Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
186 Merawat


Jumat siang mereka kembali ke desa itu. Membawa banyak kebutuhan. Fio ingin ikut, karena ingin melihat ibu dari sahabatnya itu.


"Jangan nyusahin di sana!" ucap Arya ketus.


"Iya, iya. Bawel."


Clara juga ikut, sedangkan Aila, Sheila, Felix dan Steve sedang ada di luar negeri.


Kali ini Dhea bertekad untuk merawat ibunya selama ada di sana. Dia yang dulu sering membaca buku kedokteran, menaruh curiga tentang penyakit ibunya, tapi dia tidak mau menerka-nerka.


Ada beberapa mobil yang turut serta. Mengangkut kebutuhan di sana. Erza sudah memberikan laporan kalau renovasi rumah bu wati sudah selesai. Tidak mewah, tapi jauh lebih baik dari yang sebelumnya.


Hujan deras membuat perjalanan mereka sedikit tersendat.


Mereka tiba di sana jam sepuluh malam.


"Kalian makan dulu, bibi sudah menyiapkan makanan untuk kalian. Setelah itu bari istirahat."


Ada tiga kamar yang dibuat. Satu kamar untuk Bu Wati, satu kamar untuk Dhea, Clara dan Fio. Kamar lainnya untuk Vean, Arya dan Juna.


Keesokan paginya


Kali ini mereka bisa memperhatikan kondisi rumah ini. Dhea langsung masuk ke dalam kamar bu Wati, membasuh tubuhnya dengan handuk kecil dan air hangat.


Dhea sudah menyiapkan baju untuk perempuan yang melahirkannya itu. Fio melihat kondisi Bu Wati, tapi tidak mengatakan apa-apa.


Dhea juga membuatkan bubur dengan sayuran halus. Dia melakukan semuanya sendiri, tanpa ingin dibantu oleh siapa pun. Entah Bu Wati itu benar ibunya atau bukan, Dhea tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Tidak mau menyesal seumur hidupnya.


Di luar rumah


"Apa kamu menemukan sesuatu?"


"Tidak ada, Tuan. Tidak ada apa pun yang saya dapatkan."


Sebelum merenovasi tempat ini, Vean memang menyuruh anak buahnya untuk menyimpan barang yang kira-kira bisa memberikan petunjuk tentang ayah Dhea.


Tapi ternyata tidak ada sama sekali. Tidak ada juga baju laki-laki di sana, baik itu baju lama.


"Apa sudah mencari informasi ke tetangga-tetangga sekitar."


"Kami sudah bertanya—tidak secara terang-terangan—tapi tetap tidak mendapatkan informasi apa-apa, Tuan."


"Ya sudah."


Setidaknya ada satu petunjuk, yaitu Bu Wati. Vean bisa menyuruh orang untuk mencari tahu tentang kehidupan Bu Wati dulu. Misalnya ke mana saja bu Wati pernah pergi, siapa saja yang menjadi temannya, atau mungkin kekasih. Di mana dia pernah bekerja.


Vean melihat keadaan di kampung ini. Ada beberapa rumah panggung, baik yang memprihatinkan, juga yang cukup bagus. Ada juga rumah permanen.


Yang ada di tempat ini, selain orang tua, hanya ada anak-anak. Mungkin para kaum mudanya merantau ke kota.


Tapi ada juga yang—Vean tidak mau berpikiran buruk—terlihat mencurigakan.


Dhea merapihkan barang-barang untuk bu Wati. Membuka jendela lebar-lebar agar udara segar dan pencahayaan masuk.


"Yang lain pada ke mana?"


"Tuh, di luar."


Barang-barang yang tidak terpakai sudah dibuang. Tempat ini sekarang lebih layak pakai. Dhea juga membawa tanaman dari kota, yang sekarang sedang ditanam okeh Arya.


"Ibu biasanya minum obat apa, Tante?"


"Biasanya hanya saya kasih minuman tradisional saja, untuk daya tahan tubuhnya."


"Oya, makasih ya, sudah membawakan kursi roda," lanjut Bu Ana.


"Iya, Tan. Aku yang terima kasih, karena Tante sudah mau merawat ibu."


Bu Ana memasak dibantu oleh Dhea dan Clara, sedangkan Fio hanya melihat saja. Bukannya tidak mau membantu, tapi dia sudah diperingatkan sama Juna, kalau bikin kacau nanti ditinggal di sini sendirian. Kalau perlu dibuang ke hutan.