Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
95 Karena Seperti Itulah ....


Vean tersadar dari lamunannya.


Bahkan, melihat dirinya di cermin sekali pun, dia pasti akan selalu mengingat Dhea.


Jika waktu bisa diputar kembali, maka semua ini pasti tidak akan terjadi.


Ekspresi wajah Dhea sendiri berubah-ubah. Dia seperti mengingat kenangan-kenangan yang telah berlalu. Semua itu, menjadikan gadis ini tumbuh menjadi gadis yang kuat, bahkan mungkin lebih kuat dari perempuan-perempuan yang usianya jauh di atas dia.


Dhea sama sekali tidak menyesal dengan takdirnya. Dia senang, dan sangat bersyukur bisa mengenal Vean. Bisa merasakan menyukai seorang pria sejak usianya masih sangat muda, yang kaya orang cinta monyet.


Dia tersenyum mengingat hal-hal yang dulu dia lakukan. Setidaknya, dia akan menyimpan kenangan itu jauh di lubuk hatinya. Tidak adalah jika Vean melupakannya, Vean akan tetap hidup dalam hatinya, dan dia akan tetap ada dalam diri Vean dalam bentuk lain.


Sudah cukup sampai di sini saja akhir penantiannya.


Sudah cukup sampai sini saja dia bertahan.


Dia sudah memberikan, semua yang bisa dia berikan.


Jika ditanya apakah dia menyesal? Tentu saja jawabannya tidak.


Langit di luar sana semakin gelap karena hujan. Suara petir saling bersahutan nyaring dan memekakkan telinga.


Dhea menahan sakit yang dia rasakan saat ini. Dia lalu menatap Vean, yang saat ini sedang menatap ke luar jendela. Dhea ingin memuaskan diri menatap pria itu. Melukis Vean dalam ingatannya.


Dhea ingin menscan wajah itu di memorinya. Rasanya dia senang bisa bersama Vean dalam ruangan ini, meski sejak tadi pria itu memalingkan wajahnya.


Tidak ada siapa-siapa, hanya ada mereka. Suara petir menggelegar, dan Vean merasa itu tidak ada apa-apanya.


Vean lalu memandang Dhea. Masih tetap tidak terima dengan kenyataan. Mereka saling menatap, semua yang ingin Vean katakan, entah kenapa selalu saja tertahan di tenggorokannya. Selalu saja terbang dari pikirannya.


Bagaimana dia bisa merasa senang, jika perempuan itu—karena dirinya—malah terbanting sakit, dengan kondisi yang semakin lama semakin lemah.


Kalau sesuatu yang lebih buruk lagi terjadi, Vean bersumpah tidak akan ....


Tidak akan apa?


Tidak akan memaafkan dirinya sendiri?


Dia dan Fio sama-sama melakukan kesalahan pada gadis ini, tapi yang mereka terima bukankah sebuah karma, melainkan kebaikan yang tidak pernah mereka angan-angankan, bahkan dalam mimpi sekali pun.


Tidak, sejujurnya—bagi Vean dan Fio—pemberian darah dan ginjal itu adalah hukuman untuk mereka. Hukuman seumur hidup yang akan selalu mereka ingat, kalau dalam tubuh mereka, ada seseorang yang telah mengorbankan dirinya untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka.


Dhea menatap manik mata Vean. Mata yang dia tidak tahu apakah besok-besok masih bisa melihatnya lagi atau tidak.


"Mungkin, Kakak berpikir kalau aku bodoh. Tapi, Kakak pasti tahu kan, bagaimana rasanya mencintai seseorang. Aku ingin selalu melihat Kak Vean bahagia. Aku juga rela melepaskan Kakak bersama Fio. Aku ingin, memberikan yang terbaik pada Kakak, entah itu doa, atau apa pun. Aku ingin kakak tepat bertahan, aku ingin, dan ingin selalu menjadi bagian dari diri Kakak. Maka aku berikan apa yang bisa aku berikan. Yang tidak bisa ditolak atau dikembalikan lagi, yaitu ginjalku. Karena seperti itulah ... caraku mencintaimu."