Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 58


"Lu tuh..." geram Fani sangat kesal dengan adiknya itu. "Terserahlah. Kalian berdua itu sama aja." lanjut Fani dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Makasih ya bang." kata Fano tulus pada Fero.


Fero hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Fano gemas. Fero sudah sangat mengenal Fano. Meski bocah ini sering sekali tidak akur dengan Kakaknya. Tapi Fano sangat menyayangi Fani. Sebenarnya Fano sangat khawatir pada Kakaknya tapi dia mampu menyembunyikannya.


"Kalian berdua mau sampai kapan di situ.!!" seru Fani tanpa melihat ke belakang.


Fano dan Fero pun menyusul Fani.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di taman depan.


"Bang Fero,aku ke sana ya gabung sama  teman-teman." izin Fano.


"Sumpah ya,kamu tuh nyebelin banget tau nggak de." kata Fani dengan wajah cemberut.


"Apa lagi sih ka. Perasaan aku selalu salah deh." kata Fano sok polos.


"Kamu yang apaan. Ke orang lain minta izin. Ke kakak sendiri nggak." kata Fani kesal.


"Sama aja kan. Tanpa aku minta izin pasti kakak sudah mendengarnya juga." kata Fano cuek.


Fani memutar kedua matanya malas. "Terserah." kata Fani malas.


"Yaudah. Kakak ku yang cantik tidak sombong dan baik hati. Aku adikmu yang tampan tidak sombong dan baik hati ini mau izin ke sana ya." izin Fano lebay.


"Idih sumpah deh nggak pantes banget kamu ngomong key gitu tau nggak de." kata Fani dengan tertawa mendengar Adiknya bicara lebay seperti itu.


"Bodo amat." kata Fano ketus.


"Bang Fero titip kakak ku ya." lanjut Fano pada Fero.


"Eh cebong,di kata aku bocil yang harus di titipin segala."


"Emang,,wlee." ledek Fano sambil menjulurkan lidahnya pada Fani.


"Duluan ya bang." seru Fano yang sudah berlari menghampiri kawannya. Sebelum di di amuk Fani.


"Lama-lama bisa darting gue berhadapan sama tuh bocil. Untung cuma satu." gumam Fani yang masih terdengar oleh Fero.


Fero hanya tersenyum mendengar gumaman Fani. "Ayo,," ajak Fero sambil menggandeng tangan Fani.


"Eh,mau kemana.?" tanya Fani kaget yang tiba-tiba tangannya di genggam oleh Fero.


Fero membawa Fani ke kursi dekat air mancur.


"Lu tunggu di sini dulu. Jangan kemana-mana." ucap Fero dan meninggalkan Fani.


Tidak lama Fero datang membawa minuman dan memberikan ke Fani.


"Makasih."


"Hmm."


Cukup lama mereka berdiam. Fero membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Sejak kapan.?" tanya Fero ambigu tanpa menatap Fani.


"Hmm,,sejak kapan apanya.?" tanya Fani balik yang tidak mengerti dengan pertanyaan Fero yang sangat ambigu itu.


"Sejak kapan bokap lu masuk rumah sakit dan kenapa selama ini lu nggak pernah cerita sama gue.?" tanya Fero sambil menatap Fani lekat.


Fani yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah. "Nggak usah tatap gue key gitu." kata Fani dengan membuang pandangan ke lain arah.


"Kenapa? Lu baper sama gue.?" goda Fero dengan tersenyum.


"Dih pede banget lu. Ngapain juga gue baper sama lu. Nggak berfaedah banget." balas Fani tanpa melihat Fero.


"Fan.."


"Hmm.."


"Fani.."


"Apaan sih Fer."


"Klo di panggil seseorang itu biasakan tatap orang yang manggil."


"Ish,,apa--an"


*Deg*


Susah payah Fani menelan salivanya karena wajah Fero yang sangat dekat. Pandangan mereka terkunci cukup lama.


"Sumpah lu ganteng banget Fer. Apa mungkin gue sanggup untuk move on dari lu.?" kata Fani dalam hati.


"Lu cantik Fan. Bibir ini bisa bilang benci sama lu tapi hati ini seakan nggak rela jauh dari lu." kata Fero dalam hati.


"Ehmm..." dehem Fani untuk menghilangkan rasa geroginya.


Fero tersadar dan menjauhkan wajahnya dari Fani.


