Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.24


Sampainya di depan rumah Jani dan Juna,ternyata mereka tiba di sana berbarengan.


Revin pun memencet bel rumah dan langsung di bukakan oleh Bi Inah (ART).


"Maaf. Cari siapa ya?" tanya Bi Inah (ART) sopan. Sebelum mereka menjawab pertanyaan Bi Inah (ART) tiba-tiba Juna keluar.


"Heyy,kalian cepat juga udah sampe sini?" tanya Juna yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.


"Kalo soal makanan mah si Aldi sama si Fero nomor satu." cibir Vino sambil melirik ke arah Aldi dan Fero.


"Yoii,," seru Aldi dan Fero bersamaan.


"Ciih. Tadi aja pengen bunuh Kakaknya,sekarang di ajak ke rumah makan-makan sama Adiknya. Langsung getol banget,dasar nggak tau malu." cibir Fani.


"Sirik ae lo Markonah," ucap Aldi dan langsung mendapatkan pukulan dari Fani.


Mereka pun pada geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu.


"Udah ayo kita masuk." ajak Juna pada mereka semua.


Mereka pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke halaman belakang rumah. Untuk mereka melakukan acara bakar-bakarnya.


"Anjiirr... Ada panggung mininya laayy. Ini ceritanya kita mau barbequan apa mau dangdutan." seru Aldi yang baru tiba dan melihat pemandangan di halaman belakang.


"Norak lo," ucap Fani dan Fero bersamaan.


"Kakak lo mana Jun?" tanya Vina yang tak melihat Jani.


"Ada. Dia masih di dalam kamar." jawab Juna.


"Set dah,si Jani bener-bener dah. Teman-temannya dateng bukannya di sambut malah dia ngedekem di dalam kamar bae." ucap Fani.


"Mungkin dia nggak tau kali,kalo kita pada ke sini." ucap Vino.


"Sini gw sambit Fan." ucap Mia.


"Masih dendam aja lo Mi sama gw." ucap Fani.


"Kalian mulai aja bakar-bakarnya. Gw mau panggil Kak Jani dulu." ucap Juna.


"Biar gw aja. Kamarnya di mana?" tanya Revin.


"Oh. Di atas sebelah kanan Bang." jawab Juna memberitahukan Revin.


Revin pun berlalu pergi menuju kamar Jani yang sudah di kasih tau oleh Juna. Tibanya di depan kamar Jani,tak lupa Revin mengetuk pintu terlebih dahulu.


Sudah beberapa kali Revin mengetuk kamarnya Jani tapi tidak ada tanda-tanda di buka dari dalam. Revin pun mencoba membuka pintu dan ternyata pintu kamar Jani tidak di kunci.


"Jan. Gw masuk ya!" izin Revin yang mulai melangkah masuk ke dalam kamar Jani.


Saat Revin masuk ke dalam kamar Jani,ternyata di dalam tidak ada Jani. Ia pun melangkah menuju balkon kamar,siapa tau aja Jani ada di sana dan ternyata tak ada. Saat Revin kembali,ia melihat sebuah bingkai foto di atas nakas di sebelah tempat tidur Jani.


"Foto ini..." sebelum Revin melihat dengan jelas foto itu. Tiba-tiba Jani keluar dari dalam kamar mandi dan langsung merebut bingkai foto yang Revin pegang.


"Ngapain lo di kamar gw?" tanya Jani dengan nada marah marah.


"Itu. Foto siapa?" tanya Revin pada Jani.


"Bukan urusan lo. Lo ngapain ada di dalam kamar gw?" tanya Jani dingin.


"Mereka udah pada tunggu lo di halaman belakang." jawab Revin.


"Ngapain?" tanya Jani dengan wajah bingung.


"Lo nggak tau?" tanya Revin. Jani hanya menggelengkan kepalanya dengan tampang polosnya.


"Ckk. Lo nggak baca grub chat?" tanya Revin lagi.


