Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
169 Orang Tua Siapa?


Di Jakarta


"Permisi."


"Ya, cari siapa ya, Pak?"


"Saya ingin mencari pemilik panti ini."


"Tolong tunggu sebentar, Pak. Saya panggilkan dulu. Silahkan duduk."


Tidak lama kemudian ibu panti datang dan duduk dan hadapan pria itu.


"Saya pemilik panti ini. Ada keperluan apa Bapak mencari saya?"


"Begini Bu, saya ingin bertanya-tanya tentang bayi perempuan ...." Pria itu terdiam sejenak, mengamati anak-anak kecil yang sedang bermain lari-larian.


"Bagaimana kalau kita bicara di ruang kerja saya saja?"


"Baiklah."


Mereka memasuki ruang kerja yang tidak jauh dari halaman belakang tempat anak-anak bermain.


"Bapak ingin mengadopsi bayi perempuan?"


"Oh, tidak. Bukan itu. Saya ingin bertanya tentang bayi perempuan yang masuk ke panti ini beberapa tahun yang lalu ...."


...💦💦💦...


Vean jadi terus memikirkan perkataan Arya. Dia takut kalau nanti Dhea bertemu dengan orang tua kandungnya, maka mereka akan berpisah.


Bukan, bukan takut akan di bawa pergi. Karena kalau di bawa pergi ke kota lain atau ke negara lain, dia masih bisa menyusul.


Vean takut hubungan mereka tidak direstui. Dia juga sangat tahu Dhea seperti apa. Pada Fio saja, Dhea bisa mengalah. Pada Mila saja, Dhea menaruh hormat. Apalagi kepada orang tua kandungnya, meski mereka telah berpisah lebih dari dua puluh tahun.


Dhea pasti akan menuruti keinginan mereka. Tidak, tidak, itu tidak boleh terjadi. Maafkan aku, Dhea, tapi lebih baik tetap seperti ini saja.


Vean menghela nafas berkali-kali.


Pulang dari sini, aku harus segera menikahi Dhea. Tidak boleh ditunda-tunda lagi. Kalau perlu langsung punya baby.


Baby?


Wajah Vean jadi memerah. Dia sudah sering melihat Dhea yang mengasuh bayi. Membayangkan bagaimana Dhea akan merawat anak mereka bersama-sama.


Mommy dan daddy.


Vean jadi senyum-senyum sendiri.


Vean mendelik kesal pada Juna yang berdiri di depan pintu ruangannya.


"Kamu sudah dipecat jadi dokter? Kenapa ada di sini?"


"Aku di Swiss hanya untuk memantau dokter-dokter magang yang bekerja di sini. Sekaligus mendampingi Arya. Kalau dia di bagian management, aku di bagian operasional."


"Eh, ngomong-ngomong, apa aku tarik saja dokter Petter dan istrinya ke Jakarta, ya?"


"Sekalian mau kamu jadikan tetangga juga?"


Juna tertawa terbahak-bahak.


Aku saja tidak terpikirkan begitu, tapi idenya boleh juga.


"Kenapa muka kamu kusut begitu?"


"Aku mau menikahi Dhea secepat mungkin. Apa besok saja, ya? Kalian yang jadi saksi."


"Jangan sembarang, Vean. Kamu harus minta restu secara langsung sama orang tua kamu, sama ibu panti juga. Kalau kalian nikah dadakan, nanti kalian dikira sudah melakukan kesalahan. Eh, jangan-jangan kalian sudah DP bayi?"


"Sembarangan!"


"Lagipula, menikah itu sekali seumur hidup—kalau bisa. Jadi, bikin pesta yang bisa kalian kenang seumur hidup. Ya walau Dhea juga pasti gak masalah dengan pesta sederhana. Tapi namanya perempuan, pasti mau pesta yang berkesan."


"Iya, aku mau pesta yang berkesan."


Bukan Vean yang bicara, tapi Fio.


"Datang tak diminta, pulang minta anterin!" ucap Juna menatap Fio.


"Ih, kamu kok tahu? Jangan-jangan diam-diam jatuh cinta?"


Juna merinding mendengar perkataan Fio.


Aku memimpikan bidadari, bukan mbak Kunti.


"Mau ngapain? Gak menerima permintaan sumbangan."


"Ya sudah, kalau begitu aku, Dhea dan yang lainnya makan siang tanpa kalian saja. Bye, jangan marah kalau Dhea kecantol bule ganteng. Duh, minta dipeluk banget tuh bule-bule. Badannya itu, loh. Peluk able."


Vean langsung berdiri dan menghampiri pintu lebih dulu.


"Heleh, tadi ngusir aku!"