacaran. Paling nanti dia dikira duda beranak satu."
"Iya. Jangan sampai Yuki nangis, ya."
Wajah Juna langsung cemberut. Dia merasa dimanfaatkan."
Vean membawa Dhea menemui teman-teman kampusnya. Dia selalu menggenggam tangan istrinya itu, sangat posesif.
"Vean, apa kabar?" tanya seorang perempuan, yang dulu menjadi primadona kampus.
Vean diam saja, seolah tidak mengenal perempuan itu. Sedangkan perempuan itu melirik pada Dhea, melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kak, apa aku terlalu mempesona sampai dipandangi penuh kekaguman seperti itu?" bisik Dhea, tapi masih bisa didengar oleh orang lain.
Vean mengangguk-angguk seperti anak kecil. Sikap Vean itu semakin membuat yang lain heran. Jelas sekali kalau Cintya itu sedang merendahkan Dhea. Belum tahu saja mereka, kalau Dhea itu orang yang percaya diri.
Cintya tersenyum meledek, dibalas senyuman meledek juga dari Dhea.
"Sayang, aku haus."
Mendengar Dhea yang memanggilnya Sayang, wajah Vean langsung merona. Dia menggigit bibir dalamnya. Rasanya dia jadi ingin melayang. Pria itu seperti anak ABG yang sedang digombalin oleh murid populer di sekolahnya saja.
"Sayang, jangan menatapku seperti itu. Kamu membuatku ingin memakanmu saja."
Kali ini, Juna yang menggigit bibirnya. Dia berusaha mati-matian menahan tawa. Vean bisa kejang-kejang kalau terus digombalin Dhea.
Dan apa katanya tadi?
Memakan Vean?
Ya ampun, Juna jadi merinding.
"Sayang, jangan bicara begitu. Aku malu," ucap Vean, menunduk malu-malu.
Dhea jadi gemes. Maksud hati ingin memanasi bibit pelakor, malah suaminya yang grogi.
Juna pura-pura sibuk dengan Yuki, tapi kupingnya aktif mendengar. Tiba-tiba saja dia membayangkan kalau Fio yang bicara seperti itu. Mendadak Juna pucat, bukannya gemes, tapi malah serem.