
Benar sekali, Vean sangat beruntung karena bisa dicintai seperti itu, membuat pria-pria pasti banyak yang iri.
Sedangkan ketulusan yang diberikan oleh Dhea, belum tentu dimiliki oleh perempuan lain.
Apa Fio akan mengorbankan ginjalnya jika ginjal itu cocok untuk Vean?
Belum tentu!
Bahkan Fio saja tidak melakukan tes untuk Vean.
Bisakah mereka seperti Vean?
Bisakah mereka menjadi Dhea?
Pandangan mata Vean sangat kosong, seolah jiwanya melayang entah ke mana.
Pintu ruangan UGD terbuka. Vean langsung berdiri begitu saja.
Mereka melihat dua orang perawat mendorong brankar Dhea untuk memindahkannya ke ruangan ICU. Wajahnya sangat pucat seperti tak berdarah. Vean langsung mendekati brankar Dhea, menabrak siapa saja yang ada di depannya.
Dokter Bram dan perawat masuk ke dalam ruang ICU, menutup pintu dengan rapat.
Melihat keadaan Dhea yang seperti itu, membuat Vean merasa dihempaskan ke lubang terdalam. Merasa dunia tiba-tiba saja menggelap.
"Mau apa kalian?" tanya Arya pada Fio dan mamanya.
"Aku mau masuk. Aku juga mau tahu kondisi Dhea dan menunggu di dalam."
"Keluar, kalian berdua tidak berhak ada di sini!" Arya lalu mendorong Fio dan mamanya dengan kasar.
Lagi-lagi mereka harus menunggu di luar. Mereka tahu ruangan ICU ini adalah ruangan VVIP, karena ada ruangan untuk keluarga yang menjaga pasien di dalamnya, seperti ruangan apartemen. Dokter Bram benar-benar menunjukkan kalau dia sendiri yang akan mengurus Dhea.
Tidak lama kemudian dokter Bram dan beberapa orang perawat kekar dari ruangan ICU, melihat mereka yang duduk di ruang tunggu keluarga.
Dokter Bram ikut duduk di sana, menyadarkan tubuhnya di sofa.
Tidak ada yang bicara sedikit pun, Fio, Mila dan Ronald masih berdiri di depan pintu, dilarang oleh Arya untuk menunggu di ruang keluarga.
"Jadi kondisi Dhea saat ini bagaimana, Dok?" tanya Arya lagi.
Dia belum mendengar penjelasan pastinya tentang Dhea.
"Dia harus dirawat di sini secara khusus. Melihat dari kondisinya sekarang, sepertinya dia abai dengan kesehatannya. Dia tidak periksa rutin, tidak minum obat secara teratur, juga pola makan dan istirahat yang berantakan."
"Dia memang seperti itu," ucap Clara lirih.
"Apa maksud kamu?"
"Dhea suka bergadang, makan mie instan, dan ...."
"Dan apa?"
"Dia sering mimisan. Apa ini ada hubungannya? Saat aku tanya, dia selalu menjawab kalau bukan karena kepanasan, ya kedinginan. Saya pikir mungkin itu karena cuaca yang memang sering tidak bagus."
Vean langsung mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
"Halo, William?"
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku minta data semua mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Baik yang mendapat beasiswa atau tidak sejak lima tahun yang lalu di semua universitas di Amerika! Lakukan dengan cepat!" ucap Vean dengan suara bergetar.
Dia langsung mematikan ponselnya sebelum William sempat berkata apa-apa. Dia bahkan tidak peduli di Amerika sekarang jam berapa.
Vean masih tetap menolak untuk percaya, menolak percaya kalau Dhea selama ini tidak berada di Amerika. Menolak menerima kalau Dhea batal kuliah di Amerika karena dirinya dan Fio.
Tidak lama kemudian ponsel Vean berbunyi.
"Bagaimana?"
"Maaf Tuan, saya tidak tahu siapa yang Anda cari, tapi saya sudah mengirimkan semua nama mahasiswa yang berasal dari Indonesia dari lima tahun yang lalu sampai tahun ini. Saya kirimkan ke email Anda."
Vean langsung membuka email-nya. Tangannya bergetar membaca data itu.