Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 63


"Eh,bang Revin. Ada perlu apa bang malam-malam ke sini.??" tanya Juna.


"Kakak lu ada di rumah.??" tanya Revin balik.


"Ada. Masuk aja bang." kata Juna mempersilahkan masuk.


Drreettt...drreettt...drreettt...


Drreettt...drreettt...drreettt...


Drreettt...drreettt...drreettt...


Saat Juna mempersilahkan Revin duduk. Ada yang telphone dan ia langsung menerima panggilan telphone.


^^^"Halo."^^^


"........ "


^^^"Di rumah. Kenapa.?"^^^


"....... "


^^^"Oke. Gue ke situ sekarang."^^^


Juna menutup panggilan.


"Bang Revin buru-buru nggak.??" tanya Juna.


"Nggak. Kenapa emang.??" tanya Revin.


"Gue ada urusan sebentar. Jadi tolong titip ka Jani dulu ya. Bang Revin baliknya ntar aja tunggu gue pulang nggak papa kan.??"


"Owh gitu. Yaudah santai aja gue juga nggak buru-buru."


"Makasih ya bang. Nanti klo ka Jani tanya bilang aja gue keluar sebentar."


"Iya."


"Ke atas aja bang. Pasti ka Jani belum tidur. Tadi dia baru balik ke kamarnya."


"Nggak papa nih gue ke atas.??"


"Nggak papa lah bang. Santai aja key sama orang lain aja. Yaudah gue pamit ya bang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah kepergian Juna. Revin menaiki anak tangga menuju ke kamar Jani.


Tok...tok...tok...


"Jan. Ini gue Revin. Lu sudah tidur apa belum.?" seru Revin dari balik pintu. Tapi tidak ada jawaban dari dalam.


Cukup lama Revin menunggu tapi tak kunjung pintu terbuka.


Tok...tok...tok...


"Jan. Gue masuk ya." izin Revin.


Revin pun membuka pintu perlahan dan ternyata tidak terkunci dari dalam. Revin melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Jani. Ternyata tidak ada Jani di dalam kamar.


Mata Revin tertuju pada bingkai foto yang tergeletak di atas meja. Revin ingat saat ia dan teman-temannya BBQ-an di rumah Jani dan saat Revin ingin melihat foto itu Jani lebih dulu datang. Dan mengambil foto itu dari tangan Revin.


Lalu di geletakan bingkai foto itu dengan terbalik. Yang membuat Revin tidak bisa melihat siapa yang ada di bingkai foto itu. Ternyata sampai saat ini bingkai foto itu masih dalam posisi yang sama.


Revin melangkah mendekat ke meja itu dan mengambil bingkai foto itu.


*Deg*


Betapa kagetnya Revin saat melihat siapa yang ada di foto itu.


"Revin." betapa kagetnya Jani yang baru keluar dari kamar mandi melihat Revin yang sudah berada di dalam kamarnya.


Revin melihat ke arah Jani ia masih memegang erat bingkai foto itu. Jani melihat yang di genggaman Revin.


"Mampus gue." umpat Jani dalam hati.


Buru-buru Jani melangkah mendekat ke arah Revin. Ia rebut foto yang ada di tangan Revin.


"Jangan lancang pegang-pegang barang orang." kata Jani dingin dan menyimpan foto itu di dalam laci.


"Apa yang ada di foto itu lu.?" tanya Revin dengan menatap Jani lekat.


"Bukan." jawab Jani cepat.


"Jawab gue dengan jujur Jan. Itu foto lu waktu kecil kan.??" tanya Revin tidak puas dengan jawaban Jani.


Jani diam tidak langsung menjawabnya.


"Jawab..!!!" bentak Revin dengan nada tinggi.


"Foto gue atau bukan. Itu nggak ada hubungannya sama lu." kata Jani yang sudah mulai emosi.


"Sekarang lu keluar dari kamar gue." usir Jani sambil menunjuk ke arah pintu.


Bukannya keluar tapi Revin malah berjalan mendekat ke arah Jani.


"Lu mau ngapain.??" tanya Jani panik saat Revin mendekatinya.


"Gue cuma mau lu jujur." kata Revin yang masih berjalan mendekati Jani.


"Gu-gue su-sudah ju-jujur." kata Jani dengan terbata seraya melangkah mundur.


Revin menyeringai. Berjalan semakin dekat ke arah Jani. Jelas saja apa yang di lakukan oleh Revin saat ini membuat Jani panik. Terlebih tatapan Revin terlihat sangat berbeda.


