Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
237 Sakit


Arya dan Juna sibuk di rumah sakit. Terutama Arya, pria itu harus bolak-balik rumah sakit dengan perusahaan untuk membantu Vean, padahal sudah ada Erza dan Bagas, tapi masih saja kurang.


Bagas memang sudah dipercaya untuk membantu di perusahaan. Nilai-nilai akademik pria itu memuaskan, meski belum lulus kuliah.


Bagas seperti pengganti Arya di panti, yang sekarang lebih mengemban tanggung jawab. Kasihan Arya kalau apa-apa selalu dia. Bagas mengatur adik-adiknya yang laki-laki atau yang perempuan, karena dia ingin meringankan beban ibu panti, Dhea dan Arya.


Vean sedang sakit, begitu juga dengan dokter Petter, dokter Stevie dan Faustin.


Sepertinya keluarga dokter Petter sakit akibat cuaca di Jakarta yang sangat jauh berbeda dengan di Swiss. Sekalinya panas, panas sekali me menyebabkan lengket di tubuh dan pengap. Sekalinya hujan, maka hujan deras sampai banjir.


Vean juga sakit, dia merasa sangat menderita, karena tidak bisa dekat-dekat dengan Yuki dan Dhea, takut keduanya tertular.


Ibu muda itu membuatkan sup sapi untuk Vean, dan bubur untuk Yuki.


"Mam mam mam."


"Iya, Yuki makan, ya. Sama mommy aja, Daddy lagi sakit."


Sambil menyuapi Yuki, Dhea juga membuatkan air jahe untuk Vean dan keluarga dokter Petter. Minuman herbal buatan sendiri akan lebih bagus untuk cuaca yang seperti ini.


"Kamu juga istirahat saja, Dhea. Jangan sampai ikut-ikutan sakit, lagi musimnya, ini," ucap Frisca.


"Iya, Ma. Ini lagi suapi Yuki dan buat minuman dulu."


"Itu anak-anak panti juga banyak yang sakit, kasihan. Tadi mama sudah memanggil beberapa orang dokter dan perawat, biar mereka diinfus di rumah saja."


"Makasih banyak ya, Ma."


"Jangan bilang makasih, kita ini keluarga."


Setelah selesai menyuapi Yuki dan membuat minuman herbal, Dhea membawa minuman itu ke rumah dokter Petter.


"Ma, Dhea nitip Yuki dulu."


"Sini Sayang, sama Oma."


Juna memeriksa kondisi Vean yang terlihat sangat lemah. Pria itu hanya berbaring saja di atas kasur, dengan wajah merah dan kepala nyut-nyutan.


Yuki merengek minta digendong oleh Vean, tapi ditolak oleh pria itu, membuat balita itu menangis.


"Gendong sebentar saja, Kak. Kasihan Yuki kalau menangis seperti ini."


"Duh, dicuekin sama Daddy, ya? Cari Daddy baru mau, gak?"


"Juna!"


Juna hanya tertawa saja sambil menggendong Yuki. Dokter itu menggendong Yuki di pundaknya, membuat balita itu tertawa kesenangan.


Vean tiba-tiba merasa mual, dan dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Dhea mengambil minyak dan mengolesinya di punggung Vean.


"Kalau kamu sakit, kasihan Bagas dan Erza," ucap Juna.


"Ini, Kak. Minum." Dhea memberikan air herbal untuk Vean. Untung saja sekarang Vena Sidah terbiasa meminum minuman tradisional itu.


"Di rumah sakit juga pasien semakin banyak. Kamu di rumah saja, Dhea. Jangan ke butik dulu, kasihan Yuki kalau kedua orang tuanya malah sakit."


Dhea mengangguk, lebih baik menurut daripada membuat yang lain khawatir. Di dapur, Bianca, Friska dan ibu panti membuatkan sup daging untuk orang-orang.


"Untung saja mereka tetanggaan, ya, jadi bisa saling membantu."


"Iya, gak kaya kita dulu, ya. Tinggal tidak sama orang tua. Dari sahabat juga jauh. Papanya Vean juga tadi mengeluh tidak enak badan."


Sup yang dibuat sangat banyak, ada tiga panci besar.


"Bi, tolong dibagi-bagi ke rumah yang lain, ya."


"Baik, Nya."