Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
132 Seperti Itu Pun ....


Vean berlari saat melihat Dhea yang merintih kesakitan di lantai. Vean mengepalkan tangannya saat melihat Mila yang malah hanya diam saja melihat Dhea yang seperti itu.


"Sakitt ...."


Pria itu memegangi tubuh Dhea dengan tangan bergetar. Dia melihat Arya yang mengambil obat dengan sangat cepat dari dalam tas gadis itu.


Tidak, tidak, tidak, jangan sakit!


Vean mengikuti Arya yang membawa Dhea. Tubuhnya bergerak begitu saja dengan hati kalut dan jantung seolah mau copot dari tempatnya.


Mereka tiba di rumah sakit.


Lutut Vean seolah tak bertulang melihat Dhea yang semakin pucat, dengan darah segar yang mengalir dari hidungnya.


Vean memegang tangan Dhea, yang baginya terasa lemah, seolah tangan itu sudah tidak kuat lagi untuk memegang apa pun.


Pria melihat pintu ruangan UGD yang semakin mendekat.


Mata mereka bertemu, tapi seolah Dhea sudah tidak bisa melihat apa pun.


Pintu tertutup, memisahkan Vean dengan bagian dari dirinya ....


Entah menunggu mana yang menyakitkan.


Menunggu Dhea dewasa lalu bisa menikahi dirinya.


Menunggu Dhea kembali dengan rasa rindu yang menggebu, yang meronta dan tak memiliki obat penawar.


Atau menunggu pintu ruangan UGD terbuka.


Pertengkaran yang terjadi antara Mila dengan Arya, tidak dipedulikan oleh Vean. Dia terus menatap pintu, seolah pintu itu adalah gerbang kematian untuknya.


Dokter Bram keluar dari ruangan itu. Memberikan vonis kematian untuk Vean ....


"Dhea lah yang mendonorkan ginjalnya untuk Vean!"


Apa?


Tidak, tidak, aku pasti salah dengar. Tidak seperti itu kenyataannya. Dhea-ku mana boleh seperti itu. Dhea-ku harus tetap sehat.


Aaaa, tidak, tidak boleh Ghea. Siapa pun boleh, tapi jangan Dhea. Jangan Dhea. Kenapa kamu melakukan semua ini padaku, Dhea? Kenapa?


Vean menepuk-nepuk dadanya. Bisakah dia mengeluarkan lagi ginjal ini dan mengembalikannya pada gadis itu?


Aku tidak mau ginjalmu, Dhea. Aku hanya butuh kamu di sisiku. Aku hanya mau kita bersama tanpa lagi saling menjauh.


...💦💦💦...


"Pa, Ma, aku mau bicara."


"Kami akan mendukung keputusan kamu, Vean. Lakukan apa pun yang terbaik untuk dirimu."


Vean masuk ke dalam kamarnya, mengambil semua barang-barang yang pernah diberikan oleh Dhea ke dalam koper besar. Bahkan kertas bungkus coklat-coklat yang pernah Dhea berikan, dia simpan.


Dia tidak membutuhkan baju-baju. Baju masih bisa dibeli, tapi semua kenangan tentang Dhea, tidak akan pernah ada gantinya.


Vean pergi ....


Membawa semua kenangan tentang dirinya dan Dhea. Pergi dari satu negara ke negara lainnya. Memeluk barang-barang itu sebelum tidur.


Vean sudah berjanji tidak akan lagi meninggalkan apalagi melepaskan Dhea. Semangat hidupnya adalah Dhea.


Bahkan jika nanti kita pergi bersama, aku tidak akan pernah menyesal, yang penting kita bisa tetap bersama.


Vean menatap botol obatnya, lalu meletakkannya di atas nakas.


Seharusnya aku tidak pernah menerima donor itu. Maafkan aku, Sayang.


Mengingat wajah pucat Dhea, menyakiti hati Vean.


Dia membayangkan bagaimana sakitnya Dhea.


Biarkan kamu berbagi rasa sakit yang sama untukku.


Pria itu memeluk foto Dhea saat SMP. Vean tersenyum, tapi juga menangis.


Kalau kamu sakit, aku akan sakit. Kalau kamu sehat, maka aku akan sehat.


Entah di dunia ini atau di sana, aku akan terus mengikuti kamu. Karena aku adalah takdir kamu. Selamanya ....


Seperti itu cara kamu mencintai aku, dan seperti itu caraku mencintaimu, selalu mengikuti kamu ke mana pun kamu pergi, Sayangku ....