
"Yuki ... namanya Yuki," ucap Dhea dan Vean bersamaan.
"Kamu juga mau kasih nama itu?" tanya keduanya lagi, bersamaan.
Vean dan Dhea sama-sama tertawa.
"Kamu sangat menyukai salju. Coba lihat dia, putih dan lembut seperti salju."
Yuki, yang dalam bahasa Jepang artinya salju.
"Gak sekalian kalian beri nama coklat? Kan Dhea suka sama coklat."
"Jangan ngadi-ngadi, Fiooo. Dasar pea!" ucap Juna.
Tapi akhirnya mereka juga tertawa. Kembali menatap bayi perempuan yang sangat menggemaskan itu.
"Maaf Tuan, bayi Anda harus saya bawa lagi."
Dengan terpaksa mereka membiarkan bayi itu dibawa lagi.
...π¦π¦π¦...
Dhea sebenarnya sudah diijinkan untuk pulang, karena kondisinya membaik dengan sangat cepat. Tapi ibu muda itu tidak mau pulang jika tidak bersama dengan anaknya. Dhea tidak mau pulang, itu berarti Vean juga tidak mau pulang. Mereka ingin menemani anak pertama mereka di rumah sakit, meski tidak bisa berada di ruangan yang sama.
Vean dan Dhea menatap anak mereka dari balik kaca. Perempuan itu juga sudah menampung ASI-nya di botol susu. Untung saja Dhea tidak mengalami kendala dalam ASI, jadi anaknya tidak akan kekurangan.
"Dia cantik sekali, ya."
"Iya, sangat cantik seperti mommy-nya."
Mata sepasang suami itu selalu berbinar melihat bayi kecil mereka. Bersyukur semua bisa dilewati, meski sempat mengalami hal yang tidak diinginkan.
Vena yang tadinya berencana mau punya anak banyak, sekarang berubah pikiran.
Kapok!
Cukup satu, yang penting Dhea dan anak perempuan mereka sehat-sehat saja.
Mau laki-laki, mau perempuan, sama saja. Sama-sama anugerah Tuhan yang harus selalu disyukuri.
Yuki adalah anak kesayangannya, yang akan selalu dia jaga sampai kapan pun.
...π¦π¦π¦...
Suasana rumah Vean dan Dhea sangat ramai hari ini. Tenda sudah didirikan di depan halaman rumah Vean. Hari ini ketiganya akan pulang dari rumah sakit.
Keluarga dan sahabat-sahabat mereka akan mengadakan syukuran atas kepulangan mereka bertiga.
Mobil yang menjemput Vean sudah tiba di sana.
"Selamat datang, Yuki."
Yuki menjadi rebutan mereka. Menjadi pusat perhatian dan kesayangan para orang dewasa itu.
"Jangan dicolek-colek dan dicium terus, woy! Lecek, nanti!" protes Vean.
"Lecek? Dikira tisu?"
Vean memberengut, ingin mengambil anaknya, tapi malah dia yang seolah ingin menculik anak orang.
"Ayo, sebentar lagi acaranya mau dimulai."
Vean, dan Dhea duduk lesehan dengan alas karpet. Tenda yang dibuat sangat besar, jadi bisa menampung banyak tamu.
Ketiganya memakai baju putih, yang seputih salju.
Doa-doa dari pemuka agama dan anak-anak yatim dipanjatkan. Bisa terlihat dengan jelas bagaimana aura kebahagiaan dari Vean dan Dhea. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Dhea yang sudah terampil dengan bayi, tidak ada sedikit pun mengalami kendala saat menggendong dan menimang-nimang Yuki.
Yuki pun begitu, selalu anteng dalam dekapan hangat sang mommy.
"Sini, Yang, aku yang gendong."
Berkat sering membantu Dhea mengurus anak-anak panti yang masih balita, Vean juga sudah terbiasa menggendong bayi, dan hal-hal lainnya. Sudah tidak canggung lagi saat menimang-nimang dan menidurkan.
Bibir mungil yang bergerak-gerak itu membuat Vean gemas, belum lagi mata bulat dengan bulu mata lentik.
"Selamat datang di rumah, Yuki Veara."