Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 64


🌹


🌹


🌹


Hari ini cuaca sangat cerah dan jalanan cukup macet. Setelah menghabiskan waktu sekitar tiga puluh lima menit Jani tiba di sekolah. Jani berjalan santai menuju ruang kelasnya.


"Njiir,,makin hari gue perhatikan si Jani tambah cantik saja."


"Pokoknya kecantikan dia tuh nggak ada duanya deh."


"Seandainya saingan kita bukan si Revin. Gue udah maju lebih depan untuk dapetin dia."


"Sayangnya saingan kita berat bro."


"Tapi benar nggak sih gosipnya kalau Revin dan Jani sudah jadian.??"


"Entahlah,,gue sendiri pun tak tahu. Karena sampai saat ini salah satu di antara mereka belum ada yang konfirmasi."


"Iya juga sih. Hubungan mereka tuh sulit di tebak. Di bilang pacaran tapi biasa saja. Di bilang hanya teman tapi terkadang mereka so sweet banget berasa seperti sepasang kekasih."


"Kalau memang benar mereka berdua pacaran. Sumpah deh mereka tuh cocok banget. Gue nggak bisa bayangin deh. Kalau mereka berdua benaran berjodoh. Anak mereka nantinya akan secantik dan seganteng apa ya?? Secarakan wajah mereka tuh nggak ada yang nandingin dan menurut gue artis luar negeri saja lewat."


Dan banyak lagi yang mereka bicarakan saat melihat Jani. Banyak juga yang memuji dirinya. Tapi tidak semua menyukainya. Ada juga yang tidak suka kepada Jani. Termasuk The Geng satu ini yang selalu cari-cari masalah dengan Jani.


"Kalian lihat tuh..Secantik apa coba si Jani. Mereka sampai muji-muji key gitu."


"Tau tuh. Masih jauh cantikan lu kemana-mana."


"Tapikan dia memang cantik."


"Lu bisa nggak diam saja,,nggak usah ikut komen. Buat gue darting saja..Cabut guys."


"Memangnya salah ya?? Puput kan cuma bicara yang sebenarnya." gumam Puput sambil mengkerucutkan bibirnya.


Ya, mereka adalah Riska and The Geng.


"Bibirnya nggak usah di imut-imutin seperti itu." bisik Juna tepat di telinga Puput.


Seketika Puput berbalik ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat Juna.


"Juna." gumam Puput.


"Hey.!!" sapa Juna dengan tersenyum manisnya.


"OMG hellow... Juna manis banget sih. Klo setiap hari lihat senyumannya key gitu. Gimana Puput bisa move on." kata Puput dalam hati tanpa berkedip karena terpesona dengan senyuman Juna.


"Hey." Juna menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Puput.


Dan hal itu menyadarkan Puput dari lamunannya.


"Hey. Hmm,,Juna mau kemana.?" tanya Puput sambil tersenyum canggung.


"Mau nemuin lu." jawab Juna santai.


"Puput." ulang Puput sambil menunjuk ke dirinya. Dan di anggukan oleh Juna.


"Mau ngapain.?"


"Ada hal penting yang mau gue bicarakan sama lu."


"Mau bicara ap--" ucapan Puput terpotong.


"Juna.!!" Mereka berdua melihat ke arah sumber suara.


Ternyata yang memanggil Juna adalah Ayu.


Ayu berjalan ke arah Juna dan bergelayut manja di lengan Juna. "Lu ngapain sih di sini?? Sama dia lagi.?" tanya Ayu menatap sinis ke Puput.


"Hmm,, klo gitu Puput mau balik ke kelas duluan." pamit Puput dan langsung meninggalkan mereka berdua.


Juna hanya melihat kepergian Puput tanpa niat untuk mengejarnya. Karena menurutnya masih ada hari esok.


Juna melepaskan tangan Ayu dari lengannya. "Lain kali nggak usah seperti ini. Gue nggak mau ada ke salah fahaman lagi. Hubungan kita hanya sebatas teman klo lu lupa." jelas Juna tanpa menatap Ayu dan langsung meninggalkan Ayu sendiri.


