
"Vean, kamu masih ingat Fio?"
"Siapa, tuh?"
"Itu loh, teman kamu waktu masih kecil. Anaknya Tante Mila dan om Richard."
"Oh."
"Ingat?"
"Enggak."
"Ish, kamu ini. Minggu depan Fio mau pulang ke sini."
Vean diam saja, karena menurutnya tidak penting.
Friska dan Candra saling tatap, melihat anak mereka yang sibuk dengan ponselnya. Vean sendiri saat itu sibuk dengan ponselnya, melihat foto-foto Dhea yang dia simpan diam-diam.
Foto-foto sejak pertama kali mereka bertemu di SMP Dhea.
Tidak ada yang tahu, ini hanya rahasia Vean saja. Foto yang selalu menemani dirinya saat dia merindukan gadis itu. Foto yang selalu dia tatap menjelang dia tidur dan foto-foto yang dia rindukan saat dia membuka mata keesokan paginya.
Vean selalu menghitung hari. Berharap waktu cepat berlalu dan tiga tahun ini akan berakhir.
Sekarang Dhea sudah SMA. SMA yang sama dengan Vean dulu. Dhea yang semakin dewasa, menambah kecantikan di wajahnya, dan membuat hati Vean ketar-ketir. Berpikir pasti ada banyak pria yang mendekati gadis itu.
Sifat Dhea yang ceria dan apa adanya, membuat Dhea bisa akrab dengan siapa saja. Lihat saja bagaimana Vean yang bisa duduk mendengarkan segala celotehan gadis itu. Jika itu orang lain, pasti sudah Vean tinggalkan, daripada kupingnya panas selalu mendengar orang ngomong.
Hanya Dhea yang bisa membuat Vean tersenyum, bahkan tertawa—ya meski tetap harus dia tahan.
Bersama Dhea, hidup Vean penuh warna.
Dhea bukan gadis yang matre. Dia tidak pernah meminta ini itu padanya. Tidak pernah pura-pura lugu dan sok kalem.
Dhea yang selalu menggodanya, dengan coro khasnya sendiri, selalu bisa menghibur Vean, dan anehnya Vean sama sekali tidak pernah merasa risih. Berbeda dengan gadis lain, yang selalu berusaha menarik hatinya, tapi membuat Vean risih dan kesal.
Bersama Dhea, Vean merasa dicintai.
Bersama Dhea, Vean merasa dibutuhkan.
Bersama Dhea, Vean merasa menjadi pria yang beruntung.
Bersama Dhea, Vean merasa memiliki tujuan hidup.
Ingin bekerja keras, tahu bagaimana caranya bersyukur dengan apa yang dimiliki.
Semua ....
Vean merasa Dhea sudah memberikan semua kebaikan kepadanya.
Jadi, apa lagi yang dia pikirkan?
Hanya menunggu tiga tahun lagi.
Tidak perlu mengatakan, "Aku juga suka kamu. Ayo kita pacaran." Tapi Vean akan mengungkapkannya dengan sebuah lamaran resmi, yang langsung mengikat gadis itu menjadi tulang rusuknya.
Tidak mau jika nantinya mereka pacaran, maka putus sambung putus sambung ala anak muda yang sangat labil.
Di depan Dhea, Vean memang selalu bersikap datar dan dingin, tapi hatinya selalu menghangat. Semua itu dia lakukan untuk membentengi dirinya sendiri.
Selama tiga tahun ini, dia selalu berusaha menahan diri ....
Selalu menahan diri untuk tidak memeluk gadis itu.
Bahkan selalu menahan diri untuk tidak menciumnya.
Apa jadinya kalau dia mencium anak SMP?
Tunggu tiga tahun lagi, Dhea. Selama tiga tahun ini, aku akan bekerja lebih keras, dan uang tabunganku sudah banyak. Aku bisa membeli rumah untuk kita. Kamu tidak perlu lagi bekerja keras, mencuci piring dan melakukan semua pekerjaan itu.
"Vean, papa dan mama mau bicara."
"Bicara apa?"
"Hm ... jadi begini."
Vean menunggu mamanya bicara.
"Sebentar lagi Fio dan kedua orang tuanya akan kembali ke negara ini. Mama dan Tante Mila ingin menjodohkan kamu dengan Fio."
"Apa? Enggak, Vean gak mau!"
Vean langsung berdiri dari tempat duduknya, tidak mau mendengarkan perkataan mamanya soal perjodohan.
Aku tidak mau dijodohkan. Aku sudah punya pilihan sendiri, bahkan sejak tiga tahun yang lalu. Begitu Dhea lulus SMA, aku akan langsung menikahinya.