Semakin dekat,semakin dekat dan Jani yang mundur tanpa sadar sudah mentok pinggiran tempat tidurnya. Ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Jani pun jatuh ke atas tempat tidurnya dengan gerakan reflek ia menarik Revin. Jadilah mereka berdua jatuh di tempat tidur dengan posisi Jani yang berada di bawah dan Revin yang berada di atas.


Keduanya sama-sama terdiam. Hanya mata mereka yang saling berbicara dengan tatapan yang lekat satu sama lain. Jantung Jani berdetak semakin cepat dengan posisi mereka yang sekarang. Apa lagi saat ini Revin semakin memajukan wajahnya. Dan hal itu membuat Jani perlahan memejamkan matanya. Ia berharap jika saat ini hanya mimpi.


"I Miss You NISYA." bisik Revin tepat di telinga Jani.


*Deg*


Seketika Jani langsung melebarkan kedua matanya. Bisa di rasakan jika jantungnya saat ini berdetak semakin kencang. Ia memberanikan diri untuk menatap Revin lekat. Tatapan Jani menunjukkan bahwa ia menuntut penjelasan dari Revin. Tapi Revin hanya tersenyum misterius.


"Kakak..!!!" seru Juna dari luar.


*Deg*


Jani tersadar dengan posisi mereka. Ia pun tanpa sadar mendorong Revin. Revin yang tidak siap atas perlakuan Jani jadi terjatuh ke bawah. Bertepatan dengan pintu kamar Jani yang terbuka dari luar karena Juna.


"Kalian,,,lagi ngapain.?" tanya Juna saat pintu terbuka dan melihat pemandangan yang menurut ia aneh.


Posisi Kakaknya yang duduk di atas tempat tidur dan Revin yang duduk di lantai seperti habis terjatuh.


"Emm,,nggak ngapa-ngapain." jawab Jani gugup.


Revin bangun berdiri dari posisinya.


"Lu sudah balik.??" tanya Revin datar.


"Sudah. Makasih ya bang sudah mau jagain ka Jani." kata Juna.


Revin hanya tersenyum.


"Hmm. Kalian lanjut aja lagi. Klo gitu gue ke bawah ya.!!" pamit Juna yang merasa bersalah karena datang di momen yang tidak tepat.


"Jangan.!!" seru Jani cepat.


Membuat Revin dan Juna menaikan alisnya.


"Hmm,,, maksud gue. Lu ke bawahnya sama dia aja. Dia juga mau pulang." kata Jani sambil menatap ke arah Revin.


"Apa.!!" kata Jani ketus saat Revin menatap dirinya.


"Yaudah sana balik." usir Jani.


"Lu ngusir gue.??" tanya Revin.


"Klo iya kenapa.??" tantang Jani.


Revin hanya tersenyum mendengar perkataan Jani.


"Kakak jangan galak-galak sama bang Revin. Nanti jatuh cinta ke bang Revin baru tau rasa." goda Juna.


"Nggak akan." elak Jani.


"Yaudah klo gitu gue balik." pamit Revin.


"Hmm..." gumam Jani malas.


"Lah cepat banget bang. Emang urusannya udah selesai? Omongan ka Jani mah nggak usah di dengar. Dia emang key gitu dari dulu. Makanya nggak laku-laku." ledek Juna.


"Dih. Lu kata gue lagi jualan. Key sendirinya sudah laku aja.. Yaudah sana pada keluar gue mau tidur." ucap Jani.


"Ayo bang." ajak Juna yang berjalan ke bawah duluan.


"Good night and sweet dreams my little angel." ucap Revin dengan senyum manisnya dan mengedipkan sebelah matanya.


Sebelum Jani berkomentar Revin sudah lebih dulu menutup pintu kamar Jani.


"Ck,, di kata gue masih bocil apa. Dasar Revin nyebelin." gumam Jani.


"Tapi tunggu dulu deh... Btw dia tau dari mana nama itu?? Nggak mungkin si Juna kan yang kasih tau. Karena memang nama panggilan itu yang tau cuma keluarga gue dan ----."seketika Jani membolakan kedua matanya. "Nggak,,nggak. Nggak mungkin itu dia. Secara perbedaan mereka itu jauh banget." elak Jani saat mengingat seseorang di masa lalunya.


"Arrgghhh... Terus dia tau dari siapa..??" tanya Jani dengan dirinya sendiri dan berguling-guling di atas tempat tidurnya.


"Pokoknya besok gue harus tanya langsung ke dia. Setidaknya gue bisa mencegah dia untuk merahasiakannya. Karena gue nggak mau semua orang tau nama panggilan gue waktu kecil." kata Jani.