"Sekarang hubungan kita memang hanya sebatas teman. Tapi gue akan pastikan cepat atau lambat lu akan menjadi milik gue seutuhnya." gumam Ayu seraya mengepalkan kedua tangannya.


🌺  Di Dalam Kelas  🌺


"Tuh orangnya yang di omongin dateng juga." kata Vina yang melihat kedatangan Jani.


"Panjang umur lu,Jan." kata Fero.


Jani hanya memasang wajah cuek dan duduk di kursinya.


"Kantin yuk laper nih. Cacing yang ada di perut gue dari tadi udah pada demo." ajak Aldi.


"Kuylah." kata Mia.


Mereka pun ke kantin bersama dan saat di pertengahan jalan. Mereka berpapasan dengan Defan.


"Hey..!!!" sapa Defan.


"Hey juga." balas Mia.


"Kalian mau pada kemana nih.?" tanya Defan.


"Kita mau ke kantin. Lu mau gabung... Kuylah." ajak Aldi.


"Nggak deh." tolak Defan. Lalu melihat ke arah Fani. "Ada yang mau gue bicarakan sama lu." kata Defan.


"Apaan.??" tanya Fani.


"Gue boleh pinjem Fani nya sebentar nggak.??" tanya Defan pada mereka.


"Ambil aja. Nggak ada yang marah. Kalau perlu di bungkus biar nggak hilang di ambil orang." kata Mia.


"Nggak jelas lu. Di kata gue barang online pake di bungkus segala." kata Fani menatap Mia sinis.


"Klo perlu di tulis alamat yang jelas. Biar nggak jatuh ke tangan yang salah." tambah Mia sambil terkekeh.


"Lu aja sini gue kirim ke sungai amazon." sungut Fani kesal.


"Set dah sadis. Udah yuk guys kita tinggalin dia." kata Aldi sambil menggandeng tangan Mia.


Mereka pun meninggalkan Defan dan Fani.


"Ikut gue." ajak Defan sambil menggandeng tangan Fani menuju taman belakang sekolah.


Tanpa mereka sadari ternyata ada yang memperhatikan mereka sedari tadi.


"Sekarang kalian sudah berani terang-terangan rupanya." gumam Fero sambil mengepalkan kedua tangannya.


Tibalah mereka di taman belakang sekolah.


"Lu mau ngomong apaan sih Def. Sampai bawa gue ke sini segala.??" tanya Fani.


"Apa benar lu keluar dari restauran.??" tanya Defan balik.


"Iya." jawab Fani.


Fani hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Jawab Fan. Pasti ada hal yang lu sembunyikan dari gue kan.!!"


Seketika Fani menatap Defan.


"Masih ingat perjanjian kita waktu itu kan..?? Gue berharap di antara kita nggak ada yang lu sembunyikan dari gue... Itu pun klo lu masih menganggap gue sebagai sahabat lu." lanjut Defan.


Lagi-lagi Fani tak langsung menjawab.


"Oke. Mungkin di sini gue yang terlalu banyak berharap. Ternyata sampai saat ini pun lu nggak pernah menganggap gue sebagai sahabat lu." kata Defan dan ingin melangkah meninggalkan Fani.


"Tunggu." Fani mencegah kepergian Defan.


"Apa.??" tanya Defan menatap Fani lekat.


Fani menarik nafas dan di hembuskan perlahan.


"Karena cepat atau lambat. Gue nggak akan ada di kota ini lagi."


"Maksud lu apa? Apa ini ada hubungannya lu putus sama dia.??"


Fani hanya menggelengkan kepalanya lemah.


"Lalu.??"


"Bokap gue sudah memutuskan kami sekeluarga pindah keluar negeri dan tinggal di sana... Mungkin untuk selamanya." lirih Fani.


*Deg*


"Kapan.??"


"Setelah lulus sekolah."


"Secepat itu dan lu baru bilang ke gue." kata Defan marah.


"Sorry."


"Lalu lu tega nggak hadir di pernikahan gue nanti.??"


