
Dhea tidak tahu, haruskah merasa senang atau tidak. Dia tidak munafik, kalau dia senang saat Vean selalu ada di dekatnya, karena jujur saja, dia masih sangat mencintai pria itu.
Ikhlas bukan berarti rasa cinta itu hilang, kan?
Tapi dia juga merasa bersalah, merasa takut, dan tidak mau dianggap sebagai perebut tunangan perempuan lain, apalagi perempuan itu sahabatnya sendiri.
Lihat saja, berapa banyak orang yang merebut pasangan orang lain lalu mendapat cibiran. Cukup dia yang diperlukan kasar dan sinis oleh Mila, jangan ditambah orang lain lagi.
"Jangan takut, dan jangan pikirkan apa pun. Cukup berdiri di sisiku, menjadi tamengmu, dan tetap berpegangan denganku."
Dhea tidak mengatakan pada pun, dan Vean tahu, tidak mudah meyakinkan gadis itu.
"Ayo kita makan."
Vean mengajak Dhea makan di kafe dekat sekolah mereka. Dhea mengulum senyum, mengingat masa-masa saat dia sekolah dulu.
Dulu, dia hanya bisa melihat tempat ini dari luar saja. Ingin makan di dalam, tapi uangnya tidak cukup. Tidak mungkin juga mengajak Vean dan minta traktir.
Dulu, Vean ingin mengajak Dhea makan di sini, tapi tidak mau gadis kecil itu merasa minder, atau merasa dikasihani. Akhirnya, Vean lebih memilih jajan di pinggir jalan. Entah itu siomay atau batagor. Beli tiga ribu saja, menyesuaikan diri dengan Dhea.
Dulu, Dhea berangan-angan, bagaimana rasanya kencan dan makan di kafe. Memilihkan makanan satu sama lain, atau makan sepiring berdua ala anak remaja. Entah ngirit, pelit, atau ingin terlihat romantis. Tidak sadar, Dhea malah tertawa.
Mungkin kalau dulu dia seperti itu, sekarang dia akan menertawakan dirinya sendiri.
Dulu, Vean berangan-angan, bagaimana rasanya makan berdua saja dengan seorang kekasih. Melihat teman-teman dia yang setiap hari mentraktir pacar mereka, tapi tidak lama setelah itu, mengeluh uang jajannya habis untuk menyenangkan pacarnya.
Tanpa sadar Vean tertawa, menertawakan teman-temannya itu. Meskipun duku dia bertanya-tanya, kenapa Dhea tidak pernah minta jajan padanya.
"Kenapa ketawa?" tanya mereka bersamaan.
Mereka lalu saling mengalihkan pandangan, dan melihat sudut yang sama.
Halte sekolah
Dulu, setia pulang sekolah, Dhea akan berdiri di situ, berharap bertemu Vean. Syukur-syukur kalau Vean mau mengantarnya pulang. Bukan karena ingin irit ongkos, tapi ingin bersama pria itu lebih lama.
Dulu, setia pulang sekolah, Vean akan berdiri di halte, dengan alasan menunggu temannya yang meminjam motornya untuk mengantar pacar temannya. Padahal, Vean dengan sengaja meminjamkan motornya, agar bisa pulang jalan kaki dengan Khea. Memberikan alasan klasik—takut gadis itu diculik—padahal memang itu niatnya.
Ternyata, waktu sudah cukup lama berlalu.
Si gadis kecil sudah menjadi sosok perempuan dewasa, yang semakin cantik.
Si Kakak kelas sudah menjadi sosok pria yang lebih dewasa, yang semakin tampan.
Tapi tidak ada yang berubah di hati mereka.
"Wih, Vean dan Dedek Dhea. Masih juga sama-sama?" sapa seorang pria dengan cengiran.
Satu persatu orang yang dikenal Dhea datang.
Gadis itu tersenyum, melihat kakak kelasnya yang rusuh.
"Sudah berapa ton coklat yang kamu kasih, Dhea?"
Dhea terkekeh pelan. Mereka adalah saksi betapa pedenya dia saat itu. Para pria itu memiting Vean dalam pelukan mereka.
Suasana kafe menjadi rusuh, membicarakan masa lalu yang sekarang menjadi kenangan indah.