Jani menggelengkan kepalanya lagi. "Sebenarnya ada apa sih? Nggak usah buat gw penasaran deh." ucap Jani yang makin kesal karena Revin bukannya menjawab pertanyaan Jani. Justru Revin malah balik tanya ke Jani lagi.


Mereka berdua pun keluar kamar dan menuruni anak tangga. Revin masih menggandeng tangan Jani sampai ke halaman belakang.


Setibanya di halaman belakang Jani di kagetkan dengan kehadiran teman-temannya yang sudah berada di sana. Bahkan mereka sudah memulai barberquan di halaman belakang.


"Sejak kapan mereka ada di rumah gw?" batin Jani dengan wajah bingung melihat teman-temannya.


Pasalnya baru beberapa menit mereka meramaikan grub chat yang isinya tak penting itu. Lalu kenapa sekarang mereka sudah meramaikan halaman belakang rumahnya.


"Hay Jan," sapa Vino dan Jani hanya tersenyum tipis.


Mereka pun melihat seseorang yang baru saja Vino sapa.


"Nongol juga lo. Betah banget sih lo ngedekem di dalam kamar. Lama-lama netes lo." ucap Fani yang melihat kedatangan Jani.


"Lo pikir gw ayam," ucap Jani sinis.


"Sini Jan duduk!" ajak Vina.


Jani pun duduk di sebelah Vina. Sedangkan Revin bergabung dan membantu para cowok-cowok yang sedang membakar sosis yang ingin mereka makan.


"Kalian kok malam-malam gini ada di rumah gw?" tanya Jani kepada sahabat-sahabatnya itu.


"Iya. Tadi Ade lo yang ngajakin kita-kita untuk barbequan di sini." jawab Mia.


"Kapan?" tanya Jani.


"Tadi di grub chat." jawab Vina. Jani hanya mengkerutkan keningnya.


"Si Jani mana tau. Dia aja nongol di grub chat pas si Revin ngizinin dia." cibir Fani.


"Oiyaa. Kalian udah jadian?" tanya Mia pada Jani.


"Siapa?" tanya Jani balik.


"Ckk. Ya lo sama Revin lah Jan." jawab Fani.


"Lah kata siapa? Nggak tuh." ucap Jani mengelak.


"Masaa... Kok tadi di grub chat,si Revin ngizinin lo nongol. Eh lo langsung nongol." ucap Mia.


"Gw nongol karena kalian itu pada berisik. Gw kan pengen santai-santai di dalam kamar." jelas Jani kepada sahabat-sahabatnya itu.


"Yaelah Jan. Santai-santai mulu lo di dalam. Mendingan juga kita ngumpul begini. Mumpung besok kita sekolahnya libur." ucap Fani.


"Ya justru itu. Gw pengen..." ucapan Jani terpotong saat Aldi datang membawakan sosis bakar pada mereka.


"Hay girl's. Hidangan datanggg!!!" seru Aldi pada mereka.


"Waahhh... Nyamiii,," seru Mia dengan suara cemprengnya.


"Berisik Mi," ucap Vina menegur sahabatnya itu. Mia hanya cengengesan.


"Taro di sini dan lo balik lagi sana. Bakar sosis yang banyak lagi,buat kita para cewek-cewek." ucap Fani pada Aldi.


"Sialan lo. Giliran bakar-bakar nyuruh gw. Giliran soal makanan,lo pengen gegares dewek."


"Tolong di ralat ya kata-katanya. Gw nggak makan nih sosis bakar sendiri,tapi sama yang lainnya juga dan lo juga bakarnya nggak sendirikan. Tapi di bantu dengan para cowok-cowok juga." jelas Fani dengan nada kesal.


"Semerdekanya lo Markonah." ucap Aldi berlalu pergi meninggalkan para cewek-cewek dan kembali ke tempat para cowok-cowok yang sedang membakar sosis.


"Dasar Bambang sialaaannn." seru Fani dengan nada marah.


"Sabar Fan," ucap Vina.


Jani pun hanya tersenyum tipis dan geleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dari teman-temannya itu.