Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
218 Takut


Akhir-akhir ini, Dhea merasa sangat cemas. Dia mengkhawatirkan proses persalinannya nanti yang akan dilakukan dengan cara sesar. Dia takut, selain karena ini pengalaman pertama, harus sesar, melahirkan dini, juga keadaan dirinya yang tidak seperti perempuan hamil umumnya.


Apa aku bisa?


Pikiran yang terus berkecamuk itu justru membuat Dhea stress, dan membuat perutnya keram. Dhea meringis pelan, mengusap perutnya yang bergerak karena tendangan anaknya.


Bagaimana nanti kalau anakku besar tanpa ibu?


Dhea menggigit bibirnya, air matanya keluar tanpa bisa dia cegah. Dia tidak mau anaknya merasakan hal yang sama dengan dirinya, meski dia juga tahu, kalau anaknya tetap akan lebih beruntung dari dirinya.


Ada Vean, dan keluarga mereka yang akan memberikan kasih sayang yang maksimal untuk anaknya nanti.


Suara keean air yang tidak lagi terdengar di kamar mandi, membuat Dhea sedikit memiringkan tubuhnya. Perempuan itu menutup matanya, menahan isak tangisnya dan guncangan di bahunya.


Saat merasa Vean mendekat, Dhea melemaskan tubuhnya, berpura-pura tidur.


Vean ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Dhea. Memeluk istirnya dari belakang.


"I love you," bisik Vean pelan.


Vena memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma Dhea. Aroma bayi yang membuat dia semakin bahagia dengan hidupnya.


Merasa Vean sudah tidur, Dhea kembali membuka matanya. Air mata itu masih menetes, bahkan semakin deras. Bayang-bayang tentang masa lalu kembali berputar tanpa perintah.


Bagaimana saat dia besar di panti asuhan.


Bagaimana Arya yang selalu menjaganya dan mengajaknya bermain.


Bagaimana dia pertama kali masuk sekolah tanpa didampingi oleh kedua orang tua.


Bagaimana dia merasa iri dengan teman-temannya, tapi juga belajar untuk tidak mengeluh, karena dia tahu, bukan dia satu-satunya orang yang merasakan semua ini.


Bagaimana dia pertama kali bertemu dengan Fio, si gadis beruntung yang memiliki segalanya.


Bagaimana dia melihat kebersamaan Fio dan Vean.


Bagaimana dia pertama kali meninggalkan negara ini.


Bagaimana dia antara hidup dan mati.


Semuanya, semua hadir dalam ingatannya. Mengabsen satu persatu kejadian-kejadian yang membuat luka, entah disengaja atau tidak.


Tubuh itu semakin terguncang.


Rasa khawatir itu membuat perutnya sedikit berkontraksi. Sulit memang mengendalikan rasa cemas di tengah keadaan hamil dengan segala permasalahan kehamilan seperti dirinya.


Dhea mengatur nafasnya berkali-kali, mencoba menenangkan diri sendiri. Mencoba menyakinkan kalau semuanya baik-baik saja.


Tapi susah.


Seperti apa pun yang orang-orang katakan.


Tuhan yang menentukan.


Pikiran bijak mengatakan, jangan mengkhawatirkan sesuatu, karena Tuhan yang menentukan. Nyawa, rejeki, jodoh, ada di tangan Sang Pencipta.


Pikiran buruk membalas, justru karena Tuhan yang menentukan, maka kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Belum tentu hal baik bisa terjadi seperti yang kita harapkan.


Tentu saja peperangan batin ini semakin membuat pikiran kusut.


Saat merasakan pergerakan Vean, Dhea kembali memejamkan matanya. Dia merasakan tangan Vean yang tidak sadar mengelus pelan perutnya. Membuat dia merasa sedikit nyaman.


Aku pernah melewati masa-masa sulit, bahkan lebih sulit dari semua ini. Saat aku harus melewati semuanya seorang diri, tapi aku bisa meyakinkan diri sendiri kalau aku mampu menghadapi semuanya.