
Vean dan Erza tiba di bandara. Keduanya langsung pergi ke rumah sakit saat itu juga. Vean tidak mau membuang-buang waktu. Baginya—setelah semua kejadian itu—waktu terasa sangat berharga, bahkan di setiap detiknya.
Vean tidak peduli dengan rasa lelahnya, yang terpenting baginya saat ini adalah menemukan Dhea secepatnya.
"Coba kamu tanya, ada dokter Juna atau tidak. Kalau kita langsung bertanya pasien yang bernama Dhea, pasti mereka bilang tidak ada atas perintah om Bram."
"Baik, Tuan."
Erza mengacak rambutnya, berdehem pelan dan mulai bertanya ke bagian informasi.
"Jam berapa dokter Juna praktek hari ini?"
"Dokter Juna tidak ada praktek hari ini, Tuan. Tapi besok dokter Juna ada praktek dari jam delapan sekali jam sebelas."
"Baiklah, terima kasih."
Erza langsung kembali ke tempat Vean yang sedang menunggunya di dalam mobil.
"Bagaimana?"
"Nona Dhea ada di sini, Tuan."
"Ayo kita ke hotel."
"Ya?"
Hotel? Bukankah bosnya ini ingin bertemu dengan nona Dhea? Tanya Erza dalam hatinya.
Mereka ke hotel yang tidak jauh dari rumah sakit. Vean mengistirahatkan tubuhnya sejenak, lalu pergi mandi.
Di Jakarta
"Kalian sudah mendapatkan kabar dari Vean?"
"Dia sudah pergi dari Swiss."
Mila menatap Fio yang terlihat murung. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia tidak mau melihat anaknya bersedih seperti itu.
"Ikut saja Vean ke sana."
...💦💦💦...
Vean terlihat lebih segar dari yang sebelumnya. Pria itu mengajak Erza ke rumah sakit, dan memberikan mereka kejutan. Kali ini, dia akan memastikan kalau mereka tidak akan lagi membawa Dhea pergi diam-diam.
Di dalam kamar perawatan Dhea, Juna mengusap rambut gadis itu.
"Apa kamu sangat betah tidur? Apa kamu sudah terlalu lelah untuk berjuang?"
"Apa kamu marah karena kami membawa kamu pergi diam-diam dan jauh dari Vean? Apa kamu ingin bertemu dengan dia?"
"Tolong, jangan diam saja, Dhea."
...💦💦💦...
Dhea masih betah duduk di sini. Tidak melakukan apa-apa, hanya memandang langit yang terlihat sangat indah dan menenangkan hati.
Langitku cerah hari ini
Dhea menggerakkan tangannya ke atas, seolah sedang melukis sesuatu dengan tangan kosong. Dia tidak tahu kenapa dia bisa berada di sini.
Yang dia rasakan, dia seperti tertahan di tempat ini begitu saja.
Ingin ke kanan, tapi seperti ada yang menahan kaki dan tangannya.
Ingin ke kiri, tapi seperti ada yang mendorong tubuhnya.
Apa dengan keikhlasan akan melapangkan jalannya?
Semilir angin tak membuatnya dingin.
Sinar mentari tak membuatnya panas.
Jari tangannya terangkat, lalu dia menekuk ibu jari, jari manis dan kelingkingnya, menyisakan telunjuk dan jari tengah saja.
V
Itulah yang dia lihat
Dhea memegang dadanya, merasakan debaran yang tak menentu. Ada kerinduan dalam dirinya.
Tapi rindu pada apa?
Dia tidak tahu siapa dirinya saat ini.
Jalan pulang, atau jalan pergi.
Dirinya ragu, bukankah dia telah berkelana, dan sudah seharusnya dia pulang.
Pulang ke tempat yang semestinya, ke tempat yang tiada rasa sakit.
Dhea menatap langit, melihat seperti ada sesuatu yang melayang di sana.
Merah dan putih
Dhea mencoba menggapainya, tapi rasanya sangat sulit dijangkau.
kedua balon itu hanya melayang-layang di dekatnya. Sulit untuk digapai, tapi tak juga mau menjauh.
Mungkin dia hanya boleh meraih salah satunya saja?