"Lain kali klo lu mau ngomong sama gue nggak usah terlalu dekat key tadi. Nanti ada yang lihat kita bisa menimbulkan kesalah fahaman. Gue nggak mau ya di cap sebagai PHO." jelas Fani.


"Siapa yang berani bilang key gitu? Lu nggak usah takut karena nggak akan ada yang bilang lu PHO." kata Fero.


"Pasti ada Fer. Posisinya di sini lu udah punya pacar." kata Fani dengan nada berbeda. Tidak bisa di pungkiri hatinya sangat sakit saat mengingat pria di dekatnya bukan miliknya lagi.


Fani memperbaiki duduknya. "Klo gue sih fine fine aja mau dekat sama siapa pun. Gue kan single jadi bebas." lanjut Fani yang sudah ceria. Meski hatinya sakit tapi ia tidak ingin terlihat lemah.


"Ternyata lu masih belum berubah. Lu sudah bertunangan tapi nggak mengakuinya." cibir Fero tersenyum miring.


"Atas dasar apa lu bilang gue sudah bertunangan? Apa lu lihat di jari gue ada cincin?" tanya Fani kesal sambil memperlihatkan kedua tangannya.


"Bisa aja lu menyimpan cincin itu di rumah. Agar tidak ada yang tahu klo lu sudah bertunangan dan akan menikah. Karena status lu kan masih anak pelajar."


"Terserah apa kata lu aja deh Fer. Gue capek ngejelasinnya." kata Fani malas.


Mereka terdiam sesaat.


Fani teringat sesuatu. "Fer.!" panggil Fani.


"Hmm.."


"Soal ATM lu yang ada di gue--"


"Ambil aja buat lu. Anggap aja itu pemberian gue untuk lu yang selama ini sudah mau menemani hari-hari gue. Dan dengan ATM itu juga lu bisa berhenti kerja dan fokus dengan masa depan lu." potong Fero.


ATM yang di pegang Fani isinya memang lumayan banyak. Bahkan bisa di pakai untuk biaya kuliah akhir. Sampai ia mencari kerjaan pun masih cukuplah.


"Kalian ada di sini rupanya." potong Fano yang baru tiba.


🧚‍♀️ Author : Fano benar-benar ya minta di timpuk. Hadirnya selalu nggak tepat waktu 😤


"Sudah malam kita pulang yuk.!" ajak Fano sambil berjalan duluan.


"Kuylah." kata Fero.


"Tapi Fer--"


"Bahasnya lain kali aja sekarang kita pulang. Nanti klo sampai rumah terlalu malam ortu lu marah sama gue. Karena membawa pulang anak perawannya larut malam." potong Fero.


🧚‍♀️ Author : Perhatian untuk kepada Fero dan Fano. Kalian berdua bisa nggak jangan suka potong omongan orang yang belum selesai 😠


"Ish,,apaan sih lu. Biasanya juga pulangin gue larut malam." kata Fani cemberut.


"Itukan dulu."


"Iya dulu. Sebelum lu pacaran sama nenek sihir itu." cibir Fani dan berjalan menyusul Adiknya yang sudah berjalan duluan.


"Dan sebelum lu selingkuh sama dia." gumam Fero.


Fero menyusul mereka. Cukup lama mereka berjalan menuju rumah. Dalam perjalanan pulang mereka tidak berbicara karena kebetulan Fano yang selalu mengoceh setiap di sepanjang jalan. Ia sudah lebih dulu berjalan di depan bahkan sudah tidak terlihat. Mungkin saja sekarang tuh bocah sudah sampai rumah dan tidur.


🌷


🌷


🌷


Hari ini semua murid bersantai-santai di sekolah. Karena Ulangan sudah selesai jadi hari ini tidak ada mata pelajaran. Tapi bukan berarti mereka di perbolehkan libur sekolah. Mereka tetap di suruh masuk sekolah karena menunggu informasi.


"Kantin yuk.!" ajak Fero.


"Ntar ajalah. Masih kenyang gue." kata Aldi.


"Tumben banget lu nolak. Biasanya juga dengar kata kantin lansung gercep." goda Fani.


"Kampret lu." umpat Aldi sambil melempar pulpen ke arah Fani tapi meleset.


"Lu bawa dompet nggak ka.?" tanya Juna yang baru tiba di depan mereka.


