Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 52


Tibanya mereka di taman. Tidak ada di antara mereka yang memulai bicara. Mereka hanya menatap Fani dengan tatapan menuntut penjelasan dari Fani.


"Sorry.." ucap Fani merasa bersalah pada sahabatnya karena selama ini ia tidak berterus terang apa yang sudah ia alami selama ini.


"Bukan kata itu yang mau kita dengar dari lo. Kita hanya ingin lo cerita apa yang sudah terjadi selama ini dengan keluarga lo. Sampai lo bisa bekerja di restoran itu dan bokap lo di rawat." ucap Jani.


Fani masih diam dengan menundukkan kepalanya.


"Lo tahu Fan. Mendengar ucapan Papah lo tadi itu membuat kita merasa sangat bersalah. Karena selama ini kita sebagai sahabat lo. Kita nggak ada di saat lo dalam keadaan sulit. Bahkan kita juga nggak tahu apa yang telah terjadi. Karena selama ini lo nggak pernah cerita apa-apa tentang masalah lo ke kita."


"Lo tahu kan Fan. Yang namanya sahabat itu saling terbuka satu sama lain. Sehingga kita sebagai sahabat bisa saling membantu di saat sahabat kita sedang dalam kesulitan. Bukan malah menutupi semua masalah lo sendiri. Klo cara lo seperti itu. Sama aja selama ini lo nggak pernah menganggap kita sebagai sahabat lo." jelas Jani. Untuk pertama kalinya Jani berbicara panjang x lebar. Biasanya ia hanya berbicara singkat saja.


"Maafin gue guys. Gue benar-benar nggak bermaksud untuk menutupi masalah gue dari kalian. Gue cuma nggak mau ngerepotin kalian semua. Karena dengan kalian masih mau jadi sahabat gue. Itu sudah jauh lebih dari cukup untuk gue." ucap Fani lirih.


"Tapi bukan seperti ini yang kita mau Fan. Kita cuma mau lo lebih terbuka sama kita sebagai sahabat lo." kata Vina.


"Di antara kalian semua emang cuma gue yang mulutnya paling lemes. Tapi setidaknya gue masih bisa menjaga rahasia sahabat gue sendiri. Klo emang lo nggak percaya cerita sama gue. Setidaknya lo percaya sama mereka berdua. Jangan lo pendam sendiri masalah lo. Kita sahabat lo Fan. Bukan orang lain." timpal Mia.


"Gue benar-benar minta maaf. Saat itu yang ada di pikiran gue hanya dia. Gue berharap dia menjadi orang pertama yang tahu masalah gue. Tapi..." Fani tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Tapi dia nggak ada buat lo dan dia justru meninggalkan lo di saat seperti ini." lanjut Jani.


"Yang kita dengar waktu itu di kantin sekolah. Apa karena Fero sudah tahu soal lo kerja di restoran?" tanya Vina.


"Iya. Bahkan dia juga nuduh gue selingkuh." jawab Fani lirih.


"What.!! Atas dasar apa dia nuduh lo key gitu. Benar-benar minta gue bagel tuh bocah. Awas aja nanti klo ketemu. Abis tuh anak gue jadiin ayam geprek." ucap Mia emosi.


"Ckk.. Situasi key gini sempat-sempatnya kepikiran di jadiin makanan." kata Vina.


"Hehehe sorry. Mulut gue kebablasan. Lo kan tahu sendiri klo mulut gue suka gak ada remnya." ucap Mia sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sedangkan Vina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang satu itu.


"Terus sekarang gimana hubungan lo sama dia?" tanya Jani.


"Semuanya sudah berakhir." jawab Fani lirih.


"Ambil sisi positifnya aja. Mungkin dengan cara Tuhan seperti ini. Lo bisa tahu mana yang tulus dan mana yang cuma modus sama lo." kata Vina.


"Betul banget tuh. Mulai sekarang lo jangan pernah merasa sendiri. Lo masih punya keluarga dan sahabat yang selalu ada untuk lo." timpal Mia.