Keluarga Defan dan Siska memang sudah memutuskan untuk menikahkan anaknya setelah mereka lulus sekolah. Defan mau pun Siska tidak ada yang bisa menolak keputusan keluarganya. Defan hanya menceritakan hal ini ke Fani saja.


"Gue nggak tahu." jawab Fani menunduk dan menggelengkan kepalanya. Fani sudah tidak sanggup menahan air matanya.


"Gue sebagai sahabat lu sangat berharap kehadiran lu... Apa teman-teman lu sudah mengetahui hal ini.??"


Fani menghapus air matanya dan menatap Defan. "Hanya lu yang tahu dan gue minta tolong sama lu. Untuk nggak cerita ke mereka karena gue nggak mau buat mereka sedih."


"Lalu gimana dengan lu sendiri... Apa lu nggak akan bersedih meninggalkan kami semua.??"


*Ting*


Ada chat masuk di HP Fani. Ia pun melihatnya dan ternyata yang chat adalah Mia.


Lu dimana? GPL ke sini yg lain sudah pada tungguin lu nih.


^^^OTW situ. ^^^


GC... Lama tinggal.


^^^Iya bawel. ^^^


"Gue balik ke kantin ya. Mereka sudah pada nunggu. Lu mau ikut gue nggak.??" ajak Fani.


"Gue mau langsung balik ke kelas saja."


"Ohh,, ya sudah klo gitu. Gue duluan ya." pamit Fani dan meninggalkan Defan.


Tibalah Fani di kantin sekolah dan duduk bergabung dengan teman-temannya.


"Dateng juga yang di tunggu-tunggu. Dari mana sih lama banget.??" tanya Mia.


"Kepo. Gue laper nih pesanan gue mana.??" tanya Fani.


"Makanya klo pacaran jangan lama-lama." cibir Fero.


"Dih,, sirik aja lu." balas Fani jutek.


"Ehemm... Aroma-aromanya ada yang cemburu nih." sindir Aldi.


*Plak*


"Kepala gue nih njiirr.!!" sungut Aldi sambil mengelus-elus kepalanya.


"Emang kata siapa itu kepala kereta." ucap Fero.


"BTW yang udah pacaran diam-diam bae. PJ lah." kata Vina.


"Emang yang bilang gue sama dia pacaran siapa?? Perasaan gue nggak ada bilang pacaran deh." kata Fani.


"Bilang aja nggak mau traktir kita-kita." kata Vino.


"Wah klo itu sih lu kebangetan pelitnya Fan." timpal Mia.


"Terserah kata lu pada deh." kata Fani malas dan memakan baksonya.


Revin dan Jani hanya diam saja menjadi pendengar yang baik. Seketika pandangan mereka ketemu dan menatap satu sama lain. Kebetulan tempat duduk Revin berada di depan Jani. Revin tersenyum misterius. Dan mengetik sesuatu di HP nya.


*Ting*


Tak lama ada chat masuk di HP Jani. Ia pun langsung melihatnya.


Revin :


Lihatin akunya biasa aja.


BAHAYA


Jani menaikan sebelah alisnya. Ia enggan untuk membalas chat yang menurutnya tidak penting itu.


*Ting*


Revin :


Jangan salahkan aku klo kamu jatuh cinta sama aku.


Uhuukk...uhuukk...uhuukk...


Jani yang lagi menikmati baksonya pun tersedak karena membaca pesan dari Revin.


"Makannya pelan-pelan Jan. Nggak ada yang mau ngambil makanan lu." kata Fani setelah memberikan minum pada Jani.


"Dasar Revin nyebelin." umpat Jani dalam hati sambil menatap tajam ke Revin.


Bel sekolah pun berbunyi. Tapi mereka masih enggan untuk balik ke kelas karena memang sudah tidak ada mata pelajaran. Hanya kelas 10 dan 12 yang masuk ke kelasnya masing-masing dan memulai belajar.


Seperti biasa sepulang sekolah mereka para anggota OSIS latihan dulu sebentar. Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing.