Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
107 Pergi


Vean ingin menghubungi Clara, tapi dia saja tidak pernah menyimpan nomor sahabatnya Dhea itu. Vean lalu mengambil ponselnya yang ada di kantong celana.


"Halo Vean?"


"Fio, Dhea di mana?"


"Dhea? Bukanya Dhea masih di rumah sakit?"


"Tidak ada. Tidak ada siapa-siapa di sini."


"Apa? Bagaimana bisa? Aku ke sana sekarang."


Tiga puluh menit lama kemudian, Fio dan kedua orang tua Vean datang.


"Coba kamu tanya ke Clara, atau teman-temannya yang lain."


Sementara Fio mencoba menghubungi Aila, Vean bertanya pada salah satu perawat.


"Pasien yang ada di ruang ICU VVIP di mana?" tanya Vean kepada salah satu perawat yang biasa memeriksa Dhea.


"Dokter Bram sudah membawa nona Khea pergi, Tuan."


"Apa? Pergi ke mana?"


"Maaf Tuan, kalau itu saya tidak tahu."


"Bagaimana bisa kamu tidak tahu, hah!"


"Tenang, Vean." Friska mencoba menenangkan anaknya itu, tapi mana bisa. Baru saja satu hari Vean meninggalkan Dhea di rumah sakit, tapi saat kembali Dhea malah tidak ada.


"Bagaimana?" tanya Vean pada Fio.


"Tidak ada yang bisa dihubungi. Maksudku, aku hanya punya nomor Aila saja."


Vean tidak kehilangan akal, dia lalu mencari wakil dari dokter Bram. Wakil direktur di rumah sakit ini pasti tahu ke mana dokter Bram membawa Dhea pergi.


"Ke mana dokter Bram?" tanya Vean pada Dokter Doni, wakil direktur di rumah sakit.


"Dokter Bram pergi."


"Saya tahu dia pergi, tapi pergi ke mana?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan Vean."


Vean berdecak kesal, kenapa orang-orang ini tidak ada yang tahu ke mana dokter Bram membawa Dhea. Pria itu lalu ke ruangan dokter Bram lagi, mencari data tentang Dhea.


Bagaimana bisa di ruangan itu tidak ada sama sekali data tentang Dhea. Ke mana dokter Bram membawa Dhea atau apa pun yang berhubungan dengan gadis itu.


"Aaaa!"


Vean melemparkan apa saja yang ada di atas meja kerja dokter Bram.


Kenapa, kenapa mereka selalu saja seenaknya, tanpa ada yang memikirkan perasaanku.


...💦💦💦...


Jauh di sana, mereka menurunkan Dhea dari atas jet pribadi dan segera memasukkannya ke dalam mobil ambulans.


Di belakang Dhea—dokter Bram, Bianca, Juna, Arya dan Clara mengikuti.


Udara dingin menembus kulit mereka, meski telah memakai mantel tebal. Dokter Bram membawa Dhea untuk berobat ke luar negeri diam-diam, tentu saja dengan pertimbangan tertentu.


Mereka tiba di rumah sakit. Dhea segera dimasukkan ke kamar ICU VVIP dan mendapatkan pemeriksaan khusus okeh dokter-dokter yang sangat berkualitas menurut dokter Bram.


Dokter Bram tidak segan-segan membentuk tim khusus untuk penyembuhan Dhea.


"Bagaimana?"


"Kondisinya stabil."


"Syukurlah kalau begitu."


Para dokter keluar dari ruang ICU, dan melihat orang-orang yang sedang menunggu di ruang keluarga.


"Kalian bisa istirahat di rumah."


Bram memang sudah menyiapkan semuanya dengan detail. Semua memang sudah dia rencanakan dengan matang, hingga tidak ada yang terlewat sedikit pun.


"Vean dan Fio pasti marah saat ini."


"Ingat, jangan lagi membuka ponsel lama kalian. Kita harus fokus dengan kesembuhan Dhea. Ini demi kebaikan Dhea dan Vean."


Dokter Bram sengaja membawa Dhea di saat Vana pergi ke perusahaan. Tentu saja dokter Bram lah yang sudah membuat Vean meninggalkan rumah sakit dan sibuk seharian itu.


Ini juga demi kebaikan Vean. Dia harus tetap melanjutkan hidupnya. Jangan sampai semua ini—kisah cinta yang rumit ini—terus berlanjut.


Dokter Bram tidak mau Vean hanya merasa kasihan dan rasa bersalah saja pada Dhea.


Juga ada Fio dan keluarganya, yang mungkin entah sekarang atau nanti, akan protes dengan sikap Vean yang over dalam menjaga Dhea.