
Vean kembali bekerja, karena dia sudah sehat, hanya saja masih sedikit lemas. Pria itu mengajak putri kesayangannya ke perusahaan, karena selama beberapa hari ini, Vean tidak bisa dekat-dekat dengan Yuki. Para karyawan yang melihat hot Daddy itu, langsung meleleh. Pesonanya semakin bertambah dengan menggendong balita perempuan yang memakai baju berenda berwarna putih ditambah bando putih juga.
Sebelah tangan Vean membawa perlengkapan Yuki, dari pampers, baju ganti, susu, mainan dan cemilan yang dimasukkan ke dalam tas bergambar putri salju.
"Aku pengen aku pengen aku pengen ... aku pengen punya suami kaya gitu!" ucap salah seorang karyawan.
"Bukan hanya kamu, aku juga mau."
Erza yang mendengar itu, menghela nafas. Bosnya memang terlihat menggemaskan.
Semoga aku juga segera menikah. Melihat Tuan Vean, aku jadi ingin memiliki anak dan istri. Aku beruntung bisa mengenal orang-orang baik itu.
Uang tabungan Erza sudah semakin banyak, apalagi tinggal di sana, karena mereka sering melakukan kegiatan bersama, yang pastinya makan bersama juga. Entah itu makanan mahal atau makanan murah, pasti akan selalu berbagi. Dia jadi bisa menabung lebih banyak dan memberikan kebutuhan untuk keluarganya.
Vean masuk ke dalam ruangannya, dan mendudukkan Yuki di karpet tebal yang dikelilingi oleh pembatas.
"Yuki main di sini, ya. Daddy mau kerja dulu."
"Tin Tin ...."
"Faustin? Faustin di rumah, masih sakit. Nanti kalau Faustin sembuh, main sama Faustin, ya."
"Mom mom ...."
"Mommy kerja."
Vean memberikan boneka putri salju yang memang sudah ada di dalam ruangan itu kepada Yuki. Pria itu mulai bekerja, sedangkan Yuki duduk di karpet dengan anteng dan bermain dengan semua mainannya. Pintu ruangan kerja Vean diketuk, dan setelah diijinkan masuk, tampaklah sosok pria tua.
"Ini berkas laporan penjualan, Tuan."
Pria tua melirik pada Yuki yang terlihat imut dan menggemaskan.
"Kenapa melirik anak saya seperti itu? Bapak bukan pedofil, kan?"
"Astaghfirullah, bukan, Tuan. Saya hanya gemas saja, ingin segera punya cucu juga."
"Anak saya yang paling besar masih SMP, Tuan."
Vean mendengus. Anak masih SMP, tapi sudah ngebet punya cucu.
"Saya terlambat menikah dan memiliki anak, jadi anak saya masih kecil."
Vean mengangguk saja.
"Saya juga terlambat menikah, Pak. Seharusnya saya langsung menikah saat istri saya lulus SMA."
Bapak itu meringis. Yang kaya begini dibilang terlambat menikah? Apa kabar dirinya?
Vean jadi melamun, dia berpikir mungkin seharusnya sekarang dia sudah memiliki tiga orang anak, kalau saat itu langsung menikahi Dhea.
💦💦💦
"Kamu kenapa kusut begitu?" tanya Juna.
Saat ini, Juna, Vean, Arya, Erza, Bagas dan dokter Petter sedang makan siang bersama di salah satu kafe. Vean menyuapi Yuki puding mangga yang tidak terlalu manis.
"Aku sebenarnya ingin punya anak banyak, tapi takut kalau Dhea hamil lagi."
"Memangnya kenapa kalau Dhea hamil? Kan enak, rumah kita bakalan ramai."
"Ya takut, lah. Kamu tahu sendiri kan waktu Dhea hamil Yuki seperti apa?"
"Memang apa yang terjadi pada Dhea?" tanya dokter Petter.
Juna lalu menceritakan tentang masalah kesehatan Dhea.
"Kalau memang berencana punya anak lagi, kalian bisa konsultasi dengan dokter kandungan. Hal-hal yang dikhawatirkan bisa dicegah dengan vitamin, obat dan pola hidup sehat. Lagi pula, ini kehamilan kedua, tidak terlalu beresiko seperti kehamilan pertama."
"Tak apalah punya satu saja, lagi pula Yuki masih kecil."