
"Kamu juga harus bisa mendapatkan pria yang baik seperti Vean, Fio."
"Jangan mulai lagi deh, Ma. Jangan jodohin aku sama siapa-siapa lagi."
"Ya gapapa. Masa nanti Dhea sudah menikah dan punya anak, kamu masih jomblo. Kan enak, kalau anak kalian bisa besar sama-sama."
"Mama, aku kira mama sudah taubat menjodohkan aku, ternyata belum."
"Kamu ini, dikasih yang terbaik kok malah begitu. Mama hanya khawatir kamu mendapatkan pria yang salah, nanti malah sakit hati! Kamu ... tidak sakit hati kan, Dhea sama Vean?"
"Enggak Mamaaa. Aku punya cowok idaman yang masih ada dalam khayalan."
Juna langsung menarik Arya. Mereka tidak sengaja mendengar perkataan Mila dan Fio.
Gawat, bisa-bisa nanti aku yang dijodohkan dengan dia, batin Juna.
...π¦π¦π¦...
Ada yang sedang berbunga-bunga.
Bukan Dhea, ya meski dia juga bahagia.
Vean ....
Pria itu sejak tadi senyum-senyum terus, sambil memamerkan kelingkingnya yang masih tersemat cincin Dhea.
"Itu kan cincin Dhea, balikin woy. Calon suami gak modal!"
Vean malah menggerakkan kelingkingnya kiri kanan kiri kanan di depan Juna dan Arya, seperti orang yang sedang menghipnotis.
"Kamu harus melamar Dhea dengan lebih romantis lagi."
"Tahu, nih. Masa ngelamar cewek kaya gitu!"
"Nanti setelah menikah, kamu mau tinggal di mana?"
"Ya di sini, lah. Pindah ke tempat lain, nanti dibuntuti lagi sama tetangga-tetangga yang nyebelin."
Juna dan Arya tertawa.
"Felix dan Steve juga mau menikahi Aila dan Sheila, kalian nikah masal saja."
"Sialan!"
"Ya ampun Veaaannn! Berhenti mengusap-usap cincin itu, jinnya juga gak bakalan keluar!"
"Tidur, tidur! Besok kerja!"
Mereka bertiga akhirnya tidur di rumah Arya, setelah tidak tidur dari Sabtu malam sampai ke Minggu malam lagi.
Dan besok hari Senin, hari yang katanya sangat panjang dan melelahkan.
Pagi-pagi sekali para tetangga sudah rusuh. Mereka kesiangan, dan sekarang mencari sarapan.
"Bannng, beli bubur ayam."
"Penjual lontong sayur mana, Bang?"
"Buruan, Bang. Satu porsi, jumbo tapi."
"Enggak bisa, aku dulu."
Para pedagang makanan itu jadi bingung.
"Sayang, ini makan dulu."
Makanan itu akhirnya direbut oleh Vean, dan diberikan pada Dhea. Dhea hanya tertawa melihat mereka yang mulutnya komat-kamit. Yang berebutan siapa, yang dapat siapa.
...π¦π¦π¦...
Erza lega melihat bosnya yang kini ceria. Dia memang datang ke pesta kejutan ulang tahun Dhea sekaligus acara lamaran yang unik itu.
"Kamu mau bonus apa, Za?"
"Ya, Tuan?"
"Kamu mau bonus apa? Rumah atau mobil? Tapi jangan minta cuti!"
"Serius, Tuan?"
"Ya."
"Rumah."
"Keputusan yang tepat. Kamu ambil satu unit rumah dekat rumah saya yang sekarang."
Tahu gitu ambil mobil. Punya rumah dekat rumah bos, yang ada disuruh lembur terus.
"Terima kasih banyak, Tuan."
Vean juga memesan makanan untuk semua karyawannya. Dia ingin berbagi kebahagiaan.
"Dalam rangka apa, nih, menu makan siang kita sebanyak dan seenak ini?"
"Habis dapat proyek baru, kali."
"Sering-sering saja kaya begini."
Di dalam ruang kerjanya, sesekali pria itu melirik kelingkingnya, lalu mengusap lembut cincin itu.
Takut berdebu, pikirnya.
Untung saja tidak ada Juna dan Arya.
Vean melupakan satu hal.
Dia mengambil ponselnya dan memfoto kelingkingnya, lalu menjadikan foto profil di semua akun sosial media miliknya.
Mereka hanya bisa tepuk jidat.
[Arya, ayo kita buat kerusuhan di tempat Vean.]
[Maaf, Anda siapa, ya? Saya sedang sibuk!]
[Kamvret!]