"Thanks guys. Gue benar-benar beruntung banget mempunyai sahabat seperti kalian semua." ucap Fani dan mereka berpelukan.


Fani sangat bahagia karena selama ini ia tidak sendiri. Selama ini Fani merasa sendiri karena dirinya tidak pernah bercerita apa yang sedang ia alami pada sahabatnya.


Niat hati ingin berbagi kisah dengan kekasihnya. Justru hubungannya hancur karena Fero sudah mengetahui tentang dirinya dari orang lain. Bahkan Fero tidak pernah memberi kesempatan untuk Fani menjelaskan mengapa ia tidak jujur pada Fero tentang kehidupannya yang sekarang.


Dan yang lebih menyakitkan lagi. Fero menuduh dirinya berselingkuh. Yang bahkan tidak pernah terlintas di fikiran Fani untuk berbagi hati dengan pria lain. Prinsip Fani adalah cukup satu pria untuk sekarang dan selamanya. Karena tidak mudah untuk Fani bisa membuka hatinya lagi untuk pria lain.


🌹 Di Kamar Jani 🌹


Malam ini Jani sedang berdiri di balkon kamarnya. Ia sedang menikmati malam hari yang sangat indah karena begitu banyak bintang di langit.


"Apa nggak akan ada pertemuan kita kembali? Lalu untuk apa janji yang telah kita ucapkan dulu. Jika sampai saat ini aja tuhan belum mempertemukan kita kembali? Dan harus sampai kapan gue menunggu.?" ucap Jani sendiri.


"Nggak ada yang maksa lu untuk menunggu dia Ka." seru Juna yang baru saja masuk ke dalam kamar Jani dan melangkah mendekati Kakaknya itu.


"Juna. Kapan lo masuk ke kamar gue.?" Jani sangat kaget dengan kehadiran Adiknya itu.


"Gimana lo mau tau. Lo aja terlalu sibuk memikirkan masa lalu. Sudah saatnya lo melupakan orang itu ka dan membuka hati lo untuk orang yang benar-benar cinta sama lo. Lo berhak untuk merasakan kebahagiaan. Jangan terlalu terikat dengan masa lalu yang belum pasti. Mungkin aja dia di sana sudah menemukan kebahagiaannya bersama orang lain."


"Gue nggak mungkin bisa melupakan dia dan menerima orang lain di hati gue Jun."


"Pasti bisa Ka. Lo hanya butuh memberi sedikit ruang di hati lo untuk yang lain. Jangan terlalu egois Ka. Gue tau sebenarnya selama ini lo tersiksa dengan janji yang tak pasti itu. Cobalah memulai dari awal dengan bang Revin."


"Revin.??"


"Iya. Bang Revin."


"Kenapa harus Revin?"


"Karena gue tau sebenarnya lo juga mulai jatuh cinta kan sama dia.?"


"Ckk. Nggak usah sotoy lo."


"Bukannya gue sok tahu. Lo ingatkan,kita ini bukan sekedar Adik Kakak. Tapi kita anak kembar. Jadi gue bisa rasakan apa yang lo rasakan Ka. Jadi gue berharap lo ikuti kata hati lo. Bukan ego lo."


"Anak kecil diam aja. Nggak usah ikut campur."


"Anak kecil kata lo? Usia kita berdua cuma beda dua menit. Klo gue anak kecil terus lo anak apa? Anak setan."


"Ishh,,dasar Adik nggak ada akhlak lo." ucap Jani kesal dan memukul bahu Juna.


"Jadi gimana. Mau coba dulu nggak. Siapa tau aja cocok."


"Lo kata pakaian yang harus di coba dulu."


"Gue serius ini Ka."


"Nggak usah ngurusin hidup gue. Lo sendiri gimana sama si Puput?"


"Kenapa jadi bawa-bawa dia. Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia Ka. Lagian juga gue nggak ada perasaan ke dia."


"Yakin? Nggak akan menyesal dengan ucapan lo?" tanya Jani memastikan.


Sesaat Juna hanya diam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Kakaknya.