
"Vean, kamu minum ini dulu."
"Apa ini, Ma?"
"Air jahe, biar tidak mual."
"Yang ini buat Dhea, air lemon."
"Kalian berdua tidur saja, nanti jam makan siang, mama bangunin."
...💦💦💦...
Dhea terbangun, dan tidak melihat ada Vean di sebelahnya. Dia ingin keluar kamar, tapi terlalu pusing untuk bangkit.
"Kamu sudah bangun? Ini aku bawakan salad buah dan roti tawar."
"Gak ada olesannya kan, Kak?"
"Gak ada."
Dhea lalu memakan makanan itu, untung saja dia tidak merasa mual.
"Gimana, apa masih mual?"
"Kalau makan ini, enggak."
"Minum susu, ya?"
"Enggak."
"Sedikit saja, yang penting minum."
"Nanti sore saja."
"Ya sudah."
Vean lalu mengoleskan minyak ke punggung Dhea dan memijitnya pelan, agar tidak pegal karena seharian ada di atas kasur.
Sore harinya, Vean membuatkan susu hamil rasa coklat. Dhea langsung meminum susu iri sampai habis, dan meminum segelas air putih.
"Kak, boleh tidak, kalau aku duduk di taman? Aku bosan."
"Boleh." Vean langsung menggendong Dhea dan membawanya ke halaman depan.
"Aku bisa jalan sendiri, Kak."
"Aku tahu, tapi kamu tidak boleh kelelahan."
Dhea langsung meletakkan kakinya di batu pijat refleksi. Menghirup udara sore di taman membuat Dhea bisa lebih rileks. Bianca datang dan membawakan martabak ketan yang masih hangat untuk mereka.
"Ini teh madu untuk Dhea. Masih hangat, ayo minum."
"Mama gak repot, malah senang punya cucu pertama. Nanti tinggal nunggu Arya dan Juna yang menikah."
Dhea melihat teman-temannya yang satu persatu pulang dari kerja. Aila pulang bersama Felix, sedangkan Sheila pulang bersama Steve. Fio pulang sendiri. Clara pulang bersama Micel.
"Dhea, aku bawakan martabak telur untuk kamu," ucap Aila.
"Makasih, ya."
"Nanti kalau kita semua punya anak, pasti ramai sekali, ya. Tiap sore kita akan menemani anak-anak kita main bersama."
"Aku jadi ingat waktu SD. Perasaan Bekim lama ya, Fio, kita main bersama," ucap Dhea kada Fio yang baru datang dengan membawa asinan.
"Iya, dulu masih anak-anak, sekarang sudah mau punya anak. Ternyata kamu sudah tua ya, Dhea."
"Aku sama kamu juga, tuaan kamu, Fio!"
"Nanti kalian makan malam di sini saja, ya. Tante sudah masak yang banyak."
Kedua orang tua Vean dan Juna memutuskan untuk tinggal bersama anak mereka di sini. Keadaan Dhea membuat mereka khawatir. Kama lebih baik jika mereka tinggal berdekatan.
"Asyik, makan gratis."
Malam harinya, setelah makan malam, Dhea kembali mengeluarkan isi perutnya. Wajahnya sangat pucat dan membuat Vean khawatir.
"Aku mau tidur saja, Kak. Temani aku, ya."
"Iya."
Vean menggendong Dhea menuju kamar. Pria itu membaringkan tubuh Dhea dengan pelan.
"Ayo tidur, aku akan jagain kamu."
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Dhea tidur.
"Dhea sudah tidur?"
"Sudah. Ma, kenapa Dhea muntah banyak sekali?"
"Kondisi ibu hamil beda-beda, Vean. Dulu mama mual-mual sampai enam bulan. Badan mama sampai kurus banget, sampai harus diinfus karena kekurangan cairan juga."
"Besok mama akan membuat olahan makanan yang tidak terlalu keras aromanya."
Banyak buah yang ada di rumah itu. Vean sendiri juga merasa pusing dan mual, hanya saja dia tidak mau membuat Dhea khawatir.
"Kamu minum obat dulu. Kamu juga harus jaga kesehatan, kasihan Dhea."
"Iya, Ma."
Vean meminum ramuan herbal yang dibuat oleh mamanya.