Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 46


"Defan,," ucap Fani.


Ya,seseorang yang berada di dalam mobil yang berhenti di hadapannya itu adalah Defan teman sekolahnya.


"Ngapain sendirian di situ. Ayo,masuk!" ajak Defan.


"Enggak deh. Lo duluan aja." tolak Fani.


"Dasar cewek keras kepala." umpat Defan. Defan pun keluar dari mobilnya.


"Udah ayo bareng gue aja. Lo enggak liat tuh,bentar lagi mau turun hujan. Nanti lo bisa telat ke cafenya." kata Defan.


"Gue cuma enggak mau ngerepotin lo terus,Def. Selama ini lo udah banyak banget bantu gue." ucap Fani.


"Ck.. Key sama siapa aja deh lo. Lo masih ingatkan pembicaraan kita waktu itu. Lo itu teman gue dan gue teman lo. Jadi sebagai teman harus saling membantu di saat temannya sedang membutuhkan. Jadi klo ada apa-apa,lo cerita aja ke gue. Insyaallah gue akan bantu." jelas Defan.


"Makasih.." kata Fani tersenyum sambil menatap Defan.


Defan mengusap kepala Fani gemas. "Yaudah ayo masuk." ajak Defan dan membukakan pintu mobil untuk Fani.


Tanpa mereka sadari,sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.


"Brengsek,," umpat Fero marah sambil memukul setir mobil.


Karena di jalan melihat cuaca yang sudah gelap. Di pastikan akan turun hujan. Mengingat Fani yang tidak membawa mobil. Ia memutuskan untuk kembali ke sekolahan lagi untuk mengantarkan Fani pulang. Sejujurnya Fero menyesal karena enggak seharusnya tadi ia marah dan meninggalkan Fani sendiri. Tanpa mendengarkan penjelasan dari Fani. Tapi setelah melihat pemandangan tadi. Fero menjadi sangat marah.


Di dalam mobil Fani melamun sambil melihat ke luar dari balik kaca di sebelahnya.


"Kenapa lo enggak mau dengar penjelasan gue. Kenapa lo harus lebih dengar penjelasan orang lain. Apa selama ini lo mencintai gue karena lo tau gue anak orang kaya. Tapi setelah lo tau sekarang yang terjadi. Lo pergi meninggalkan gue. Dimana janji lo yang dulu. Apapun yang terjadi,kita akan selalu bersama. Tapi kenyataannya semua hanya palsu. Gue kecewa sama lo,Fer." ucap Fani dalam hati. Tanpa di sadari air matanya mengalir di kedua pipinya.


"Fan. Lo kenapa?" tanya Defan sambil menepuk bahu Fani.


"Eh. Gue engga apa-apa kok." jawab Fani sambil mengusap air matanya.


"Yakin lo engga apa-apa?" tanya Defan memastikan.


"Iya. Gue engga apa-apa." jawab Fani sambil tersenyum.


"Ingat ya. Klo ada apa-apa,lo cerita ke gue. Jangan lo pendam sendiri." ucap Defan.


"Siap pak bos." ucap Fani sambil memberi hormat pada Defan. Defan di buat tertawa oleh kelakuan Fani.


"Yaudah turun. Udah sampe tuh." ucap Defan.


"Eh. Iya,udah sampe. Hehehe baru sadar gue." kata Fani.


"Makanya lo jangan kebanyakan ngelamun. Asal lo tau nih ya. Kemarin ikan tetangga gue kebanyakan ngelamun. Besoknya tuh ikan mati." jelas Defan.


"Mana ada. Engga usah ngadi-ngadi lo." sungut Fani.


"Hahaha. Yaudah sono entar kerjanya telat." kata Defan.


"Oke deh. Sekali lagi makasih banyak ya." ucap Fani yang langsung keluar dari mobil.


"Lo adalah wanita terhebat yang gue kenal. Semoga lo bisa melewati semua itu." ucap Defan sambil menatap kepergian Fani.


๐ŸŒท ๐ŸŒท ๐ŸŒท


Sudah hampir sebulan sejak kejadian di parkiran sekolah. Fero dan Fani tidak lagi terlihat bersama. Mereka seperti orang asing. Hal itu mengundang kecurigaan para sahabatnya.


"Fan.!!" panggil Mia.