"Bawa. Kenapa?" tanya Jani. "Jangan bilang lu lupa bawa dompet.?" tebak Jani.


"Hehehe lu tau aja ka." jawab Juna nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Enak ya klo punya kakak satu sekolah. Klo kita lupa bawa uang tinggal nebeng." kata Aldi.


"Jadi lu juga enak. Setiap hari nebeng makan mulu." cibir Fani.


"Kata siapa klo gue setiap hari nebeng mulu.?" tanya Aldi tidak terima.


"Kata gue tadi." jawab Fani santai.


"Sialan lu." umpat Aldi.


"Dompetnya ada di dalam tas ambil aja sendiri." kata Jani yang masih fokus dengan HP nya.


"Ambil tuh Jun. Kakak lu kan klo udah main HP nggak bisa di ganggu. Entah ada apa di HP nya gue ge heran." kata Aldi.


"Yang di sebelahnya ge sama. Asyik bener main games sambil bersandar gitu." cibir Fero pada Revin yang asyik main games sambil bersandar di bahu Jani.


Akhir-akhir ini Revin dan Jani memang terlihat semakin dekat. Bahkan sering banget mereka memperlihatkan kedekatan mereka di depan teman-temannya. Tapi tidak dengan Jani,ia masih seperti dulu CUEK tapi tidak merasa risih dengan kelakuan Revin pada dirinya. Karena ia ingin mencoba buka hatinya.


Sedangkan Revin memanfaatkan keadaan. Jika lagi duduk di dekat Jani ia jadi bisa bersandar di bahu Jani tanpa ada penolakan dari sang empu. Tapi bukan berarti Jani selalu diam akan kelakuan Revin. Setiap kali ada yang menyinggungnya. Ia pasti menjauhkan dirinya dari Revin karena ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.


"Revin ih awas." kata Jani yang ingin jauhkan kepala Revin dari bahunya.


"Sebentar aja Jan." kata Revin sambil menggerakkan kepalanya untuk mencari kenyamanan di bahu Jani.


Jani hanya memutar mata malas. Itulah Revin di kasih hati minta jantung. Sedangkan Jani hanya bisa nurut saja. Karena ia enggan untuk berdebat.


"Ka tolong ambilin dompet ka Jani di dalam tasnya dong."  kata Juna pada Fani yang duduknya memang berada di samping Jani.


Fani pun membuka tas Jani dan mengambil dompet Jani. Setelah itu di berikan pada Juna.


"Makasih." kata Juna tersenyum sambil menerima dompet Jani.


"Apaan nih.?" tanya Aldi yang mengambil selembar foto yang terjatuh di bawah.


"Njiirr.. Cantik banget nih bocil." seru Aldi.


"Apaan sih coba lihat." kata Fero yang sudah merebut selembar foto yang di pegang Aldi.


"Lah iya. Gue berasa lihat bidadari. Ini foto lu waktu kecil Jan.?" tanya Fero sambil memperlihatkan foto gadis kecil itu pada Jani.


*Deg*


"Coba gue lihat." kata Revin kepo.


"Owhh tidak boleh." kata Fero sambil menarik foto itu kembali agar Revin tidak bisa melihat gambar gadis kecil yang ada di foto itu.


Jani menatap Juna dan memberikan kode. Kebetulan Juna sedang melihat ke arah Jani.


"Sini bang." kata Juna yang sudah merebut foto itu dari tangan Fero.


"Eh,Jun kok lu ambil sih." kata Fero kesal.


"Nggak usah lama-lama lihatnya. Nanti bang Fero jatuh cinta."


"Emang siapa yang ada di foto itu Jun.?" tanya Vina.


"Saudara yang ada di Paris." jawab Juna asal.


"Sekarang masih kecil apa seumuran kita Jun.?" tanya Fero.


"Ngapa lu tanya gitu.?" tanya Vino kepo.


"Gue perhatikan itu foto lama. Jadi kemungkinan gadis yang ada di foto itu sudah dewasa dong." jawab Fero.


"Masih kecil." kata Juna.


"Yahh. Baru juga pengen gue halalin." kata Fero melow.


"Gaya lu mau di halalin. Duit masih minta ke emak aja." ledek Aldi sambil tertawa. Mereka pun  ikut tertawa mendengar ucapan Aldi.


"Sialan lu." umpat Fero sambil melempar kulit kacang ke Aldi dan mengenai wajah Aldi.