"Apa." ucap Fani cuek yang masih menikmati makanannya.


"Lo lagi ada masalah sama Fero?" tanya Mia.


"Engga." jawab Fani singkat.


"Apa mungkin lo sakit?" tanya Mia sambil menyentuh kening Fani.


"Lo apaan sih. Gue sehat begini di bilang sakit. Lo kali tuh yang sakit." sungut Fani.


"Kalian liat deh." ucap Mia sambil menunjuk ke arah Fero yang sedang berbicara dan duduk berdekatan dengan cewek.


"Biasanya lo selalu marah klo liat si Fero dekat-dekat sama cewek lain. Kenapa akhir-akhir ini gue perhatikan. Lo cuek aja liat itu." jelas Mia.


"Gue harus apa,Mi? Klo boleh jujur. Gue sangat ingin marah. Bahkan gue mau maki-maki tuh cewek. Tapi gue sadar,klo gue udah engga pantas bersikap posesif ke dia lagi." kata Fani dalam hati sambil melihat kedekatan Fero dengan cewek itu. Seketika itu Fero juga melihat dirinya. Mereka sempat bertatapan tapi Fani langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Mia,pesanan gue mana? Kok lama banget." kata Jani mengalihkan pembicaraan mereka.


"Eh. Emang lo pesan apaan?" tanya Mia bingung.


"Tadi dia pesan bakso. Jangan bilang klo lo lupa pesan." tebak Vina.


"Masa sih? Hehehe sorry gue lupa." kata Mia merasa bersalah.


Jani memutar kedua bola matanya malas. Lalu berdiri dan meninggalkan mereka.


"Jani. Lo mau kemana?" tanya Mia dengan suara cemprengnya.


"Balik ke kelas." jawab Jani.


"Ngambekan anak orang. Gue juga mau balik ke kelas." ucap Fani dan menyusul Jani.


Mereka pun meninggalkan kantin sekolah dan kembali ke kelasnya.


๐ŸŒน Di Koridor Sekolah ๐ŸŒน


Saat Fani ingin ke toilet. Ia berpapasan dengan Fero.


"Fer. Apa bisa kita bicara sebentar?" tanya Fani.


"Sorry. Gue sibuk." jawab Fero cuek.


"Sebentar aja,Fer. Gue cuma mau jelasin kesalah fahaman ini." pinta Fani.


"Apa lagi yang harus lo jelaskan ke gue. Menurut gue semua itu udah sangat jelas. Ternyata selama ini gue salah menilai lo. Lo sama aja dengan wanita di luar sana. Lo mau pacaran sama gue cuma karena gue anak orang kaya." kata Fero sinis.


"Apa maksud lo?" tanya Fani marah karena mendengar ucapan Fero yang menilai dirinya seperti itu.


Fero melangkah mendekati Fani. "Lo sama seperti mereka yang hanya mengincar harta gw. Mulai sekarang jangan pernah lo ganggu hidup gue." bisik Fero tepat di telinga Fani. Sebelum Fero melangkah pergi. Fani mencekal lengan Fero.


"Lo salah faham,Fer. Tolong dengar penjelasan gue dulu!" kata Fani dengan nada memohon.


"Gue ngga butuh penjelasan dari lo lagi."


"kata Fero sambil menghempaskan tangannya yang di pegang Fani dan berlalu pergi meninggalkan Fani.


"Lo salah faham,Fer." gumam Fani sambil menghapus air mata yang jatuh di kedua pipinya dan menatap ke pergian Fero. Sampai bayangan Fero menghilang dari penglihatannya.


๐ŸŒน Di Parkiran Sekolah ๐ŸŒน


"Juna!!" panggil Puput.


"Ada apa?" tanya Juna.


"Malam ini Juna ada acara ngga?"


"Keynya ngga. Kenapa?"


"Puput punya dua tiket nonton. Juna mau ya temani Puput nonton!" kata Puput sambil menunjukan dua tiket di tangannya.


"Boleh. Nanti lo kabarin gue aja ketemuan dimana."


"Oke deh."


"Yaudah klo gitu gue duluan!"


"Hati-hati di jalan." ucap Puput tersenyum dan di balas Juna tersenyum manis pada Puput.


Puput sangat bahagia karena cowok yang selama ini dia cintai. Mau menonton berdua dengan dirinya.